Advertisement

Di Jawa terdapat pola penanaman padi di sawah yang secara tradisional diberi aliran air untuk irigasi. Biasanya penanaman padi diselingi dengan penanaman palawija ketika musim kemarau, atau terdapat beberapa pohon merambat ketika padi ditanam di sawah. Pada tegalannya ditanami tanaman merambat yang menghasilkan seperti kacang panjang, dan genjer.

Pada mulanya, tanah sawah digarap dan diolah oleh satu orang atau lebih. Ada lahan persawahan yang dibuat bertingkat-tingkat, dan ada pula yang derajat kemiringannya termasuk datar dengan pematang di sekitarnya untuk menahan air. Sebelum ditanami tanah-tanah tersebut diolah terlebih dahulu. Pada mulanya tanah yang kering diolah dengan menggunakan bajak (luku), yaitu alat yang berbentuk kayu panjang sekitar 2 m. Di sepanjang kayu itu terdapat mata bajak, yang biasanya berbentuk mata cangkul agak membulat dan melintir sepanjang kayu. Kayu itu diletakkan sejajar dengan tanah dan dihubungkan dengan kayu pula ke badan kerbau atau sapi penarik bajak tersebut. Setelah mata bajak tertancap di tanah yang kering, seseorang kemudian menghela kerbau atau sapi untuk menarik bajak itu. Tanah yang tersangkut mata bajak akan terbalik dengan sendirinya karena ditarik oleh kerbau atau sapi.

Advertisement

Pada prinsipnya, bajak gunanya untuk membalik tanah sehingga dapat dengan mudah di-tugali, yaitu dicangkul untuk menghancurkan tanah. Setelah tanah terbalik seluruhnya, barulah tanah tersebut dicangkul oleh tenaga manusia sehingga tanah tersebut menjadi hancur. Setelah dikerjakan dengan dua proses tersebut (luku dan tugal), tanah kemudian didiamkan selama satu minggu. Selanjutnya tanah yang sudah hancur dan sudah dibalik tersebut dialiri air agar menjadi lembut.

Setelah dilakukan proses luku dan tugal, tanah yang sudah terendam air diolah dengangaru dengan maksud agar tanah menjadi lunak dan lumat. Garu pada dasarnya adalah sebuah alat yang terbuat dari kayu dengan gerigi di sisinya untuk ditancapkan di tanah yang sudah menjadi lumpur, dan untuk meratakannya petani menarik gigi garu tersebut setelah ditancapkan ke dalam tanah. Setelah digaru, tanah diberi pupuk kandang maupun pupuk hijau. Pupuk kandang berupa kotoran hewan ternalc (kerbau, sapi, kambing), sedangkan pupuk hijau berupa dedaunan dari pohon karang kitri. Pemberian pupuk dilakukan dengan cara menyebarkannya di tanah yang sudah terendam air, sehingga tanah yang telah bercampur air dan pupuk tersebut menjadi subur untuk ditanami padi. Setelah diberi pupuk, tanah sawah didiamkan lagi selama satu minggu agar pupuk meresap ke dalam tanah.

Jumlah air di sawah kemudian ditambahkan agar permukaan tanah terendam semuanya. Setelah itu tanah yang terendam air itu dibajak kembali dengan tenaga kerbau atau sapi, kemudian di-garu lagi hingga akhirnya siap untuk ditanami. Tanah yang tingkat kesuburannya berkurang ^setelah panen, harus kemudian diolah kembali, sehingga tanah tersebut menjadi subur lagi dan siap untuk ditanami padi kembali.

Pada waktu berlangsungnya pengolahan tanah di sawah, bibit padi disemaikan di tempat persemaian padi (pawinihan). Untuk keperluan semai bibit, butir-butir yang akan dijadikan benih dipilih terlebih dahulu, yaitu butir-butir padi yang masih tumbuh melekat pada batangnya. Kegiatan memilih bibit atau butir-butir padi untuk benih disebut nglinggori. Batang padi yang berisi butir-butir padi itu dipotong dengan memperhatikan usianya yang sedang (tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda). Potongan batang-batang padi tersebut kemudian digabung dan diikat dalam beberapa ikatan (untingan).

Untingan-untingan ini kemudian dijemur selama satu hari, dan setelah dijemur, butir-butir padinya dilepas dari kedudukannya dan semuanya dimasukkan ke dalam bakul besar (tenggok). Bakul atau tempat menyimpan bibit padi tersebut harus senantiasa direndam air selama satu hari satu malam dan setelah itu di -pep, yaitu ditutup dengan daun pisang hingga dua atau tiga hari. Setelah akar-akarnya tumbuh, bibit-bibit padi itu dapat disebarkan di persemaian. Selama 15-30 hari, bibit di persemaian itu berangsur-angsur tumbuh menjadi padi dewasa dan siap dipindah ke sawah. Proses pemindahan tunas batang padi ke sawah disebut dengan nguriti atau ndaut.

Bibit padi yang telah tumbuh di persemaian kemudian dipisah-pisahkan menjadi beberapa pohon. Pohon-pohon padi yang masih muda ini ditanam di sawah dengan pola penanaman yang berjarak sekitar 20 cm antara satu dengan lainnya. Penanaman pohon padi muda di sawah dilakukan oleh kaum perempuan secara bersama-sama, bisa dengan satu keluarga luas atau teman-teman satu kampung atau dusun.

Selama dalam pertumbuhannya, tanaman padi yang masih muda itu dipelihara serta dijaga agar supaya tidak ada tumbuhan liar yang merusaknya. Pemeliharaan padi muda di sawah dilakukan dengan cara menyiangi tumbuhan liar, dan biasanya juga dengan menyemprot padi-padi itu dengan cairan pupuk serta cairan antihama, proses penyiangan sawah dilakukan dua kali dalam waktu 3 bulan. Dengan pemberian antihama, maka tumbuhan padi akan terhindar dari serangan hama, khususnya belalang dan ulat. Pada saat padi sudah menguning, perawatan intensif amat perlu dilakukan agar terhindar dari serangan hama burung, tikus, dan belalang. Untuk itu dilakukan pekerjaan dengan memakai alat yang disebut gosrok. Akhirnya setelah padi masak, padi lalu dituai dengan alat dan disimpan dalam lumbung. Setelah 40 hari, padi baru boleh ditumbuk.

Menumbuk padi adalah usaha untuk melepaskan kulit padi dengan daging padinya. Ketika melakukan aktivitas menumbuk padi-, padi-padi yang diikat dalam satu genggam batang padi diletakkan di dalam lesung (benda terbuat dari kayu yang dilubangi berbentuk perahu) dan kemudian ditumbuk secara beramairamai oleh kaum perempuan. Tetapi dalam perkembangan kebudayaan (teknologi) selanjutnya, ada juga cara untuk melepaskan padi dari kulitnya dengan menggunakan mesin perontok padi dan sekaligus melepaskan kulit dari daging padi.

Dengan menggunakan mesin perontok padi ini, maka hasil padi yang diwujudkan akan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan penumbuk padi, karena jika ditumbuk di lesung, banyak butir padi yang menjadi pecah dan tidak baik bentuknya. Sebaliknya jika digunakan mesin perontok, butirbutir padi tidak pecah dan bentuknya baik.

Pada proses perkembangan kebudayaan, padi yang sudah siap panen tidak lagi dipotong dengan ani-ani, tetapi digantikan dengan peralatan sabit. Hal ini disebabkan proses pemotongan dengan ani-ani jauh lebih lambat ketimbang dengan sabit. Padi-padi tersebut kemudian dipisahkan antara buah dan batangnya untuk selanjutnya petani akan menjemur gabah-gabah yang telah terlepas dari batangnya.

Setelah lahan sawah digunakan untuk menanam padi biasanya akan diselingi dengan penanaman pohon lain seperti palawija (jagung, sorgum, dan sebagainya) atau di beberapa daerah biasanya diselingi dengan pemeliharaan ikan. Fungsi mengganti tanaman padi dengan jenis kegiatan lain di sawah adalah untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah dan sekaligus menghilangkan hama, khususnya belalang. Dalam pemahaman masyarakat bertani irigasi, belalang dapat lahir dan tumbuh jika ada tumbuhan padi, dan ketika lahan ditanami padi secara terus-menerus, maka belalang akan terus tumbuh dan berkembang. Sebaliknya jika lahan sawah diselingi dengan tanaman lain, maka tingkat pertumbuhan belalang akan berkurang dan bahkan akan mati karena tidak ada padi.

Incoming search terms:

  • tegese pawinihan
  • Definisi pawinihan
  • Definisi sawah pawinihan
  • kenapa tanah perlu didiamkan setelah proses pemanenan 3x
  • sesudah menanam apakah tanah harus didiamkan
  • uraian sistem tanam dibajak

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • tegese pawinihan
  • Definisi pawinihan
  • Definisi sawah pawinihan
  • kenapa tanah perlu didiamkan setelah proses pemanenan 3x
  • sesudah menanam apakah tanah harus didiamkan
  • uraian sistem tanam dibajak