MENGENAL REALITAS VIRTUAL SEBAGAI ALAT PSIKOTERAPI

Sebuah penemuan teknologi dalam psikoterapi barubaru ini adalah alat realitas virtual (VR-virtual reality) (Rizzo dkk., 1998). Peralatan kompleks yang dijalankan dengan komputer ini memungkinkan seseorang untuk menciptakan stimulasi realistik dari berbagai situasi yang sangat beragam. Pengguna memakai suatu alat yang diletakkan di kepala yang menciptakan gambaran situasi yang sangat nyata. Karena alat VR memungkinkan seseorang untuk berinteraksi secara aktual dengan stimulus, alat ini meningkatkan kemampuan orang tersebut untuk memasuki situasi yang seolah nyata sehingga perasaan dan perilaku dipancing dengan cara yang sama seperti dalam kehidupan nyata. Tentu saja telah diakui selama bertahun-tahun bahwa bioskop, film, dan televisi pada akhirnya menggantungkan popularitasnya pada fakta bahwa orang-orang memberikan respons pada hal-hal tersebut dengan cara yang mirip—kadangkala sangat mirip—dengan reaksi mereka terhadap hal-hal yang nyata. Hal baru pada VR adalah kemampuannya, dengan komputer berkecepatan tinggi, untuk membuat seseorang menjadi bagian simulasi dengan memungkinkan reaksi orang tersebut terhadap simulasi memengaruhi apa yang terjadi selanjutnya. Hal yang juga penting, tentu saja, adalah aspek tiga dimensi VR.

Laporan kasus yang pertama kali dipublikasikan (Rothbaum dkk., 1995a) dan studi terkendali (Rothbaum dkk., 1995b) tentang keberhasilan penggunaan VR berkaitan dengan penanganan suatu gangguan anxietas, takut terhadap ketinggian. Terapi terdiri dari lima sesi yang masing-masing berdurasi kurang dari satu jam selama tiga minggu. Paparannya mencakup orang tersebut didorong untuk melihat ke luar dan ke bawah dari setiap tingkat lantai virtual dari dalam lift kaca yang bergerak ke atas. Tampilan VR menampilkan pemandangan dari lift yang sama di dalam hotel setinggi 49 lantai yang digunakan untuk mengukur rasa takut klien sebelum penanganan. Penderitaan yang disampaikan oleh klien dan penolakan terhadap ketinggian berkurang secara signifikan sebagai hasil dari penanganan menggunakan VR. Keberhasilan yang sama juga dicapai dalam kelompok riset klinis yang sama dalam kasus seorang wanita yang memiliki ketakutan untuk naik pesawat (Rothbaum dkk., 1996).

Terdapat beberapa keuntungan potensial dalam penggunaan VR untuk tujuan psikoterapeutik tertentu—kami menyebutnya “potensial” karena masih perlu dilakukan riset untuk membandingkan intervensi berbasis VR dengan intervensi yang lebih konvensional. Proses VR memerlukan waktu lebih sedikit dan lebih terkendali dibanding, contohnya, membawa seseorang yang memiliki ketakutan terhadap ketinggian ke puncak gedung dan mendorongnya untuk tetap berada sana, mungkin dengan melakukan relaksasi pada saat yang sama untuk mengendalikan dan mengatasi ketakutannya. Alat realitas virtual juga dapat memproduksi berbagai citra yang lebih realistik dibanding yang dapat diciptakan oleh pasien sendiri dalam desensitisasi sistematik, dan penggunaannya jelas lebih masuk akal bagi para individu yang mengalami ketakutan yang tidak mampu menciptakan berbagai citra yang realistik. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa VR memang menciptakan pengalaman yang sangat realistik bagi orang-orang (a.1., Hodges dkk., dikutip dalam Rothbaum dkk., 1995b).

Teknologi VR terus berkembang dengan sangat cepat. Dengan perbaikan pada perangkat keras dan lunak, kita dapat mengharapkan peningkatan rea-lisme dan kompleksitas VR dengan cara yang sulit diprediksi. Beberapa futuris berpandangan jauh dengan memperingatkan bahwa VR dapat menimbulkan keterasingan sosial, identitas ganda, bahkan dunia virtual—termasuk seks virtual—yang tidak clapat dibedakan dengan dunia nyata (Wiederhold & Wiederhold, 1998). Bila berbagai prediksi tersebut dlanggap berlebihan, pertimbangkan bahwa hanya sanik gieserasa sebelumnya email hanya terbatas pada -r:iir-fsejumlah ktal kalangan akademisi dan ilmuwan, dan tidak dapat mengirim citra,World Wide Web belum dikenal, serta sebagian besar orang tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan komputer. Tentu saja VR tidak akan tepat atau bahkan diperlukan bagi banyak tujuan terapeutik, dan beberapa orang mengalami “sakit dunia maya” setelah menggunakan tampilan yang dipasang di kepala dalam waktu lama. Beberapa tugas terapeutik lebih baik bila ditangani tanpa menggunakan teknologi canggih yang kompleks tersebut (Rizzo dkk., 1998). Potensi maupun keterbatasan teknologi realitas virtual akan menjadi subjek riset aktif pada tahun-tahun mendatang.

Filed under : Bikers Pintar,