Advertisement

MENGENAL SUKU BANGSA KAILI – Salah satu dari 12 suku bangsa asal yang mendiami wilayah Propinsi Sulawe­si Tengah. Orang Kaili merupakan bagian penduduk yang dominan jumlahnya dalam 11 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada dalam Kabupaten Donggala. Ke- 11 kecamatan tersebut adalah: Kecamatan Palu, Si- renja, Sindue, Tawaili, Sigi Biromaru, Sigi Dolo, Marawala, Banawa, Parigi, Dampelas, dan Balaisang. Ada orang Kaili yang berdiam di enam kecamatan lainnya, namun jumlahnya kecil. Ada pula orang Kaili yang menetap di kabupaten lain, seperti Kabupaten Poso, Buol Toli-toli, Luwah Banggai. Di luar Pulau Sulawesi, orang Kaili menetap di Kalimantan Timur dan kota-kota di Pulau Jawa. Mereka merantau dalam rangka mencari penghidupan yang lebih baik. Penye­baran orang Kaili berkaitan dengan tradisi ada nosibolai, yaitu usaha kalangan bangsawan di masa lalu menyebarkan keturunannya ke daerah lain dengan ca­ra perkawinan.

Wilayah tempat tinggal orang Kaili bertetangga de­ngan wilayah beberapa suku bangsa lain. Di sebelah utara orang Kaili bertetangga dengan suku bangsa To­li-toli dan Tomini; di bagian timur dengan suku bang­sa Pamona, Lore, dan Kulawi; di bagian selatan de­ngan suku bangsa Mandar.

Advertisement

Jumlah orang Kulawi, baik yang di Kabupaten Donggala maupun yang sudah tersebar di daerah lain, tidak dapat diketahui secara pasti. Menurut perkiraan, 60 persen penduduk Kabupaten Donggala yang ber­jumlah 608.151 jiwa pada tahun 1982 adalah orang Kaili. Orang Kaili memiliki bahasa sendiri, yakni ba­hasa Kaili, j^ng terbagi atas setidak-tidaknya 13 dia­lek, yaitu dialek Ado, Ava, Da’a, Doi, Edo, Kori, Le- do, Nde, Rai, Tajio, Tara, Uma, Unde.

Pada masa lalu orang Kaili hidup dalam pola mene­tap yang menyebar di daerah-daerah pegunungan. Sa­tu keluarga inti tinggal berjauhan dengan keluarga inti lain. Hal mi dilakukan berdasarkan kepercayaan bah­wa orang tidak boleh mengerjakan satu lahan lebih da­ri satu kali. Apabila mereka tidak pindah, roh penjaga hutan (maya) akan murka dan mendatangkan benca­na, seperti penyakit kulit, leher bengkak, dsb.

Pada periode berikutnya mereka tinggal menetap di sekitar ladang lama, meskipun lahan bercocok tanam­nya masih harus berpindah-pindah. Penghuni satu ru­mah berkembang dari satu keluarga inti menjadi satu keluarga luas. Pada suatu saat keluarga inti junior me­misahkan diri dari keluarga luasnya dan membuat ru­mah di sekitar tempat itu. Masyarakat sekerabat terse­but bisa terdiri atas tujuh rumah sehingga merupakan satu boya. Kelompok kecil semacam itu berkembang lagi menjadi satu kinta, dan akhirnya menjadi sebuah kampung sebagai tempat tinggal tetap yang besar (ngapa). Keseluruhan penghuni kampung itu masih memiliki hubungan kerabat satu sama lain. Orang Kaili yang menetap di kampung-kampung seperti itu mengembangkai? mata pencaharian menanam kelapa, kopi, cengkeh, dsb. Pada masa yang lebih akhir, orang Kaili merupakan salah satu masyarakat penghasil ko­pra yang terkenal di Sulawesi. Di samping itu, mereka meramu hasil hutan, seperti kayu hitam, kayu lunak, rotan, damar, dll.

Kelompok kerabat yang penting dalam masyarakat Kaili adalah keluarga inti (koyo puse), keluarga luas (,sarava), dan kelompok kerabat yang sewaktu-waktu berkumpul dalam melaksanakan upacara-upacara. Kelompok ini terdiri atas saudara sekandung, saudara sepupu dari pihak ayah dan pihak ibu sampai tingkat keempat. Dalam rangka kegiatan adat itu, biasanya mereka membawa sumbangan (norombe) berupa be­ras, jagung, kelapa, dsb. Dalam ilmu antropologi ke­lompok semacam ini disebut kindred, sedangkan orang Kaili menamakannya ntina. Orang Kaili mena­rik garis keturunan menurut garis laki-laki (patriline­al), dengan adat menetap sesudah nikah utrolokal. Pe­milihan jodoh tampaknya ditentukan oleh orang tua. Mereka cenderung mencari jodoh di lingkungan kera­bat sendiri, terutama antara sesama saudara sepupu. Yang mereka hindari adalah perkawinan antara dua orang yang sama-sama anak sulung.

Hubungan antara kerabat diatur dalam adat sopan santun yang ketat. Adat sungkan sangat dirasakan an­tara anak dan orang tua, dan terhadap saudara ayah dan ibu. Mereka juga mengenal adat teknonimi, misalnya seorang istri tidak boleh menyebut nama suaminya, melainkan harus mengaitkan dengan nama anak sulung. Apabila belum atau tidak punya anak, mereka memakai nama kemenakan tertua.

Pada masa lalu masyarakat Kaili mengenal bebera­pa lapisan sosial. Lapisan atas adalah golongan raja dan turunannya (madika); berikutnya golongan bang­sawan (to guru nukapa); golongan orang kebanyakan (to dea); golongan budak (batua). Mereka juga me­mandang tinggi golongan sosial berdasarkan kebera­nian (katamanggalaia), keahlian (kavalia), kekayaan (kasugia), kedudukan (kadudua), dan usia (tetua).

Pada masa kini, sebagian besar orang Kaili meme­luk agama Islam, dan sebagian kecil memeluk agama Kristen. Walaupun demikian, kepercayaan lama ma­sih diamalkan juga, misalnya kepercayaan terhadap maya, atau kepercayaan bahwa ketika menanam ta­naman tertentu orang tidak boleh memakan daging. Bila kepercayaan ini dilanggar mereka meyakini akan datangnya bencana.

Incoming search terms:

  • kaili suku bangsa dari provinsi
  • suku kaili terbagi
  • suku kaili terbagi as

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kaili suku bangsa dari provinsi
  • suku kaili terbagi
  • suku kaili terbagi as