Advertisement

MENGENAL SEJARAH IRIAN JAYA – Pelaut Portugis, Don Jorge de Meneses, yang berlayar dari Semenanjung Malaka untuk men­cari rempah-rempah, telah menemukan sebuah pulau besar yang kemudian diberi nama “Papua” yang dalam bahasa Melayu berarti “orang berambut ke­riting”. Kemudian Alvaro de Saavedra, pemimpin ar­mada Spanyol menyebutnya Isla del Oro (Pulau Emas), sedangkan orang Belanda memberinya nama Nieuw Guinea. Setelah Irian Jaya terkenal, banyak orang Eropa datang ke wilayah ini. Namun orang Belandalah yang akhirnya dapat menguasai Irian Jaya. Usaha Belanda untuk menguasai wilayah diawali dengan peresmian benteng Fort de Bus, tahun 1828, di Teluk Triton, di kaki Gunung Lumenciri. Di ben­teng ini Komisaris Pemerintah Belanda AJ Van Delden membacakan suatu pernyataan atas nama dan untuk Ratu Belanda, bahwa bagian daerah Nieuw Guinea, mulai dari garis meridian 141° Bujur Timur ke arah barat dinyatakan milik Belanda, kecuali daerah Mansari, Korondenfer, Amberoon yang di­kuasai oleh Sultan Tidore.

Walaupun sejak tahun 1828 Irian Jaya sudah diang­gap daerah jajahan Belanda, dengan nama Nederlands Nieuw Guinea, kekuasan mereka baru terwujud pada akhir abad ke-19, dengan dibaginya Irian Jaya men­jadi 2 wilayah administratif, masing-masing Afdeeling Noord Nieuw Guinea, di bagian utara dan Afdeeling West en Zuid Nieuw Guinea, di bagian barat dan selatan, dikuasai seorang kontrolir Belanda. Ke­dua afdeeling ini merupakan bagian dari Karesidenan Maluku. Pembagian wilayah ini dilakukan karena dirasakan-adanya ancaman dari Inggris dan Jerman, yang telah mengembangkan kekuatannya di Irian Timur (Papua New Guinea). Setelah Nederlands Nieuw Guinea di pegang oleh seorang gubernur, dae­rah ini dibagi, menjadi 6 daerah afdeeling, yakni Afdeeling Hollandia dengan ibu kota Hollandia, Gel- venbaai dengan ibu kota Biak, West Nieuw Guinea dengan ibu kota Manokwari, Fakfak dengan ibu kota Fakfak, Zuid Nieuw Guinea dengan ibu kota Merauke dan Centraal Bergland dengan ibu kota sementara Hollandia.

Advertisement

Dalam masa pemerintahan Belanda, Irian Jaya menjadi tempat pembuangan, seperti misalnya daerah Digul atau Boven Digyul (Tanah Merah) di Kabupaten Merauke, yang beralam buas. Tokoh nasional yang pernah diasingkan ke Digul adalah Bung Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, dan Bung Karno.

Tempat pengasingan yang lain adalah Serui. Tokoh nasional yang pernah diasingkan di tempat ini adalah Dr. Sam Ratulangi, Latumahina, Suwarno, Pondaag, Tobing, Saleh, Lonto Daeng Posewang, dan lain-lain.

Sejak 19 April 1942, Irian Jaya dikuasai oleh Je­pang, dengan munculnya kapal perang Jepang di Te­luk Humboldt (Teluk Yos Sudarso) di Jayapura. Je­pang dengan mudah masuk karena Belanda tak meng­adakan perlawanan.

Setelah berakhirnya kekuasaan Jepang di Indo­nesia, Irian Jaya dikembalikan kepada Belanda. Pada Konf erensi Meja Bundar yang diadakan di Den Haag, 23 Agustus – 2 November 1949, diputuskan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dan selambat-lam­batnya tanggal 30 Desember 1949 Belanda harus me­ninggalkan Indonesia, kecuali Irian yang akan dite­tapkan setahun setelah penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia melalui jalan perundingan. Karena jalan perundingan selalu gagal, tanggal 19 Desember tahun 1961 Presiden Sukarno mengamanatkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogyakarta. Indonesia terpaksa menempuh jalan konfrontasi menggunakan kekuatan militer. Satuan Komando Mandala dibentuk di bawah Jenderal Soeharto, khusus untuk mem bebaskan Irian Barat.

Sementara Komando Mandala melancarkan peran terhadap Belanda, Pemerintah Belanda dan Indones’^ mencapai persetujuan perdamaian di markas besar PBB di New York tanggal 15 Agustus 1962. Tanggai 1 Oktober 1962, secara resmi Pemerintah Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Badan Pengawasan Pelaksana Sementara Perserikatan Bangsa-bangsa (UNTEA).   ‘

Selama masa pemerintahan UNTEA, di Irian Barat berkibar bendera PBB bersama bendera Belanda sampai tanggal 31 Desember 1962. Sejak tanggal 31 Desember 1962 bendera Indonesia berkibar menggantikan bendera Belanda dan PBB. Bendera PBB masih berkibar sampai tangal 1 Mei 1963, dan sejak itu Irian Barat kembali menjadi bagian Republik Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya.

Incoming search terms:

  • tempat pengasingan soekarno di papua
  • sejarah irian JAya
  • tempat pembuangan bung karno di irian
  • nama pembuangan bung karno di papua
  • nama tempat pembuangan bung karno di irian
  • arti irian jaya menurut soekarno
  • nama tempat pembuangan bung karno yang di irian
  • nama tempat pembuangan bungkarno di irian
  • nama pembuangan bungkarno di papua
  • nama pembuangan bung karno dipapua

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • tempat pengasingan soekarno di papua
  • sejarah irian JAya
  • tempat pembuangan bung karno di irian
  • nama pembuangan bung karno di papua
  • nama tempat pembuangan bung karno di irian
  • arti irian jaya menurut soekarno
  • nama tempat pembuangan bung karno yang di irian
  • nama tempat pembuangan bungkarno di irian
  • nama pembuangan bungkarno di papua
  • nama pembuangan bung karno dipapua