Advertisement

Raja Kerajaan Medang di Jawa Tengah, memerintah sejak tahun 929 hingga 948. Nama lengkapnya Pu Sindok Sri Isyanawikrama. Gelar Sri mengisyaratkan bahwa ia termasuk golongan bangsawan. Ia naik takhta kerajaan menggantikan Raja Wawa. Seorang ahli geologi, R.W. van Bammelen, memperkirakan bahwa pemerintahan Wawa berakhir karena bencana alam, yakni meletusnya Gunung Merapi. Bencana ini menghancurkan keraton. Pu Sindok menjabat pangkat tinggi dalam dua pemerintahan sebelumnya. Pada masa pemerintahan Tulodhong, ia menjabat rakryan mapatih i halu. Setelah berhasil menggulingkan pemerintahan Tulodhong, Wawa mengangkat Pu Sindok sebagai rakryan mapatih i hino.

Mengenai silsilah keluarga, teori Stutterheim menyatakan bahwa Pu Sindok adalah cucu Raja Dak- sa. Ahli lain, Moens, sependapat dengan teori ini. Bahkan lebih jauh, beberapa ahli menduga bahwa Pu Sindok merupakan keturunan seorang raja dan mempunyai hak atas takhta kerajaan. Namun hingga saat ini belum ada bukti yang menyakinkan bahwa Pu Sindok adalah anak Sri Ketudhara dan Ketudhara adalah anak Daksa.

Advertisement

Bukti-bukti sejarah yang telah ditemukan menegaskan bahwa naiknya Pu Sindok di takhta kerajaan ditandai dengan perpindahan pusat kerajaan ke Watu- galuh, yakni daerah di antara Gunung Semeru dan Gunung Wilis. Meskipun demikian, Pu Sindok tidak mau melepaskan hubungan dengan raja-raja Kerajaan Medang. Selain itu, naiknya Pu Sindok ke puncak takhta kerajaan juga ditandai kemunduran bangunan- bangunan di Jawa Tengah yang memperlihatkan bahwa riwayat kekuasaan keluarga Sanjaya dan Jawa Tengah sebagai pusat kekuasaan mulai surut. Kekuasaan berpindah ke tangan keluarga Isyana.

Ketika mulai memegang puncak kekuasaan, Pu Sindok tidak menggunakan gelar maharaja, tetapi menyebut dirinya Rakryan Sri Mahanatri Pu Sindok sang Srisanottunggadewa. Hal ini bagi para ahli sejarah dianggap sebagai suatu kemewahan. Karena itu, mereka memperkirakan bahwa Pu Sindok bisa naik ke puncak takhta kerajaan karena perkawinannya dengan anak Raja Wawa. Setelah menikah, baru Pu Sindok menggunakan gelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Isaenawikramadharmmottunggadewa. Istrinya putri seorang pegawai tinggi kerajaan yang bernama Rakryan Bawang. Istri inilah yang membantu Pu Sindok menjalankan pemerintahan kerajaan.

Selama pemerintahannya, Pu Sindok mengeluarkan lebih dari 20 prasasti yang menunjukkan bahwa pemerintahannya berjalan dengan aman dan tenteram. Hal ini terlihat dari usaha-usaha sosial yang dilakukannya, antara lain memberikan hadiah-hadiah berupa tanah, dsb. Di bidang sastra, Pu Sindok juga memberikan perhatian besar, misalnya dengan menghimpun kitab suci agama Budha Tantrayana, meskipun ia sendiri beragama Hindu. Setelah Pu Sindok wafat, anak perempuannya yang bernama Isyanatu- ngavijaya menggantikan kedudukannya memegang takhta kerajaan. Putri ini kawin dengan Lokapala dan mempunyai anak bernama Makutavamsyavardhana, yang kelak menggantikan ibunya naik takhta Kerajaan Medang.

Advertisement