Advertisement

Raja Tanah Batak yang selama hampir tiga puluh tahun mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Oleh pemerintah ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional (1961).

Si Singamangaraja XII menerima warisan kekuasaan dari ayahnya, Si Singamangaraja XI (1870). Sebagaimana di daerah lain, di tanah Batak Belanda berusaha menanamkan kekuasaannya. Karena melihat bahaya yang mengancam kedaulatan negerinya, Singamangaraja mendahului bertindak dengan mengeluarkan pernyataan perang terhadap Belanda (1878) dan menyerang kubu Belanda di Bahal Batu. Serang-an itu tidak berhasil karena kurangnya persenjataan. Serangan-serangan berikutnya sering kali gagal. Bah-kan, Belanda kemudian menduduki Bakkara di tepi Danau Toba. Karena daerah itu dibakar Belanda, Si- ngamangaraja memindahkan markas pasukannya ke Peranginan.

Advertisement

Dalam perjuangannya, ia bekerja sama dengan beberapa pang- lima/ulee balang dari Aceh yang juga berperang melawan Belanda. Namun, sulitnya jalinan komunikasi pada jaman itu dan seringnya terjadi pengkhianatan oleh bangsa sendiri mengakibatkan kerja sama itu tidak begitu berarti.

Meskipun sering kalah, pasukan Singamangaraja pernah memorakporandakan pasukan Belanda, seper-ti dalam pertempuran di Tanggabatu (1884).

Berdasarkan pengalaman dalam Perang Diponegoro dan Perang Aceh, Belanda mempersempit ruang gerak pasukan Singamangaraja. Mereka menarik pasukannya dari Aceh setelah perang di daerah itu dinyatakan selesai (1903) dan memindahkannya ke Batak. Untuk menghambat penyaluran bantuan dari Aceh, Belanda menutup beberapa kota pelabuhan dan kota perbatasan. Kedudukan Si Singamangaraja pun semakin terjepit.

Dalam suatu pertempuran, putri Si Singamangaraja gugur. Sewaktu ia membopong jenazah putrinya itu, badannya terlumuri darah jenazah. Konon, hal itu mengakibatkan hilangnya kekebalan tubuh. Selanjutnya, ketika beristirahat di suatu tempat bersama sejumlah pengikutnya, ia dikepung Belanda. Kapten Christoffel, pimpinan pasukan pengepung, bermak-sud menangkapnya hidup-hidup. Namun, Singamangaraja pantang menyerah. Dengan rencongnya ia menyerang serdadu Belanda terdekat sambil berseru “Ahu Si Singamangaraja” (Akulah Si Singamangaraja). Ia segera ditembak pasukan Belanda dan gugur. Dengan demikian, berakhirlah perlawanan rakyat di daerah Batak yang berlangsung hampir selama tiga puluh tahun. Demi pertimbangan keamanan, Belanda kemudian menguburkan jenazahnya di tangsi militer di Tarutung.

Pada tahun 1953 masyarakat Tapanuli di Jakarta memindahkan makamnya ke Soposurung (Balige) un-tuk menghilangkan kesan seakan-akan ia masih men-jadi tawanan Belanda, sekaligus untuk memuliakan dan menghormatinya. Peristiwa pemindahan makam itu diperingati dengan meriah di Istana Negara.

Advertisement