Advertisement

MENGENAL SUKU BANGSA KUTAI – Salah satu suku bangsa yang mendiami wilayah Propinsi Kalimantan Timur, terutama wilayah Kabupaten Kutai, Kota Madia Sa­marinda, dan Kota Madia Balikpapan. Kabupaten Ku­tai adalah kabupaten terluas (91.027 kilometer perse­gi) di propinsi ini. Orang Kutai hidup tersebar di ke-30 kecamatan di kabupaten tersebut. Di kecamatan tertentu orang Kutai merupakan penduduk yang do­minan (lebih dari 60 persen), seperti di Kecamatan Tcnggarong, Loa Janan, Sebulu, Muara Kaman, Mua­ra Pahu, Muara Muntai, Muara Bengkal, Penying­gahan, Kota Bangun, Kembang Janggut, Muara Wa- hau dan Muara Ancalong. Di kecamatan-kecamatan dalam Kota Madia Samarinda (tujuh kecamatan) dan Balikpapan (empat kecamatan) jumlah mereka paling besar 50 persen.

Menurut perkiraan Kanwil Departemen Pendi­dikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, jumlah orang Kutai di daerah ini pada tahun 1982 adalah 271.648 jiwa. Namun ada oihak yang memperkirakan sekitar 400.000 jiwa. Selisih kedua perkiraan di atas mungkin jumlah orang Kutai yang berdiam di kabu­paten lainnya di Kalimantan Timur, yaitu Kabupaten Pasir, Berau dan Bulungan.

Advertisement

Orang Kutai di Kalimantan Timur biasa disebut orang Melayu, seperti halnya suku bangsa Berau, Bu­lungan, dan Ticking. Orang Kutai menggunakan baha­sa Melayu, yang terbagi lagi atas beberapa dialek. Di 30 kecamatan tersebut, orang Kutai hidup berdam­pingan dengan berbagai suku bangsa lain, misalnyf Dayak, Bugis, Banjar, Jawa, dll. Anak suku bangs| Dayak yang ada di Kabupaten Kutai adalah Benuaq Bahau, Long Dusun, Kenyah, Tunjung, Punan, Ben* 1 tian, Penihing, Ohong, Bukat dan Basap.

Nama Kutai telah mengukir sejarah Kalimantan Ti­mur dan sejarah Nusantara umumnya. Daerah Kutai ditandai oleh bekas Kerajaan Hindu tertua di Indone- sia yang berasal dari abad ke-4. Peninggalan sejarah itu dibuktikan, antara lain, oleh batu bertulis dengan huruf Palawa di daerah Kecamatan Muara Kaman se­karang. Pada masa lampau, Kutai merupakan negara” pantai yang makmur, dan menjalin hubungan dengan India Selatan melalui kegiatan perdagangannya. Se­mentara itu kebudayaan mereka mengadopsi konsep- konsep kebudayaan Hindu. Selanjutnya masyarakat Kutai diperkirakan mendapat pengaruh Islam pada abad ke-17. Sekarang orang Kutai adalah pemeluk agama Islam, meskipun sisa-sisa kepercayaan Hindu masih terselip dalam berbagai upacara, misalnya upa­cara daur hidup.

Rentangan sejarah Kutai dimulai sejak masa Kudungga sebagai raja pertama, yang diteruskan oleh Mulawarman, dan berlanjut dengan datangnya jaman Islam, sampai jaman kemerdekaan RI. Pemerintahan kesultanan berakhir di tangan Aji Muhammad Parike- sit (1920-1960). Di ujung rentangan sejarahnya itu, sampai tahun 1959, daerah Kutai masih menyandang nama daerah istimewa. Kini Kutai menjadi kabupa­ten. Bekas istana Sultan Kutai di Tenggarong dijadi­kan Museum Negeri Kalimantan Timur yang me­nyimpan peninggalan-peninggalan sejarah.

Kini orang Kutai umumnya hidup dari pertanian dengan lahan yang masih cukup luas. Di samping itu mereka juga menjadi nelayan, pengusaha perikanan di sungai dan tambak. Banyak orang Kutai di kota yang bergerak di bidang jasa, menjadi buruh dan pegawai.

Sistem kekerabatannya bersifat patrilineal, artinya garis keturunan ditarik ke pihak laki-laki. Orang Ku­tai masa lalu mengenal lapisan sosial, bangsawan, rakyat kebanyakan, dan budak. Bagi kaum bang­sawan dipergunakan gelar-gelar, seperti Kiamas, Mas, Aji, Raden, Pangeran Datu. Pemberian gelar itu dilaksanakan dalam suatu upacara di dalam mesjid se­telah salat Idul Fitri. Sekarang penghormatan terha­dap seseorang dalam masyarakat bukan lagi atas dasar kebangsawanan, akan tetapi atas tinggi pendidikan yang diperoleh, status dalam pemerintahan, dan keka­yaan.

Incoming search terms:

  • suku bangsa koetai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • suku bangsa koetai