Advertisement

MENGENAL PROPINSI KALIMANTAN TIMUR – Salah satu dari empat propinsi di Kalimantan Indonesia. Secara geo­grafis propinsi ini berbatasan dengan Serawak (Ma­laysia Timur) di barat dan utara, Propinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah di selatan, Selat Ma­kasar dan Laut Sulawesi di timur. Luasnya sekitar 11,09 persen luas daratan Indonesia. Wilayah ini ter­bagi atas 6 daerah tingkat II (4 kabupaten dan 2 kota madia) dan 1 kota administratif (Kotip Tarakan), yang meliputi 71 kecamatan dan 1.087 desa.

Penduduk propinsi ini secara garis besar dapat di­bagi dalam dua kelompok, yaitu (1) kelompok suku bangsa Melayu (Melayu Muda) dan (2) kelompok su­ku bangsa Dayak (Melayu Tua).

Advertisement

Kelompok suku bangsa Melayu tinggal di daerah pesisir pantai dan daerah sepanjang tepi sungai. Ter­masuk dalam kelompok suku bangsa ini antara lain suku bangsa Bulungan, Tidung, Berau, Bayau, dan Kutai. Suku bangsa Melayu, yang datang belakangan, meliputi suku bangsa Banjar dan Bugis. Bermukim­nya suku bangsa Banjar di propinsi ini pertama kali pada waktu Kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di ba­wah kekuasaan Kerajaan Banjar. Selanjutnya pada waktu pemerintahan Hindia Belanda, banyak pendu­duk Kalimantan Selatan mengungsi ke Kalimantan Timur. Kedatangan suku bangsa Bugis di Kalimantan Timur terdorong oleh sifat suka merantau mereka se­bagai pelaut.

Suku bangsa Dayak merupakan penduouk asli. Me­reka terdiri atas beberapa rumpun suku bangsa yang tersebar di seluruh Pulau Kalimantan. Agama asli me­reka ialah agama Kaharingan. Penganut agama ini Percaya kepada arwah nenek moyang serta kekuatan gaib yang menguasai alam. Suasana religius-magis sangat menguji suku bangsa Dayak, sehingga mere­ka sangat ditakuti masyarakat lain. Salah satu tradisi yang cukup ditakuti ialah mengayau atau mencari dan roemotong kepala manusia. Tradisi mengayau terse­but antara lain bertujuan untuk (1) melindungi suku atau kampung dari pengaruh jahat, (2) mendapat tam­bahan daya rohaniah, (3) membalas dendam, dan (4) tindakan kepahlawanan.

Di masa silam, suku bangsa Dayak Kalimantan ju­ga pernah mempunyai sejarah gemilang. Dalam bebe­rapa nyanyian dan cerita tradisional Dayak Maanyan, diceritakan bahwa mereka pernah mengalami jaman keemasan dan pemerintahan kerajaan sendiri yang meliputi daerah sangat luas, yaitu seluruh Barito Ti­mur sampai ke Kabupaten Pasir. Kerajaan yang ber­nama Nan Sarunai itu kemudian runtuh akibat penyerbuan laskar Kerajaan Majapahit. Jumlah penduduk Kalimantan Timur masih sedikit bila dibandingkan dengan luas propinsi. Penye­barannya pun tidak merata.

 

Upacara Adat Suku Bangsa Dayak.

Kelompok suku bangsa ini umumnya mengenal dua upacara adat setiap tahun, yaitu pesta adat menanam padi di ladang dan pesta adat sesudah musim menuai. Bagi tiap ke­lompok, pelaksanaan pesta ini agak berbeda adat ter­sebut. Namun semua mempunyai tujuan yang sama, yaitu meminta perlindungan serta menyatakan rasa syukur kepada roh-roh baik yang menjadi nenek mo­yang dan Tuhan mereka.

Pada suku bangsa Dayak Kenyah, pesta menanam padi disebut hudoq, sedangkan pesta menuai disebut erau paray (pesta padi). Pada masyarakat Dayak Banau, pesta padi disebut dangei; yang lamanya 10 hari. Pada saat itu, mereka berpesta pora dan makan seke­nyang-kenyangnya, karena tiap rumah menyediakan makanan dan minuman (tuak). Menjelang ber­akhirnya pesta ini, anak-anak muda dan para gadis sa­ling siram-menyiram dengan air lumpur.

Pada suku bangsa Dayak Tanjung dan Benuaq upa­cara adat yang terpenting adalah membuang bangkai atau menanam tulang, yang disebut kwangkai. Upaca­ra ini berlangsung 10 hari. Dalam upacara itu, dilaku­kan pemujaan terhadap Dewata (Nuyah-nuyah) dan dipersembahkan pula sesajen. Bersamaan dengan itu dilangsungkan upacara adat belontang, yaitu mem­persembahkan kerbau dengan cara mengikatnya pada sebuah patung belontang (patung berbentuk tonggak) dan kemudian secara beramai-ramai menombaki ker­bau tersebut.

Upacara adat lain pada suku bangsa Dayak pada umumnya ialah ngugu tahun yang’berarti memelihara tahun. Upacara ini lebih sering dilakikan masyarakat Dayak Dangei dan Dayak Bahau. Pada masyarakat Melayu upacara ini disebut pelas tahuh.

Kesenian.

Propinsi ini mengenal kesfcflian Melayu dan Dayak. Di kalangan masyarakat Mblayu seperti Kutai dan Banjar, dikenal sem&cam tari pergaulan yang disebut Tari Jepen. Tari ini diperkirakan berusia cukup tua, serta merupakan kesenian khas Melayu yang telah dipengaruhi kesenian Arab (Islam). Di samping itu, terdapat juga tari-tarian seperti Tari Te­nun Sarung, Tari Anyam Tikar, Tari Topeng, Tari Ganjur, dan joget yang dibawakan gadis-gadis bang­sawan (tarian khas istana Bulungan).

Penduduk suku bangsa Melayu di Kutai dan Banjar mengenal pula seni panggung yang dinamakan Ma- manda (seperti kesenian lenong Betawi).

Suku bangsa Dayak mempunyai beberapa jenis ta­rian. Tari Kancet Pepatai (tari perang) merupakan modifikasi Tari Mandau dan Telabang (Kelbit). Ka­rena berasal dari suku bangsa Dayak Kenyah, tarian ini disebut juga Tari Kenyah. Tari Kandet Ledo ada­lah tarian wanita yang menggambarkan kelemahlem­butan seorang wanita; Tari Datun merupakan ciptaan raja suku bangsa Dayak Kenyah, yakni Nyik Selung. Tarian populer untuk menyambut tamu meliputi Tari Leleng, Pegayang, Sampek, Hudoq, dan G antar. Tari adat kematian suku bangsa Dayak Tanjung dan Be­nuaq ialah Tari Giring-giring dan Tari N g erang kau. Tari Belian, yang bersifat mistis dan magis, umumnya ditarikan para dukun.

Hasil kerajinan rakyat meliputi gedokan (tenunan tangan), ta’ah (kain wanita Dayak), mandau, perisai (kelbit), tombak, sipet (sumpit), seraung (topi suku bangsa Dayak), belanyat (semacam tas ransel), to­peng hudoq (topeng kayu), patung belontang, patung penolak bala, patung penangkal penyakit.

Sejarah.

Dalam periode sejak abad pertama hingga ke-15, di Kutai, Kalimantan Timur, telah terdapat 2 kerajaan, yaitu Kerajaan Kutai Martapura dan Keraja­an Kutai Kertanegara. Pemerintahan Kutai Martapura berlangsung 13 abad, yaitu dari abad ke-4 hingga 17. Menjelang abad ke-14, berdiri pula Kerajaan Kutai Kertanegara di tepian Batu ke arah hilir. Persaingan dan peperangan terjadi berkali-kali antara kedua kera­jaan tersebut dan akhirnya pada awal abad ke-17 Ke­rajaan Kutai Martapura dikalahkan oleh Kerajaan Kutai Kertanegara. Sejak itu, Kutai Martapura disatu­kan di bawah kekuasaan Kutai Kertanegara.

Pada tahun 1900 hingga 1942, seluruh Kalimantan Timur terbagi atas beberapa kerajaan. Yang terluas dan terbesar ialah Kutai Kertanegara, diikuti Bulo- ngan, Tidung, (di bagian utara, bferbatasan dengan Ka­limantan Utara milik Serawak), ‘Sapibaliung (di tepi Sungai Kelay), dan Gunung Tabur Odi Sungai Segah). Semula Pasir pun merupakan sebuah kerajaan, tetapi kemudian statusnya sebagai kerajaan dihapuskan.

Secara berurutan kerajaan tepebut di atas masing- masing beribu kota Tenggarong, Tanjung Palas, Ma­linau, Sambaliung, Gunung Tabur. Dalam struktur organisasi pemerintah Hindia Be­landa, Kalimantan Timur merupakan Oosterafdeling van de Residentie Zuid en Oost Borneo. Kepalanya seorang residen yang berkedudukan di Banjarmasin (sekarang Kalsel). Sebagai wakilnya di Kalimantan Timur ditempatkan 2 asisten residen yang masing- masing berkedudukan di Samarinda dan Tarakan. Asisten residen di Samarinda membawahi 2 onderaf- deling masing-masing di Kutai dan Pasir. Asisten re­siden di Tarakan membawahi 2 onderafdeling, yaitu Bulongan en Tidung Landen serta Berau (yang me­liputi Kerajaan Sambaliung dan Gunung Tabur). Ke­pala setiap afdeling adalah kontrolir yang berke­dudukan di ibu kotanya masing-masing. Kontrolir Kutai berkedudukan di Tenggarong, kontrolir Bulongan dan Tanah Tidung di Tanjung Selor, kon­trolir Berau di Tanjung Redeb, dan kontrolir Pasir di Tanah Grogot.

Samarinda dan Long Iram merupakan daerah yang secara langsung diperintah oleh Belanda, dan dinama­kan rechstreeks bestuur gouvernement gebied. Sama­rinda dikepalai seorang kontrolir yang disebut juga hoofd van plaatselijk bestuur sedangkan controleur untuk Long Iram disebut juga gezaghebber karena di tempat tersebut terdapat garnisun kekuatan KNIL yang cukup besar.

Pada jaman pendudukan Jepang, pemerintahan mi­liter Jepang di Kalimantan Timur adalah Kaigun (ang­katan laut). Pusat kedudukan tertingginya di Balikpapan.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Kali­mantan Timur dimasuki tentara Sekutu pada Septem­ber 1945. Mereka menduduki Samarinda serta me­lucuti serdadu Jepang. Bersamaan dengan itu tentara Belanda (NICA) ikut membonceng. Setelah Sekutu meninggalkan Samarinda pada pertengahan bulan Desember 1945, NICA berhasil membangun kembali pemerintahan di Kalimantan Timur.

Pada bulan Januari 1946, Kalimantan Timur olehi Belanda dibentuk menjadi keresidenan yang berkedudukan di Samarinda. Kota yang semula langsung di­perintah oleh gubememen ini dikembalikan kepada Kerajaan Kutai, yang disebut swapraja.

Tahun 1947 Kalimantan Timur dijadikan daerah federasi. Pemerintahannya dipegang oleh Dewan Ga­bungan Kesultanan Kalimantan Timur. Ke dalam fe­derasi ini dimasukkan daerah Pasir yang diberi status neo-swapraja. Swapraja Kutai, Bulongan, Samba­liung, dan Gunung Tabur dalam Dewan Gabungan Kesultanan diwakili oleh sultannya masing-masing. Sebaliknya neo-Pasir diwakili kontrolir Belanda. Un­tuk menjalankan pemerintahan sehari-hari, dibentuk bestuurcollege.

Kalimantan Timur dijadikan satuan ketatanegaraan yang berdiri sendiri dilengkapi dengan badan legisla­tif. Anggota badan ini merupakan anggota Dewan Ka­limantan Timur yang diambil dari keempat swapraja dan neo-swapraja.

Sebagian besar rakyat Kalimantan Timur meng­anggap pemerintahan Dewan Gabungan Kesultanan itu sebagai pemerintahan boneka yang didalangi Be­landa. Akibatnya rakyat tetap menghendaki peng­gabungannya dengan republik. Namun Federasi Kalimantan Timur tetap dipertahankan sesudah ter­bentuknya Republik Indonesia Serikat. Tak lama se­telah terbentuknya RIS, di kalangan rakyat terutama di Kutai, khususnya Samarinda dan Balikpapan, di­lancarkan tuntutan agar swapraja di Kalimantan Ti­mur dihapuskan.

Dewan Kalimantan Timur, bikinan Belanda, masih tetap berfungsi sampai sesudah pengakuan kedau­latan. Dalam bulan Februari 1950, dikeluarkan mosi agar segera dilakukan penggabungan Kalimantan Ti­mur dengan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Dewan Gabungan Kesultanan Kaliman­tan Timur, sebagai badan pemerintah tertinggi, malah memperkuat tuntutan itu pada bulan Maret 1950.

DPR RIS pada bulan Maret 1950 menyetujui peng­gabungan beberapa daerah bagian RIS, termasuk Ka­limantan Timur, ke dalam RI. Setelah itu, keluar keputusan presiden tentang penggabungan Kaliman­tan Timur dengan RI. Upacara resmi serah terima penggabungan Kalimantan Umur ke dalam RI, tang­gal 10 April 1950, dilangsungkan di Samarinda. Kali­mantan Timur merupakan daerah pertama di luar Jawa dan Sumatra yang secara de facto dan de jure bergabung dengan RI Yogyakarta.

Wilayah kerajaan tetap dalam statusnya sebagai daerah swapraja, dengan sultannya sebagai kepala daerah. Hanya sebutannya berubah menjadi daerah istimewa, sedangkan kepala daerahnya (sultan) dise­but kepala daerah istimewa. Kesultanan Sembalung dan Gunung Tabur, yang hanya merupakan swapraja kecil, dibentuk menjadi satu daerah istimewa yang bernama Berau. Daerah Pasir, yang pada jaman Fede­rasi Kalimantan Timur oleh Belanda dibentuk menja­di neo-swapraja, ditarik dari wilayah hukum Kali­mantan Timur dan digabungkan dengan Kalimantan Selatan. Tindakan ini dilakukan segera setelah peng­gabungan Kalimantan Timur dengan RI.

Setelah terbentuknya Kalimantan Timur sebagai keresidenan RI Yogyakarta, wilayah ini kemudian ter­lebur dalam negara kesatuan. Ketika itu terdapat tiga daerah tingkat II yang bertatus istimewa sehingga di­sebut daerah istimewa tingkat kabupaten. Sebagai daerah keresidenan, Kalimantan Timur merupakan bagian dari Kalimantan yang berpusat di Banjarma­sin, Kalimantan Selatan.

Tahun 1954, di Samarinda dilangsungkan kongres rakyat yang menuntut pembentukan Propinsi Kali­mantan Timur. Tuntutan itu akhirnya terpenuhi de­ngan dikeluarkannya Undang-undang No.25 tahun 1956 tentang pembentukan propinsi otonom Kali­mantan Selatan, Barat, dan Timur (Propinsi Kaliman­tan Tengah terbentuk kemudian, sebagai pecahan Propinsi Kalimantan Selatan). Kalimantan Timur res­mi menjadi propinsi tanggal 1 Januari 1957.

Pada saat terbentuk sebagai propinsi, terdapat tiga daerah tingkat II yang berstatus istimewa, yaitu Dae­rah Istimewa Kutai, Bulongan, dan Berau.

Berdasarkan Undang-undang No. 27 tahun 1959, status istimewa dihapus dan diganti dengan kabupaten daerah tingkat II biasa. Bekas daerah istimewa Kutai dipecah menjadi 3 daerah tingkat II, yaitu Kabupaten Kutai, Kota Madia Samarinda, dan Kota Madia Balik­papan. Pasir, yang sebelumnya menjadi bagian inte­gral Kalimantan Selatan, dimasukkan lagi ke Kalimantan Timur sebagai kabupaten baru. Dengan demikian undang-undang baru ini menjebabkan Pro­pinsi Kalimantan Timur terbagi atas enam daerah tingkat II, yang terdiri atas 4 kabupaten dan 2 kota madia (mulanya disebut kota praja).

Incoming search terms:

  • definisi kaltim
  • definisi tentang kalimantan timur
  • devinisi provinsi kalimantan timur
  • keterangan provinsi kaltim
  • Mengenal kalimantan timur
  • Mengenal kalimntan timut
  • penjelasan singkat mengenai pemerintahan di kaltim
  • upacara adat kaltim
  • wanita yang merantau ke kalimantan timur menjadi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • definisi kaltim
  • definisi tentang kalimantan timur
  • devinisi provinsi kalimantan timur
  • keterangan provinsi kaltim
  • Mengenal kalimantan timur
  • Mengenal kalimntan timut
  • penjelasan singkat mengenai pemerintahan di kaltim
  • upacara adat kaltim
  • wanita yang merantau ke kalimantan timur menjadi