Advertisement

Dalam dunia pewayangan di Indonesia, sering dianggap sebagai tokoh biang keladi kelicikan. Dalam pembicaraan umum, julukan Durna diberikan kepada orang yang suka menghasut, memfitnah, dan berakal busuk. Tetapi dalam pewayangan, sebenarnya sifat Durna tidak seburuk itu. Durna lebih berperan sebagai guru dalam berbagai ilmu perang, kesaktian, tata negara, dll.

Pada masa mudanya Durna dikenal sebagai Bambang Kumbayana, ksatria dari negeri Atasangin. Ia suka berkelana untuk menambah ilmu, kawan, dan pengalaman. Durna pernah berguru pada Ramabar- gawa, brahmana sakti ahli panah.

Advertisement

Ketika berkelana inilah suatu saat ia terhadang sebuah sungai besar yang sedang banjir. Waktu itu ia berucap: “Seandainya ada yang dapat menyeberangkan aku, jika ia pria kuangkat menjadi saudara, kalau wanita kuambil menjadi istri.” Sesaat kemudian datanglah seekor kuda sembrani, yakni kuda sakti yang bersayap ke hadapannya. Bambang Kumbayana segera menaiki kuda itu dan terbang ke seberang. Setelah turun, baru ia mengetahui bahwa kuda itu betina. Maka sesuai dengan ucapannya, ia pun mengawini kuda betina itu. Si kuda pun bunting, kemudian melahirkan seorang anak lelaki. Setelah melahirkan, kuda itu menjelma menjadi seorang bidadari bernama Dewi Wilutama. Bidadari itu lalu pergi meninggalkannya, pulang ke kayangan. Anak lelakinya diberi nama Aswatama. Dalam pewayangan, Aswatama dilukiskan berbadan manusia, tetapi berkaki kuda.

Durna pernah dipermalukan oleh sahabatnya, sehingga ia dendam sampai akhir hayatnya. Waktu itu ia mendengar kabar bahwa sahabatnya, Sucitra, telah naik takhta menjadi raja di Cempalaradya. Bambang Kumbayana datang mengunjunginya, tetapi ia tidak mempedulikan sopan santun istana. Ia menyapa raja itu dengan nama kecilnya, Sucitra, yang menyebabkan Patih Gandamana menganggapnya tidak sopan. Waktu itu Sucitra telah bergelar Prabu Drupada. Bambang Kumbayana diseret ke luar istana, lalu dihajar. Akibat penganiayaan Patih Gandamana, Bambang Kumbayana cacat seumur hidup. Hidungnya bengkok, tangannya patah, punggungnya bungkuk, matanya sipit sembam. Penampilan seperti inilah yang kemudian dikenal orang sebagai penampilan Resi Durna.

Setelah peristiwa itu Durna mengabdi di Kerajaan Astina sebagi guru besar. Murid-muridnya adalah para Kurawa dan Pandawa. Ia mengajarkan seluruh ilmunya pada semua muridnya. Tetapi murid yang paling disayanginya adalah Arjuna.

Dengan alasan mempraktikkan ilmu yang telah dipelajari, Resi Durna menyuruh murid-muridnya menyerbu Cempalaradya. Padahal saat itu Astina dan Cempala tidak berada dalam keadaan perang. Karena serangan tak terduga itu, Prabu Drupada dan Patih Gandamana dapat ditawan. Durna segera membalas dendam untuk mempermalukan keduanya. Selain itu ia menyita daerah Sokalima, wilayah Cempala, untuk dirinya.

Dalam Baratayuda, Durna berpihak pada Astina. Ia bahkan diangkat sebagai panglima perang atau senapati. Dalam perang besar itu, ia berhasil membunuh Prabu Drupada yang berpihak pada Pandawa. Kesaktian Durna nyaris membuat Pandawa kalah, apalagi Arjuna yang merasa jadi murid kesayangan, enggan menghadapinya. Akhirnya Durna dikalahkan dengan akal Prabu Kresna. Bima disuruh membunuh seekor gajah bernama Hesti Tama. Setelah itu seluruh prajurit di pihak Pandawa disuruh mengabarkan kematian Aswatama. Durna yang amat sayang pada anak tunggalnya, mendatangi Yudistira guna meyakinkan kebenaran berita itu. Tetapi Kresna telah membujuk Yudistira untuk mengatakan: “Benar, Hesti Tama telah mati.” Kresna berpesan agar kata “hesti” diucapkan perlahan, sedang kata lainnya keras.

Durna yang memang sudah tua dan pendengarannya sudah mulai berkurang, mendengar kata-kaya Yudistira sebagai pembenaran kabar itu. Ia langsung kehilangan kesadarannya, pingsan berdiri. Dalam keadaan seperti itu kepalanya dipenggal oleh Drestajumena, anak Prabu Drupada. Dalam Mahabarata yang asli, Durna disebut Drona. Ia seorang brahmana, acarya, guru ahli pendidikan, budaya, falsafah, agama dan juga seorang negarawan serta ahli perang. Karena keahliannya di berbagai bidang, ia sering disalahtaf- sirkan sebagai seorang yang licik dan tak berbudi. Sebenarnya tidak demikian. Memang sebagai ahli dalam berbagai bidang Drona diangkat sebagai guru besar baik oleh pihak Kurawa maupun pihak Pandawa dan keduanya mendapatkan pendidikan secara adil. Drona sebagai seorang brahmana seharusnya memimpin umat Hindu dalam soal keagamaan dan moralitas bagi Pandawa dan Kurawa, tetapi sebaliknya ia mengajar mereka ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dengan menggunakan berbagai persenjataan militer. Hal inilah yang dipandang masyarakat sebagai kesalahan fatal guru besar, Acarya Drona. Lebih-lebih lagi Durna memihak Kurawa pada waktu terjadi perang dahsyat antara Kurawa dan Pandawa. Tetapi apapun yang terjadi, akhirnya kedua pihak tetap menaruh hormat terhadap guru besar mereka. Drona tetap pada pendiriannya bertempur di pihak Kurawa melawan bekas murid-muridnya (Pandawa) yang dicintainya, dan ia gugur sebagai pahlawan.

Incoming search terms:

  • durna
  • resi durna
  • sifat durna
  • arti durna
  • watak resi durna
  • resi durno
  • resi drona
  • arti kata durna
  • pendeta Durna
  • arti durno

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • durna
  • resi durna
  • sifat durna
  • arti durna
  • watak resi durna
  • resi durno
  • resi drona
  • arti kata durna
  • pendeta Durna
  • arti durno