Advertisement

Proses penuaan acapkali berbaur dengan berbagai faktor lain yang terkait, seperti turunnya kesehatan fisik, berkurangnya pengaruh gizi, kematian, terputusnya hubungan sosial, dan depresi, yang juga mempengaruhi kemampuan- kemampuan mental sedemikian rupa sehingga para peneliti sulit untuk memisahkan dan membedakannya dengan efek-efek penuaan.Proporsi orang tua berusia lanjut dalam populasi di negara-negara barat senantiasa meningkat dan diperkirakan mencapai 13 persen menjelang akhir abad dua-puluh. Maka, pemahaman mengenai jenis-jenis perubahan dalam proses kognitif dan kemampuan mental yang menyertai proses penuaan alamiah menjadi penting bagi banyak aspek kebijakan sosial, seperti tentang batas umur yang cocok untuk pensiun, hak atas perumahan yang pantas bagi orang-orang lanjut usia dan kebutuhan akan layanan-layanan lainnya.  Lagi-pula, menurunnya kinerja tubuh juga turut melemahkan kemampuan sensorik yang menimbulkan kecemasan atau menghilangkan motivasi dalam kadar yang lebih parah ketimbang yang disebabkan oleh menurunnya kemampuan mental. Banyak kemampuan mental yang berkait erat dengan proses penuaan, tetapi ada juga yang tidak berkaitan langsung. Menurut Rabb (1993), tidak benar ungkapan yang mengatakan ‘segalanya pun berlalu ketika usia menyusut’. Tiap- tiap jenis kemampuan menunjukkan laju dan pola penurunan yang tidak sama. Lagi pula, perbedaan antara tiap individu juga cenderung meningkat pada populasi lanjut usia. Hampir semua individu mulai memperlihatkan penurunan kemampuan mental pada pertengahan usia enampuluh; sebagian bahkan mengalami penurunan secara lebih dini dan lebih parah; dan kira- kira hanya 10 persen orang lanjut usia, yang sering disebut ‘manula super’, yang mampu mempertahankan kemampuan mentalnya sampai usia lanjut. Tes psikometrik model lama meng-adakan pembedaan usia dalam standar-standar tes intelejensinya. Konsekuensinya, tercipta pula pembedaan antara intelejensi yang bersifat ter- kristai (tidak tergantung umur) dan intelejensi yang cair (sensitif terhadap perubahan usia). Hasil tes yang mengukur kemampuan intelektual seperti kosa kata, kemampuan verbal, dan pengetahuan umum (semuanya mencerminkan intelejensi terkristal) tidak begitu terpengaruh oleh usia. Sedangkan hasil tes-tes yang mengukur proses mental seperti kecepatan dan ketepatan memanipulasi informasi, misalnya lewat tes penelusuran deretan angka dan penjumlahan serta penguraian simbol-digital, yang mencerminkan intelejensi cair, sangat terpengaruh usia. Kemampuan ini umumnya menurun bersama dengan bertambahnya usia. Namun demikian, pola penurunan itu tidaklah seragam. Hubungan antara kronologi usia dan kemampuan memori tidak mesti sama dengan hubungan antara usia dan kecepatan mengolah informasi. Pola-pola yang rumit ini menimbulkan kesulitan bagi para teoritisi seperti Salthouse (1992) yang mencoba menjadikan penurunan tersebut sebagai faktor tunggal yang umum, yakni ‘pelambatan umum’ (general slowing). Teknik-teknik eksperimen tidak hanya berurusan dengan hal-hal yang berkaitan langsung dengan proses penuaan, melainkan juga dengan berbagai tahap atau proses yang mempengaruhi tiap unsur. Sebagai contoh, studi-studi eksperimental tentang memori menunjukkan bahwa tahap-tahap pemanggilan kembali memori lebih berpengaruh ketimbang tahap penyaringan dan penyimpanannya, dan memori ‘jangka-pendek’ lebih lemah dibanding memori jangka panjang. Memori semantik, yang menyimpan pengetahuan umum, sifatnya stabil, sementara memori episodik, yang merekam pengalaman dan peristiwa, lebih gampang hilang. Perbedaan usia tampak lebih nyata pada pelaksanaan tugas-tugas tidak familiar (non-rutin) yang menuntut pengerahan perhatian secara sadar. Terungkap pula bahwa perbedaan itu meningkat secara linier menurut kompleksitas tugas tersebut.

Sejak pertengahan 1980-an banyak ahli riset yang mengalihkan perhatian mereka kepada studi sistematis tentang efek-efek penuaan kognitif terhadap kemampuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memakai kuesioner, observasi dan pengalaman alamiah yang menirukan situasi-situasi sehari-hari, masalah-masalah praktis yang lazim diderita orang dapat diiden-tifikasikan (Cohen 1993) dan, dalam sebagian kasus, terapi-terapi pemulihan juga bisa dibuat. Sebagai misal, para manula cenderung mendapat kesulitan dalam mengingat nama-nama atau untuk mengingat apa yang harus dilakukan, dan juga mengingat apakah suatu tindakan, seperti meminum obat, sudah dilaksankan atau baru direncanakan. Memori tentang lokasi benda-benda dan rute-rute yang baru juga berkurang. Memori akan rincian-rincian teks dan percakapan juga menjadi kurang efisien, dan memon tentang sumber informasi (siapa mengatakan apa) juga cenderung memburuk. Kemampuan-kemampuan yang menuntut kecepatan pengolahan informasi dari berbagai sumber, seperti menyetir mobil, juga sangat menurun. Akar, tetapi, para manula acapkali mengembangkan strategi-strategi pengimbang yang cukup efektif untuk mengatasi masalah-masalah semacam itu. misalnya dengan memanfaatkan alat-alat bantu tambahan, mengubah gaya hidup dan menjalankan aktivitas dan mencurahkan minat paca hal-hal yang lebih terseleksi. Kendati efek-efek kognitif telah disusun dalam katalog-katalog yang cukup rinci, masih banyak yang harus dikerjakan untuk mengembangkan kerangka konseptual yang lebih menyeluruh untuk memetakan perubahan-perubahan kognitif yang terjadi pada simpul-simpul neuro-fisioiogikal dalam otak yang menua.

Advertisement

Advertisement