Advertisement

SHINTO DAN PEMBANGUNAN
Dalam buku Dala tentang agama Jepang yang amat baik, yang dalam terjemahnya dalam bahasa Inggris berjudul Javanese Religion, tulisan beberapa ahli kebudayaan Jepang (H.Ickiro, I. Fujio, W. Tsuneya dan Y. Keiichi), dinyatakan di Jepang ada beberapa agama tetapi yang paling dominan dalam kehidupan sebagian besar orang Jepang ada 2, yaitu agama Shinto dan agama Budha. Kedua agama tersebut tidak hanya berdampingan, melainkan juga saling terjalin erat dalam kehidupan banyak orang Jepang.
Agama Shinto adalah agama Jepang yang ash, yang mengandung berbagai unsur, seperti penghormatan roh nenek moyang, penyembahan pada Dewi Matahari, kepercayaan pada dewa-dewa alam seperti Dewa Gunung, Dewa Air, Dewa Pohon-pohonan, atau Dewa Kesuburan. Di samping itu pula, ada kepercayaan terhadap adanya kekuatan sakti dalam bendabenda pusaka, dalam batu, dalam jimat, dan sebagainya. Unsurunsur itu sebenarnya merupakan unsur-unsur religi rakyat pedesaan (folk religion).
Adapun Agama Budha masuk ke Jepang dari Korea pada abad ke-6, dan telah terjalin erat dengan agama Shinto. Apabila agama Shinto itu bagi orang Jepang terarah ke kehidupan di dunia, dan memberi pemecahan terhadap soal-soal sehari-hari yang konkret, maka agama Budha memberi pemecahan terhadap soal-soal yang berhubungan dengan dunia akhirat. Karena itu, untuk mengurus upacara kelahiran anak misalnya, orang Jepang meminta bantuan kepada Pendeta Shinto, untuk mengurus upacara kematian dan penguburan, orang Jepang minta bantuan kepada Pendeta Budha.
Kita tahu agama Shinto itu menjadi agama kenegaraan Jepang, dan kepercayaan rakyat kepada Kaisar Keramat Keturunan Dewa dalam zaman permulaan pembangunan sistem kepercayaan itu, dapat dipergunakan oleh para pemimpin Jepang untuk melaksanakan pembangunan atas nama Kaisar yang keramat seolah-olah sebagai suatu usaha yang keramat.
Lebih-lebih karena unsur-unsur agama Shinto itu terjalin langsung ke dalam kehidupan kekeluargaan dan kehidupan sehari-hari orang Jepang, maka jaminan partisipasi sepenuhnya dari rakyat dalam pembangunan bukanlah suatu masalah lagi. Sayang bahwa bangsa Indonesia tidak mempunyai sumber motivasi pembangunan yang kuat

Advertisement
Advertisement