MENGENAL PRIA DAN WANITA DI MASA DATANG ADALAH – Kita dapat sepakat dengan Martin dan Voorhies ketika mereka mengemukakan bahwa “keeenderungan utama laki-laki dan wanita di masa datang, seperti yang kita lihat, ialah bahwa peranan jenis kelamin akan menjadi semakin tidak penting” (1975:406). Kapitalisme dan industrialisme telah membawa wanita ke dalam proses produksi, dan dapat diantisipasi bahwa perubahan-perubahan teknologi dan ekonomi di masa datang akan meneruskan kecenderungan ini. Karena wanita semakin berpartisipasi secara kuat dalam semakin banyak aspek proses produksi, maka status mereka meningkat; mereka mulai kurang dipandang sebagai penjaga rumah tangga dan mulai menjadi lebih sebagai person yang bebas. Akan tetapi, untuk mendesak bahwa peranan jenis kelamin akan men-jadi semakin tidak penting bukan berarti peranan-peranan itu akan hilang sama sekali. Agar hal ini dapat terjadi, teknologi harus maju sampai kepada titik yang dapat menerima fungsi reproduksi kaum wanita. Malahpun pada waktu itu masih sangat diragukan bahwa peranan-peranan jenis-jenis kelamin akan lenyap seluruhnya. Penandasan ini bertumpu pada pandangan tentang pentingnya perbedaan biologi di antara jenis-jenis kelamin itu, perbedaanperbedaan yang hanya evolusi biologi selanjutnya, dan bukan teknologi yang rumit, yang dapat menghapuskannya. Karena tidak dapat diharapkan akan adanya evolusi spesies manusia yang demikian itu di masa datang (meskipun dalam jangka panjang), maka perbedaan-perbedaan itu akan tetap ada. Dan jika perbedaan-perbedaan ikut membantu sifat peranan jenis kelamin manusia, sebagaimana yang ditunjukkan oleh bukti yang ada, maka jenis kelamin ikan terus memainkan peranan, sekurang-kurangnya sebagian, di dalam sistem sosial-budaya masa datang.

1. Semua masyarakat manusia mempunyai pembagian kerja menurut jenis kelamin dan ketidaksamaan menurut jenis kelamin. Pria cenderung mendapat pekerjaan yang melibatkan kekuatan fisik yang lebih besar dan bahaya, latihan teknik yang lebih banyak, dan lebih sering ke h3ar rumah. Kaum wanita lebih cenderung mendapat peranan yang lebih bersifat pengulangan dan memerlukan lebih sedikit konsentrasi. Ketidaksamaan ini secara universal lebih menguntungkan laki-laki.Hal ini terbukti di dalam pranata-pranata politik dan keluarga masyarakat dalam superstruktur ideologis me•eka, dan dalam sejumlah aspek lainnya dalam interaksi harian kaum pria dan wanita.

2. Variasi-variasi di dalam pola-pola peranan jenis kelamin di kalangan masyarnkat juga penting. Masyarakat pernburu-peramu lebih mendekati suatu kondisi kesamaan atas dasar jenis kelamin dibandingkan dengan tipe masyarakat lainnya. Wanita sering mempunyai otoritas dan otonomi yang lebih besar di dalam masyarakat demikian, dan tidak terdapat kepercayaan yang kuat tentang rendahnya status wanita.

3. Para hortikulturalis sangat berbeda dalam memberikan status kepada wanita. Dalam beberapa kelompok hortikulturalis, seperti Iroquois, kaum wanita mendapat status yang sangat tinggi dan otoritas yang besar. Dalam masyarakat lainnya, seperti Yanomamo, kaum wanita disubordinasikan secara intensif dan tertimpa perlakuan fisik yang berlebihan. Variasi-variasi dalam pola-pola peranan jenis kelamin hortikultur banyak berkaitan dengan struktur kekerabatan.

4. Di dalam masyarakat agrarislah status kaum wanita paling rendah. Masyarakat-masyarakat itu dikenal dengan dikhotomi dalam-luar yang keras. Kaum pria cenderung untuk mendominasi semua kegiatan di luar rumah tangga, sementara kaum wanita sebagian besar dibatasi pada kehidupan yang diorientasikan sekitar rumah tangga. Dalam kebanyakan masyarakat agraris kaum wanita dipandang sebagai tanggungan pria. Di dalam masyarakat-masyarakat demikian terdapat kepercayaan yang kuat mengenai inferioritas jenis kelamin wanita yang inheren.

5. Kapitalisme dan industrialisme dalam banyak hal telah membebaskan kaum wanita dari subordinasi yang ekstrim yang mereka alami dalam era agraria. Kaum wanita sekarang telah mendapat otonomi yang jauh lebih besar dan dipandang jauh lebih tinggi. Dalam dekade-dekade terakhir ini kaum wanita telah menduduki posisiposisi yangsemakin pentingdalam dunia kerja, dan mereka malah telah mencapai akses yang lebih besar ke profesi-profesi terpelajar. Akan tetapi, dimensi-dimensi penting ketidaksetaraan jenis kelamin masih tetap ada. Posisi kaum wanita yang tinggi di dalam masyarakat sosialis negara telah dibesar-besarkan. Dalam beberapa hal posisi kaum wanita dalam masyarakat demikiansesungguhnya kurang menguntungkanbila diban dingkan dengan posisi mereka dalam kapitalisme industri.

digarisbawahi pada penjelasan tentang faktor biologi manusia memegang peran di dalam hubungan antara perempuan, bahwa hal ini tidak sepantasnya dipakai sebagai pembenaran pada setiap pola ketidaksetaraan seksual. Ada perbedaan besar antara analisis ilmiah yang mengedepankan situasi manusiawi dan pengesahan mclral pada situasi tersebuL Lebih jauh bahkan sampai batas tertentu biologi dilibatkan secara berarti ke dalam beberapa aspek pola peranan-seks, seperti dikatakan oleh sejumlah ahli sosial, “anatomi bukanlah nasib”.

6. Sulit untuk menggeneralisasi status kaum wanita di negara-negara Dunia Ketiga, tetapi pada umumnya kaum wanita agaknya mempunyai status yang sangat rendah. Lagi pula, mereka lebih terpengaruh, bila dibandingkan dengan kaum pria, oleh beban hidup ekonomi dalam masyarakat demikian.

7. Para ilmuwan sosial telah mengajukanbanyak teori mengenai ketidaksetaraan jenis kelamin. Yang paling penting dari teori-teori itu adalah teori-teori sosiobiologi, materialis, politik, dan feminis.

Filed under : Bikers Pintar,