Advertisement

Berburu merupakan suatu bentuk mata pencarian yang mengandalkan teknologi menghadapi binatang buruan yang selalu bergerak sehingga diperlukan suatu teknologi yang memiliki kemampuan untuk mengikuti pergerakan binatang buruan. Biasanya pada model pola hidup demikian, peralatan yang digunakan oleh masyarakat tipe ini mengandalkan lontaran yang dapat memperpendek jangkauan antara pemburu dan binatang yang diburu.

Masyarakat Mentawai sudah sejak zaman penjajahan Belanda mengalami pengaruh dari orang asing (Eropa), terutama di daerah-daerah Pulau Pagai Utara dan Selatan. Sementara itu, di Pulau Siberut pengaruhnya hanya terdapat di kota kecamatan yang ada sekarang. Pengaruh asing tersebut pada prinsipnya tidak menyentuh sosial budaya masyarakat. Hal ini disebabkan masyarakat masih tinggal tersebar di dalam hutan, sedangkan orang-orang asing hanya terdapat di tepi-tepi pantai saja. Oleh sebab itu, hubungannya tidak begitu intensif seperti terjadi pada hubungan perdagangan semasa kolonial. Lain halnya dengan penyebaranpenyebaran agama Kristen, Islam, dan Bahai. Terutama untuk agama Kristen Katolik dan Protestan, para penyebar agama ini sudah mulai masuk ke dalam daerah-daerah yang dimukimi oleh orang-orang Mentawai.

Advertisement

Pengaruh formal pertama dengan dunia barat diperoleh melalui Vornelis Pietersz yang datang di kepulauan ini sekitar abad XVII. Kontak tersebut berkaitan dengan pelayaran dagang ke pulau Pagai. Di Pagai kontak dengan orang asing sangat dimungkinkan, karena orang Mentawai di pulau ini pada umumnya berlokasi di tepi-tepi pantai. Vornelis ini ikut dengan kapal dagang berkebangsaan Belanda yang dipimpin oleh Van Neck. Pada waktu itu rangkaian pulau di Mentawai disebut dengan Nassau, yaitu nama yang diberikan untuk tujuan penghormatan terhadap raja Belanda (Coronese, 1986:19).

Berdasarkan tulisan William Marsden diperoleh keterangan adanya laporanlaporan pelayaran dari para pelaut Inggris yang berlayar dari daratan Sumatra bagian selatan yaitu dari daerah Fort Marlborough atau daerah Bengkulu sekarang, dan dari Bengkulu inilah kemudian terjadi hubungan selanjutnya berupa kontak dengan para pelaut berkebangsaan Inggris. Di antara pelaut tersebut terdapat Randolph Marriot yang sempat menulis ten tang kepulauan Mentawai pada 1749, kemudian disusul dengan John Saul pada 1750-1751, dan dilanjutkan dengan catatan dari kapten Thomas Forrest tahun 1757. Semua catatan tersebut tersimpan dalam sebuah tulisan yang ditulis oleh Dalrymple (Marsden, 1811: 468).

Selanjutnya terjadilah suatu kunjungan berkala yang dilakukan oleh seorang pegawai berkebangsaan Inggris yang bernamajohn Crisp, yang berkedudukan di Bengkulu pada 1792. Dari tulisannya dapat diperoleh data berupa catatan-catatan tentang penduduk suku Mentawai yang mempunyai karakteristik berbeda dengan suku bangsa yang hidup di daratan Sumatra pada umumnya, terutama bentukbentuk kebudayaan fisiknya, kemudian sedikit pada bentuk tubuh serta perbedaan yang mencolok pada kebiasaannya.

Hubungan dagang dengan penduduk setempat dilakukan oleh Christie, seorang Inggris yang pada 1800-an melakukannya relatif lebih intensif di pulau Pagai. Hubungan dagang ini mendapat izin dari pemerintah Belanda ketika itu untuk mengusahakan pengolahan kayu yang akan diekspor (Coronese, 1986: 21).

Pada perkembangan selanjutnya para penyebar agama yang pada zaman penjajahan Belanda kurang intensif meiakukan pekerjaannya, pada masa setelah kemerdekaan mereka meiakukan pekerjaannya secara lebih intensif hingga pada pendirian sejumlah sekolah dan asrama bagi orang-orang Mentawai. Bahkan gereja Kristen yang didirikan di suatu kampung dapat difungsikan tidak hanya untuk keperluan peribadatan pada setiap Minggu, tetapi juga untuk sekolah pada Senin hingga Sabtu. Didirikan pula mushalla, baik oleh organisasi Islam maupun pemerintah yang diprogramkan oleh Departemen Sosial dalam master plan pembangunan perkampungan. Setelah pemerintah mengembangkan pembangunan berupa program permukiman kembali, masyarakat Mentawai mulai bersentuhan dengan masyarakat luar. Sentuhan formal dari pemerintah Indonesia dilakukan melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional) dengan menempatkan sejumlah guru Sekolah Dasar di desa-desa pedalaman dan Sekolah Laniutan Tingkat Pertama di ibukota kecamatan. Selain itu, pemerintah juga memberikan izin kepada organisasi Missie Katolik untuk membuka sarana pendidikan Sekolah Dasar swasta sampai tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.

Sentuhan formal dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan sosial masyarakat, terutama dalam hal sosialisasi pengetahuan, dan informasi-informasi dari luar Mentawai melalui sistem pengajaran dan buku-buku yang disediakan. Implikasinya ialah beberapa anak Mentawai yang bersekolah di Padang, kemudian melanjutkan pendidikannya hingga ke tingkat perguruan tinggi di kota itu, sehingga secara langsung memutus proses sosialisasi di desa mereka, dan berganti pada sosialisasi kehidupan kota dengan pola hidup yang sangat jauh berbeda.

Meskipun pendidikan Sekolah Dasar di kampung-kampung pedalaman Mentawai (terutama di pulau Siberut) pada umumnya hanya kelas satu sampai kelas empat, mereka dapat melanjutkan pendidikannya di ibukota kecamatan, sehingga dapat dilakukan sosialisasi pengetahuan secara nasional. Penempatan guru-guru Sekolah Dasar di kampung-kampung walaupun masih tersendat de-ngan alasan klasik (kurangnya minat anak didik, kecilnya gaji sehingga guru-guru tersebut harus juga berladang) telah memberikan andil cukup besar dalam membuka kontak-kontak dengan sistem budaya nasional, terutama bahasa Indonesia.

Departemen Sosial secara intensif melakukan hubungan dengan kehidupan masyarakat, terutama dalam program-programnya. Salah satu program yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial masyarakat adalah program permukiman kembali. Program ini banyak mengubah pola-pola sosial yang ada karena masyarakat dari daerah pedalaman yang berbeda lokasinya ditempatkan dalam satu tempat yang telah disediakan. Demikian pula program perbaikan sarana permukiman melalui penyediaan sumur sebagai sumber air bersih, secara tidak langsung berdampak pada persepsi masyarakat mengenai makna air bersih.

Pemerintah paling sering melakukan sentuhan-sentuhan semacam itu, dan tidak hanya pada masyarakat yang mudah terjangkau transportasi, tetapi juga pada masyarakat pedalaman di tengah hutan yang berada di luar jangkauan transportasi. Kini semua masyarakat suku bangsa Mentawai telah tersentuh oleh programprogram pemerintah, khususnya Departemen Sosial.

Incoming search terms:

  • sistem pengetahuan suku mentawai
  • sistem sistem suku mentawai
  • teknologi di suku mentawai
  • teknologi suku mentawai com
  • teknology suku mentawai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • sistem pengetahuan suku mentawai
  • sistem sistem suku mentawai
  • teknologi di suku mentawai
  • teknologi suku mentawai com
  • teknology suku mentawai