Advertisement

Ahli ekonomi dan keuangan Indonesia yang terkemuka. Soemitro sebetulnya kurang berminat untuk mempelajari ekonomi. Dia justru lebih tertarik akan filsafat dan sastra. Namun, akhirnya, dia belajar di Sekolah Tinggi Ekonomi di Rotterdam sampai selesai. Semasa Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman (1940-1945), Raden Mas Soemitro bersama sejumlah pemuda Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia melakukan aksi di bawah tanah. Sikapnya yang anti diktatur sudah tertanam sejak pecahnya perang saudara di Spanyol. Ketika itu ia sudah mendaftarkan diri menjadi anggota Brigade Internasional melawan kaum Nasionalis pimpinan Jenderal Fransisco Franco yang mendapat bantuan penuh dari Hitler dan Mussolini. Usaha Soemitro untuk menjadi anggota Brigade Internasional itu gagal, karena umurnya belum 21 tahun sehingga ia memerlukan surat izin dari orang tua.

Tahun 1946 ia kembali ke Indonesia dan segera terjun dalam revolusi bangsanya yang sudah merdeka. Mula-mula ia menjadi Pembantu Menteri Keuangan dengan tugas menarik kembali uang Jepang untuk diganti dengan uang Republik. Masih dalam suasana revolusi yang bergejolak, Soemitro ditugasi ke New York untuk merintis jalan agar sengketa Indonesia-Belanda dapat dibahas dalam forum internasional (PBB). Kemudian ia ditunjuk menjadi wakil Lambertus Nicodemus Palar yang waktu itu menjadi wakil tetap RI di PBB. Dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag (1949), Soemitro dan ayahnya, Margono, ditunjuk menjadi anggota delegasi Republik. Soemitro kurang bisa menerima hasil KMB yang menangguhkan penyerahan wilayah Irian Barat kepada Republik Indonesia. Ketika diadakan sidang pleno KNIP untuk mengesahkan hasil KMB, wakil-wakil Partai Sosialis Indonesia, termasuk Soemitro sebagai salah seorang tokohnya, menolak hasil KMB. Ketika diadakan pemungutan suara, mereka beramai-ramai meninggalkan sidang. Ketika Republik Indonesia Serikat berdiri, Soemitro menjadi Menteri Perdagangan. Tugas utamanya membubarkan perusahaan besar Belanda yang ketika itu masih memegang monopoli perdagangan, sekaligus menetapkan kebijaksanaan perdagangan untuk seluruh wilayah Indonesia.

Advertisement

Dalam Kabinet Wilopo (1952), Soemitro menjadi Menteri Keuangan dan pada kesempatan itu ia menasionalisasikan De Javasche Bank dan mengganti namanya dengan Bank Indonesia. Ketika menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Burhanuddin Harahap (1955) ia menghapuskan sistem lisensi ciptaan Mr. Iskaq pada kabinet sebelumnya. di kalangan kaum buruh, yang didalangi kaum komunis, maupun di berbagai perkebunan yang ketika itu memang masih beradd di tangan orang-orang Belanda.

Tahun 1959 Soekarno diangkat menjadi Ajun Kepala Kepolisian Negara. Ia kemudian diangkat menjadi Menteri/Penasihat Presiden untuk urusan keamanan dalam negeri dengan pangkat Jenderal. Ia dianugerahi 13 tanda kehormatan.

Advertisement