Advertisement

MENGENAL RADEN PATAH – Atau Raden Fatah, adalah raja Demak yang pertama. Ia adalah putra Prabu Kerta- bhuini Brawijaya V yang memerintah Kerajaan Majapahit tahun 1468-1478. Berbeda dengan ayahnya yang menganut agama Hindu-Siwa, Raden Patah menganut agama Islam.

Ada beberapa hal yang mempengaruhinya untuk keluar dari istana dan memeluk agama Islam. Faktor internnya adalah situasi dalam negeri Majapahit yang tak menentu sejak meninggalnya Hayam Wuruk (1389). Mahkota Majapahit diturunkan kepada menantunya, yakni Wikramawardhana, padahal dari seorang selirnya ia mempunyai putra yang bernama Wirabhumi. Sepeninggal Hayam Wuruk, terjadilah perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Wirabhumi. Pemberontakan Wirabhumi, yang lebih dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, berlangsung dari tahun 1401-1406. Meskipun pemberontakan tersebut dapat ditindas, negara Majapahit mengalami kemunduran hebat di segala bidang. Di mana-mana berkembang kriminalitas, wabah penyakit, kelaparan, dll. Banyak daerah taklukan yang melepaskan diri. Hal ini terus berlanjut sampai pada masa pemerintahan Brawijaya” V,- yang kepemimpinannya masih diincar oleh Girindra Wardhana yano berkuasa di Keling. Hal inilah yang menyebabkan Raden Patah keluar dari kerajaannya untuk menemui kedamaian.

Advertisement

Faktor ekstern yang mempengaruhinya l ialah pe. nyebaran agama Islam. Pada pertengahan abad ke^l5 Malaka mencapai puncaknya sebagai negara perdagangan dan sebagai pusat Islam di Nusantara. Banyak pedagang Jawa (Majapahit) yang mengunjungi Malaka, dan merekalah yang mengenalkan agama Islam Di Jawa, agama itu pertama kali menyebar di daerah pesisir seperti Tuban, Gresik, Surabaya, Jepara. Walaupun pada mulanya daerah tersebut maju karena perdagangan, para penguasa kota itu pun melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Situasi yang demikian menyebabkan Raden Patah berinteraksi dengan orang-orang pesisir sampai akhirnya bertemu dengan tokoh-tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang dikenal dengan sebutan para wali.

Pengenalan Raden Patah pada Islam lebih dalam lagi sejak ia menjadi murid Raden Rahmat, atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ampel. Dalam usahanya mendidik kader-kader muslim yang baik, Raden Rahmat mendirikan pondok pesantren di Ampel- denta dekat Surabaya. Setelah memperoleh pendidikan yang cukup di tempat ini, para sar . i diberi tugas menyebarkan agama Islam di daerah lain di Jawa. Di tempat ini Raden Patah memperoleh pendidikan dan pengetahuan tentang Islam bersama dengan pemuda-pemuda lainnya seperti Raden Paku, yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri; Raden Makdum Ibrahim, putra Sunan Ampel, yang kemu-dian dikenal dengan sebutan Sunan Bonang; Syarifu- din, putra Sunan Ampel, yang nanti disebut Sunan Drajat, dan para pemuda lainnya.

Setelah memperoleh pendidikan keagan. n yang cukup, Raden Patah diserahi tugas oleh Sunan Ampel menyebarkan Islam di suatu daerah yang “rawanya harum” dan membuat permukiman di sana. Sebenarnya keinginan Raden Patah yang utama adalah mengingatkan ayahnya (Brawijaya V) untuk memeluk Islam, namun permintaan ini ditangguhkan oleh Sunan Ampel karena Brawijaya dianggap belum saatnya menganut Islam. Walaupun Brawijaya belum Islam,

R.acen Patah akhirnya menyanggupi perintah Sunan Ampel, lalu mengadakan perjalanan ke “tanah rawa harum” tersebut, diiringi oleh Sultan Palembang /yyadila beserta sekitar 200 tentaranya. Setelah beberapa waktu, ditemukanlah tanah “rawa harum” tersebut yang terletak di desa Glagah Wangi (Kabupaten Jepara); di sanalah segera dibangun permukiman.

Karena pesatnya perkembangan, daerah tersebut lambat laun disebut Pedukuhan Demak. Pada tahun 1475 oleh Prabu Majapahit, Demak diumumkan menja i kawasan daerah Majapahit. Dan pada tahun itu puia Raden Patah membuka pondok pesantren di daerah itu. Karena tugasnya dilaksanakan dengan baik, Raden Patah berhasil menjadi tokoh agama sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan di daerah ini. Lambat laun Demak menjadi pusat keramaian kota, perdagangan, bahkan menjadi pusat kerajaan Islam dengan sebutan Bintoro Demak dengan rajanya Raden Patah, yang memerintah sekitar 1478-1498.

Sampai saat ini belum ada informasi secara pasti tentang tahun berdirinya Kerajaan Demak. Ada yang mengadakan tahun 1478, bersamaan dengan jatuhnya Prabu Brawijaya V akibat serangan tentara Girindra Wardhana yang bergelar Brawijaya VI (1478-1498), dan sejak itu Kerajaan Demak berdiri di bawah Raden Patah selaku putra mahkota Brawijaya V. Ada juga yang mengatakan tahun 1518 bersamaan dengan hancurnya Kerajaan Kediri – Jenggala yang dipimpin Prabu Udara Brawijaya VII (1498-1518) akibat serangan Kerajaan Demak.

Pada masa pemerintahannya, sekitar tahun 1479, Raden Patah bersama para wali lainnya mendirikan Mesjid Agung Demak yang sangat terkenal saat itu. Menurui Babad Tanah Sunda, Mesjid Demak dibangun para wali pada tahun 1489, dimulai bakda (setelah) salat isya dan selesai waktu subuh. Ada kemungkinan tahun 1489 adalah tahun selesainya mesjid agung tersebut, bersama dengan “pelantikan” Raden Patah sebagai raja atau susuhunan di Keraton Demak. Jadi pada saat itu seluruh rakyat Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah mengakui Raden Patah yang disebut sebagai Sunan Bintara dan Kanjeng Sultan Abdul Patah, atau Sultan Alam Akbar Al Fatah.

Setelah Raden Patah menjadi raja, ia memberikan pengakuan terhadap Sunan Cirebon menjadi Sunan Mangkurat yang memangku jabatan di Keraton Pakungwati Cirebon, sebaliknya Cirebon pun memberikan pengakuan terhadap Kesultanan Demak. Sunan-sunan lainnya seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, diangkat sebagai susuhunan.

Mengenai jatuhnya Kerajaan Majapahit, masih ada juga yang berbeda pendapat; ada yang mengatakan Brawijaya v jatuh akibat serangan dari Kerajaan Demak. Hai mi dibantah oleh Solichin Salam mengingat Brawijaya V adalah ayah Raden Patah, jadi tidaklah tanar bila Raden Patah menyerang ayahnya sendiri. Raden Patah mengangkat senjata melawan Majapahit, bukan melawan Brawijaya V, tetapi melawan Prabu Girindra Wardhana yang bergelar Brawijaya VI. Perjuangan Raden Patah selanjutnya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Pati Unus. Sekitar tahun 1511, ia berhasil menaklukkan Jepara. Tahun 1515 ia menyerang Malaka yang tengah diduduki Portugis, tetapi gagal. Kemudian, tahun 1518 ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Demak. Pada tahun itu juga diserbunya Kediri-Jenggala yang saat itu di bawah Prabu Udara Brawijaya VII, raja Kediri terakhir. Sejak saat itu raja Kediri menyerah kepada Demak.

Incoming search terms:

  • raden patah
  • Nama lain raden patah
  • raden patah adalah
  • julukan raden patah
  • siapa raden patah
  • raden fatah adalah
  • siapakah raden patah
  • Siapakah Raden Patah itu
  • raden patah sunan kalijaga
  • arti dari gelar raden patah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • raden patah
  • Nama lain raden patah
  • raden patah adalah
  • julukan raden patah
  • siapa raden patah
  • raden fatah adalah
  • siapakah raden patah
  • Siapakah Raden Patah itu
  • raden patah sunan kalijaga
  • arti dari gelar raden patah