Advertisement

SISTEM HUKUM ADAT WARIS TANAH DALAM KEBUDAYAAN JEPANG
Hukum adat waris tanah dalam kebudayaan Jepang bersifat patrilineal-primogenitur, artinya seluruh harta pusaka tanah, rumah dan pekarangan, serta perabot rumah diwariskan kepada anak laid-laki tertua. Dengan demikian, harta pusaka tanah tidak terbagi. Anak laki-laid lainnya tidak mendapat warisan harta pusaka dan apabila mereka tin: :al di desa sebagai petani, mereka hanya menggarap tanah pusaka yang dikuasai oleh kakak mereka.
Tentu kadang-kadang mereka bisa juga membeli atau mendapat tanah sendiri, dan menjadi petani sendiri, bebas dari otorita kakaknya, tetapi sebagian lebih suka meninggalkan desa, mengabdi pada seorang Samurai, menjadi penyakap pada seorang tuan tanah, atau menjadi buruh tani bayaran, jauh dari desa mereka sendiri.
Ketika bangsa Jepang mulai membangun industrinya, penduduknya behun mengalami suatu eksplorasi seperti di Jawa. Maka untung sekali bagi mereka, sejajar dengan kenaikan penduduk, industri yang sedang berkembang itu dapat menyerap para pria dari desa yang tidak mempunyai tanah.
Penduduk desa adalah pria-pria anak tertua, penguasa harta pusaka yang tidak terpecah belah, malahan bertambah secara kumulatif. Mereka tetap tinggal di desa menjadi warga inti yang mantap, yang mempunyai rasa tanggung jawab maksimal terhadap tanah pusaka, dan yang mempunyai suatu loyalitas yang besar terhadap komunitasnya.
Karena mobilitasnya yang minimal, jumlah penduduk desa stabil sepanjang masa. Kenaikan penduduk Jepang berlangsung lambat (hanya lebih dari 1%), dan barn melonjak setelah perang dunia ke-2, kemudian turun lagi sejak kira-kira sepuluh tahun ini menjadi 0,7%. Sebaliknya, penyerapan makin lama makin deras. Sekarang jumlah orang Jepang yang bekerja dalam lapangan pertanian dikabarkan melaju 1,5% setahun.
Keadaan desa-desa di Jawa, seperti kita ketahui, justru sebaliknya. Tanah pusaka terbagi-bagi, terpecah menurut hulcurn Oat wari§ yang berdasarkan bilateral.
Sudah tentu desa-desa di Jawa mempunyai golongan penduduk yang merasakan diri keturunan dari penduduk inti desa, yaitu para cikal bakal. Tetapi golongan ini biasanya hanya membanggakan kedudukannya saja, sebagai suatu lapisan sosial yang terpandang di desa, dan tidak terikat oleh suatu sentimen sosial karena ikatan komunitas seperti Jepang.

Advertisement
Advertisement