MENGENAL SUKU BANGSA ENGGANO

5 views

Mendiami Pulau Enggano, yang terletak di Lautan Hindia sebelah ba­rat Propinsi Bengkulu. Pulau seluas 68.000 hektar ini termasuk bagian wilayah administratif Kabupaten Bengkulu Selatan. Pulau ini telah tertera dalam peta Asia tahun 1593, sedangkan pelaut Belanda menemu­kannya pada tanggal 5 Juni 1596. Nama Enggano ko­non berasal dari bahasa Portugis yang berarti “keke­cewaan,” karena pelaut Portugis yang sampai di sa­na mengira pulau tersebut Pulau Jawa yang mereka can. Ada pula beberapa nama lain yang diberikan un­tuk pulau ini, misalnya Pulau Wanita, karena konon pulau ini dulu pernah dihuni oleh kaum wanita saja, sedangkan anak-anak yang dilahirkan dianggap ber­asal dari angin. Penduduk setempat menamakannya Khefu Amoebo atau E Loppeb, yang berarti “pulau besar.”

Orang Enggano termasuk suku bangsa yang kecil jumlah anggotanya. Jumlah warga pulau ini tampak tidak stabil. Hal ini disebabkan letaknya yang terpencil.

Latar belakang suku bangsa ini belum terungkap seluruhnya, tetapi mereka memiliki cerita rakyat atau dongeng yang menggambarkan asal-usul orang Eng­gano yang sekarang. Konon, pada masa lalu, Pulau Enggano dan penghuninya pernah dilanda banjir be­sar. Hampir seluruh permukaan pulau tergenang air, kecuali bagian puncak Gunung Nanuuwa. Kecuali se­orang laki-laki yang sempat menyelamatkan dirinya di puncak Gunung Nanuuwa, selebihnya tenggelam dilanda banjir. Ketika banjir surut, laki-laki ini da­lam keadaan lapar turun ke pantai mencari kerang (ekapedoa) untuk dimakan. Ia memecahkan sebuah kerang dengan sepotong kayu bernama arubi. Ia ter­peranjat karena dari dalam kerang itu keluar seorang wanita.„Sebaliknya, ia juga gembira karena menda­pat teman di tengah pulau yang sepi itu. Wanita itu diberi nama Kaarubi, sesuai dengan nama kayu pe­mukul tersebut. Kemudian, ketika ia memukul kerang lainnya, ia menemukan pula dua wanita lain. Karena kerang-kerang itu dipukulnya dengan kayu henao dan itara, kedua wanita itu masing-masing dinamai Kaahenao dan Kaitara.

Akhirnya ketiga wanita itu dinikahinya dan kemu­dian menurunkan lima kelompok orang Enggano yang ada sekarang, yaitu Koahoao, Koano, Kaarubi, Kaharuba, dan Koitara. Kelompok yang berbentuk klen (clan) ini kemudian berkembang menjadi beberapa subkelompok dengan nama tersendiri pula. Seluruh subkelompok berjumlah tidak kurang dari 23, masing- masing dipimpin oleh seorang ekapo. Tugas ekapo adalah mengatur hal-hal yang menyangkut adat dan

upacara. Oleh sebab itu seorang ekapo haruslah orang yang dituakan, pandai, dan kuat.

Perkampungan (kaudara) didirikan di tepi sungai atau pantai. Rumah mereka berbentuk panggung de­ngan pola melingkar. Tiap kampung memiliki balai pertemuan (kadiofe), yaitu pusat berbagai aktivitas masyarakat kampung setempat. Mata pencaharian utamanya adalah bercocok tanam ubi, pisang, kela­di, dan kelapa, yang menjadi makanan pokok asli. Se­karang mereka juga sudah menanam padi, yang di­perkenalkan oleh kaum pendatang. Mata pencaharian lainnya adalah berburu binatang hutan dan menang­kap ikan.

Orang Enggano menarik garis keturunannya me­lalui wanita (matrilineal). Karena adanya adat larang­an kawin dengan sesama anggota klen (eksogami klen), perkawinan dilakukan dengan orang dari luar klen. Adat menetap sesudah nikahnya matrilokal, artinya suami-istri menetap di lingkungan kerabat istri. Tetapi adat mereka juga membenarkan sang istri me­netap di lingkungan kerabat suami dengan syarat pi­hak laki-laki harus membayar epahakuwa berupa uang kontan, yang pada jaman kolonial Belanda senilai f. 10. Selain itu pihak wanita masih menerima bebe­rapa jenis barang sebagai hadiah dari kerabat laki-laki. Dalam pelaksanaan adat lainnya di masa lalu, orang Enggano tampaknya lebih banyak mengukur nilai adat dengan uang. Mas kawin (e-uku upai-yoya), misalnya, diwujudkan dalam bentuk uang senilai antara f. 100 sampai dengan f. 300. Jumlah uang mas kawin dise­pakati oleh kedua belah pihak orang tua dan ekapo, dan harus dibayar kontan. Biaya pesta perkawinan diambil dari uang mas kawin. Sebelum pesta dilaksa­nakan, terlebih dahulu dilakukan upacara menurut kaidah agama Islam atau Kristen, sesuai dengan aga­ma yang dianut.

Sebelum mengenal agama Islam dan Kristen yang dibawa oleh pendatang, masyarakat Enggano menge­nal kepercayaan asli yang sampai sekarang masih di­anut oleh sebagian warga masyarakat. Kepercayaan asli ini meyakini adanya kowek, yaitu kekuatan baik dan buruk yang terdapat pada tempat tertentu di da­lam kampung, seperti di sungai, pantai, pohon, dan batu.

Incoming search terms:

  • suku enggano
  • sejarah pulau enggano
  • jumlah penduduk pulau enggano

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *