Advertisement

Kalimantan Selatan pada dasarnya banyak didominasi oleh tanah-tanah gambut dengan kondisi keasaman air yang tinggi. Sejak awal abad XX, mulai dikenal sistem sawah pasang surut. Daerah yang bergambut dikeringkan dengan cara membalik-balikkan tanah, kemudian diletakkan batang-batang pohon kayu kering di daerah itu. Pohon-pohon kering tersebut selanjutnya dibakar dan kemudian didiamkan untuk beberapa lama.

Setelah semua lahan menjadi kering, daerah tersebut ditebari kapur untuk mengurangi keasaman tanah. Selanjutnya lahan itu dialiri air dari sungai yang mengalir ke laut. Pada ujung sungai yang menuju ke laut dibangun bendungan yang dapat membuka dan menutup. Ketika terjadi pasang air laut, air sungai akan terdorong kembali ke daerah daratan dan mengairi sawah-sawah yang telah disiapkan.

Advertisement

Air yang mengalir ke laut dari daerah daratan tidak sampai keluar menuju laut karena terbendung oleh bendungan yang sengaja dibuat menutup ketika air laut surut. Artinya, air sungai tetap tertampung di lahan-lahan sawah. Dengan sistem buka-tutup dengan menggunakan tenaga debit air, maka sistem irigasi sawah ini dapat terpenuhi. Hasil yang diperoleh dari sistem sawah ini biasanya hanya satu kali dalam setahun dan apabila menguntungkan dapat juga terjadi dua kali dalam satu tahun.

Pada dasarnya, suku bangsa Banjar dengan kearifan lokalnya dapat menciptakan pemanfaatan lahan gambut dan rawa untuk berkembangnya sistem persawahan pasang surut di daerahnya, yang diperkirakan sudah ada sejak masa kerajaai: Majapahit sekitar abad XIII, ketika kerajaan tersebut memperluas pengaruhnya di Kalimantan Selatan.

Sistem yang dikembangkan untuk membuka lahan rawa menjadi lahan pertanian pasang surut di Kalimantan Selatan ialah dengan sistem anjir dan handil (Rasmadi, 2008). Anjir adalah daerah yang menghubungkan aliran dua buah sungai besar di sebelah kiri dan sebelah kanan, sehingga dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian. Sementara handil adalah kanal kecil yang dibuat memotong atau tegak lurus pada sungai sepanjang 1-2 km. Sama halnya dengan sistem anjir, di sebelah kiri dan kanan handil dapat dikembangkan menjadi lahan pertanian.

Pengembangan persawahan pasang surut yang merupakan upaya memanfaatkan rawa di Kalimantan Selatan dimulai di daerah tepian Sungai Martapura dan Sungai Barito. Daerah-daerah ini dikenal sebagai daerah rawa gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi. Dengan sistem pasang surut air sungai, kedua daerah ini dapat diubah menjadi daerah yang subur.

Pada 1890 Anjir Serapat digali sepanjang 28~ km yang menghubungkan Sungai Kapuas (wilayah Kalimantan Tengah) dan Sungai Barito (wilayah Kalimantan Selatan). Penggalian dilakukan dengan mengerahkan banyak tenaga kerja tanpa mesin. Tujuannya untuk membuat jalur transportasi lalu lintas air. Pada 1935 barulah Anjir Serapat mulai diperdalam dengan menggunakan mesin kapal keruk. Pembangunan anjir ini berdampak positif karena tata air di daerah sekitarnya menjadi baik dan cocok untuk persawahan. Sejak saat itulah secara spontan banyak orang yang membuka persawahan di sekitar salurananjir dan akhirnya menjadi pemukiman penduduk, terutama para petani yang menggarap sawah di sekitar rawa-rawa anjir. Selain itu dibuat jalan raya di sekitar Kot’a Banjarmasin pada 1920-an dengan cara menggali dan mengurug tanah hasil galian pada badan jalan. Dengan tersedianya jaringan drainase dan jalan maka sejak itu masyarakat tertarik bermukim di tepi jalan dan daerah drainase untuk membuka pertanian padi di lahan rawa.

Usaha pertanian pasang surut ini berkembang baik dan menjadikan kawasan tersebut sebagai sentra persawahan yang sangat subur dan dikenal sebagai ‘gudang’-nya beras Kota Banjarmasin. Kawasan itu dikenal sebagai ‘daerah gambut’. Akibat berlimpahnya hasil padi, daerah gambut yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar dinamakan daerah Kindai Lumpuar (lumbung penuh padi). Melihat kenyataan bahwa orang zaman dulu berhasil memanfaatkan rawa pasang surut, maka sejak tahun 1957 pemerintah memutuskan membuka persawahan pasang surut secara besar-besaran di Indonesia.

Pada awalnya lahan pasang surut dibuka dengan sistem kanalisasi, yang proyeknya dimulai di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantaan Selatan. Selain kanal yang merupakan saluran primer, pemerintah menggali pula saluran sekunder dengan harapan drainase di daerah itu dapat berjalan lancar. Proyek percontohan yaitu Proyek Basarang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 1969 sebagai awal dari pembukaan persawahan pasang surut secara besarbesaran di Indonesia yang membuka lahan 5.2 juta hektar sawah di Sumatra dan Kalimantan. Pengubahan lahan rawa menjadi lahan pertanian secara besar-besaran itu memungkinkan dicapainya penambahan pangan nasional, karena selain tanaman padi dapat pula dikembangkan  ubi-ubian, kacang-kacangan, sayuran, dan hortikultura lainnya.

Teknologi pasang surut dikembangkan di daerah Sumatra, Kalimantan dan Papua dengan istilah ‘irigasi pasang surut’, yaitu teknik memanfaatkan lahan pertanian di dataran rendah dan daerah rawa. Airnya diperoleh dari aliran pasang air sungai yang terletak di daerah pesisir. Dalam dua minggu diperoleh empat hingga lima kali masa air pasang. Pada abad XIX pendatang di pulau Sumatra memanfaatkan lahan rawa sebagai kebun kelapa.

Di daerah Ogan Komering (Sumatra Selatan), misalnya, terdapat sistem persawahan pasang surut yang penduduknya terdiri dari dua latar belakang budaya: orang asli dan orang pendatang (Jawa). Besar kemungkinan sistem teknologi persawahan irigasi di daerah ini merupakan hasil dari percampuran budaya antar dua etnis yang berbeda tersebut. Di daerah ini pembibitan padi di sawah dilakukan dua kali. Pertama, bibit padi disemaikan secara terapung selama tiga minggu (21 hari). Kemudian setelah bibit padi tumbuh, dipindahkan ke pematang sawah sambil menunggu air surut selama 25 hari. Ketika air mulai surut, ikan yang hidup dalam rawa ditangkap dan lahan langsung dibajak, sehingga langsung terendam air. Pada musim kemarau, ketika air rawa surut, para petani mulai menanam padi. Demikianlah padi di daerah ini ditanam pada musim kemarau. Pada saat musim tanam seluruh sawah dipagari untuk mengamankannya dari gangguan kerbau atau sapi. Hal ini berkaitan dengan ternak sapi yang dikelola anggota masyarakat biasanya dibiarkan berjalan bebas. Dari ciri-ciri ini tampak bahwa masyarakat asli lebih cenderung bermata pencarian ternak, sedangkan pengetahuan bercocok tanam padi irigasi diperoleh dari orang Jawa.

Incoming search terms:

  • konsep pengairan pasang surut di kalsel
  • konsep pengairan pasang surut di kalimantan selatan
  • konsep pengairan pasang surut dikalimantan selatan
  • urutan konsep pengairan pasang surut di kalimantan selatan
  • pengertian pasang-surut dalam metode pertanian
  • pengairan pasang surut kalsel
  • pasang surut kalimantan selatan
  • makalah irigasi pasang surut
  • konsep pengairan pasang surut du kalsel
  • konsep pasang surut di kalimantan selatan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • konsep pengairan pasang surut di kalsel
  • konsep pengairan pasang surut di kalimantan selatan
  • konsep pengairan pasang surut dikalimantan selatan
  • urutan konsep pengairan pasang surut di kalimantan selatan
  • pengertian pasang-surut dalam metode pertanian
  • pengairan pasang surut kalsel
  • pasang surut kalimantan selatan
  • makalah irigasi pasang surut
  • konsep pengairan pasang surut du kalsel
  • konsep pasang surut di kalimantan selatan