Advertisement

Sebuah ladang biasanya dibangun oleh sebuah keluarga (suami, istri dan dibantu oleh anak-anak yang belum menikah) atau dibangun secara bergotong royong atau saling bantu membantu di antara dua keluarga sampai dengan lima keluarga yang ladang-ladangnya dibangun secara berdekatan.

Pembuatan ladang dilakukan melalui tahapan-tahapan: Pertama, memilih tempat untuk ladang. Biasanya adalah daerah baru yang belum pernah dibuat ladang sebelumnya. Peladang kemudian mengajak tetangganya untuk mengerjakan hutan tersebut menjadi ladang secara bersama-sama. Wilayah hutan yang biasanya akan dijadikan ladang adalah lahan yang mempunyai kemiringan rendah, lahan yang tidak banyak semak belukarnya, dekat dengan sungai atau mata air, dan yang tidak ada rumah semutnya (busut jantan). Dekat dengan sumber air gunanya untuk dapat mandi, cuci, dan kebutuhan air minum, sedangkan jauh dari rumah semut dimaksudkan agar tanamannya tidak diganggu oleh semut. Lahan yang miring dinilai mempunyai tingkat kesuburan yang baik karena tidak tergenang airnya (rawa tingkat keasamannya tinggi). Peladang lebih memilih lahan yang pohon besarnya banyak daripada yang banyak semak belukarnya, karena akan melelahkan dalam pembersihannya.

Advertisement

Kedua, membuka hutan untuk ladang tahap pertama dengan cara menebang pohon-pohon besar. Sebelumnya dilakukan upacara meminta izin kepada penghuni hutan (,antu). Penebangan pohon dilakukan secara bersama-sama dengan menggunakan kapak dan beliung, dan sekarang ada juga yang menggunakan gergaji mesin yang biasanya disewa dari orang-orang Melayu. Penebangan dilakukan dengan cara memilih pohon yang terbesar terlebih dahulu untuk dirobohkan, dan setelah mulai roboh, pohon tersebut akan didorong agar jatuh menimpa pohonpohon lain yang lebih kecil sehingga dengan sistem domino, mereka dapat menebang beberapa pohon sekaligus.

Dalam membuka hutan untuk ladang tersebut, masing-masing keluarga telah menentukan batas-batas wilayah ladangnya masing-masing, sehingga pada waktu menebang pohon dijatuhkan bersamaan dengan garis batas yang telah disepakati, sehingga otomatis pohon yang rubuh tadi menjadi batas dari ladang mereka masing-masing. Setelah pohon-pohon dirobohkan dan batas-batas ladang sudah jelas, dilakukanlah pekerjaan menebasi semak belukar yang ada. Kemudian pohon-pohon tumbang tadi dipotong cabang dan rantingnya, kemudian dikumpulkan bersama dengan semak belukar yang telah ditebas hingga mengering. Batang, ranting dan semak tersebut diletakkan di tengah ladang dan dibiarkan selama satu sampai dua minggu. Baru setelah itu dibakar. Dalam tahap kedua, dilakukan pembakaran ranting, dahan dan daun-aaun semak belukar. Pembakaran dikerjakan dengan memperhitungkan arah angin serta juga memerhatikan apakah dalam jangka waktu seminggu akan turun hujan atau tidak. Diawali dengan kajian secara tradisional, mulailah sampah-sampah tersebut dibakar selama satu minggu terus-menerus tanpa apinya menjadi padam. Setelah apinya padam, sisasisa bakaran tersebut dibiarkan sehingga menjadi abu. Proses mendiamkan setelah pembakaran biasanya dilakukan selama satu sampai dua minggu. Keseluruhan pekerjaan ini dilakukan pada musim kemarau dan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Selama waktu mendinginkan tanah, mulailah orang-orang secara keluarga-keluarga mengumpulkan kayu-kayu, kulit kayu dan rumbia untuk membuat rumah mereka. Sebagian bahan pembuat rumah merupakan bekas rumah lama yang ketika akan membuka lahan baru rumah mereka juga dipindahkan.

Ketiga,menugal menanam padi, setelah sisa-sisa pepohonan, dahan-dahan serta ranting kayu semua menjadi abu dan setelah semua abunya tersebar tertiup angin ke segala penjuru angin menutupi permukaan ladang, si peladang menunggu saat hujan datang. Selama kira-kira satu minggu sampai dua minggu setelah hujan tiba, ladang akan didiamkan saja untuk memberi kesempatan agar air hujan dapat meresap ke dalam tanah berikut dengan abu sisa pembakaran hutan. Sementara itu benih padi disiapkan. Ada tiga jenis padi yang biasanya ditanam yaitu: padi pulut (ketan), padi induk, ‘padi komat’.

Keempat,menanam ubi menggalo.Ubi lebih dikenal dengan istilah ketela pohon beracun atau ubi kayu racun atau singkong racun ditanam di ladang dengan cara menancapkan batang kayunya yang cukup tua di tanah. Batang kayu tersebut mempunyai panjang kira-kira satu jengkal tangan (20 cm) ditancapkan di tanah dengan kedalaman sekitar setengah dari batang ubi kayu yang ditanam tersebut dan dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Ubi   ditanam ketika

batang padi berusia sekitar 2 bulan, yang pola penanamannya dilakukan secara berturut-turut setiap hari sampai ladang tersebut penuh dengan tanaman ubi menggalo di sela-sela tanaman padi. Tetapi ada juga yang menanam ubi setelah selesai menanam padi. Setelah berusia satu sampai dua tahun, barulah tanaman ubi dapat dipanen hasilnya. Jadi, ketika bekas ladang itu sudah ditinggalkan dan dibiarkan menghutan, barulah mereka dapat memetik hasil dari tanaman ubi menggalo. Dengan demikian, selama mereka mengerjakan lahan baru untuk dibuat ladang, orang Sakai mempunyai sumber makanan dari bekas ladangnya yang telah ditinggalkan. Ubi menggalo tidak dapat langsung dimakan begitu saja dan juga tidak dapat langsung dimasak untuk dimakan, karena ubi ini beracun. Untuk dapat dikonsumsi, ubi tersebut perlu dihilangkan racunnya terlebih dahulu.

 

Cara menghilangkan racun pada ubi menggalo:

  1. Menguliti ubi secara segera, artinya tidak disimpan terlebih dahulu selama satu atau dua hari setelah dicabut dari.tanah. Banyaknya ubi menggalo sekali cabut biasanya cukup untuk dikonsumsi satu keluarga batih saja selama satu minggu. Ubi langsung dikuliti di tempat, kemudian dicuci di sungai.
  2. Ubi menggalo yang telah bersih tersebut kemudian ditaruh di karung goni atau keranjang dari anyaman rotan, lalu direndam di air sungai kecil yang mengalir di kebun. Ubi tersebut direndam selama tiga hari tiga malam.
  3. Setelah direndam kemudian ubi tersebut diparut dengan parutan yang terbuat dari seng ukuran 18 x 40 cm yang diberi lubang-lubang dengan menggunakan paku dan diberi bingkai kayu di sekelilingnya.

 

Pemarutan dilakukan oleh perempuan:

  1. Parutan ubi menggalo kemudian dimasukkan ke dalam karung goni, dipadatkan isinya dan kemudian diikat kuat-kuat supaya tidak berantakan. Lalu karung tersebut ditaruh di antara papan yang jaraknya rapat satu sama lain dan di atas karung tersebut diletakkan batu besar yang berat yang kegunaannya untuk memeras keluar air dari parutan ubi menggalo tersebut.
  2. Setelah dua atau tiga hari lamanya diperas dengan parutan, ubi menggalo yang sudah diparut dan yang disimpan dalam karung dianggap telah terbebas dari racun dan telah kering. Parutan ubi tersebut dimasukkan ke dalam kuali besi atau penggorengan dari besi untuk kemudian diletakkan di atas tungku api.
  3. Parutan ubi kemudian di-sangrai yaitu dibolak-balik di dalam wajan atau periuk tanpa diberi minyak goreng atau air, sampai parutan ubi tersebut menghitam. Proses membolak-balik parutan ubi tersebut berlangsung selama dua sampai tiga jam. Biasanya dikerjakan oleh laki-laki maupun perempuan, dan pada umumnya dilakukan oleh kaum perempuan.
  4. Setelah disangrai, parutan ubi tersebut didinginkan dengan cara diletakkan di sehelai tikar. Dan setelah dingin baru dipindahkan dengan cara meletakkannya pada sebuah tempat yang berupa karung juga yang terbuat dari daun kapau (semacam daun palem), menggalo yang berupa parutan dan telah disangrai tersebut disebut menggalo mersik. Penyimpanan dengan anyaman daun kapau itu dapat tersimpan selama dua tahun.

Advertisement