Advertisement

Mendiami kepulauan di sebelah barat pantai Propinsi Sumatra Barat. Mereka mendiami empat pulau besar, yaitu Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan yang masih tertutup rapat oleh hutan rimba tropis yang kebanyakan berupa hutan primer. Pulau-pulau tersebut dipenuhi pegunungan dan berpuluh-puluh sungai kecil yang mengalir deras. Di sepanjang aliran sungai-sungai itulah orang Mentawai membangun desa mereka, yang dulu disebut laggai, tetapi sekarang biasa disebut kampung.

Setiap kampung terdiri atas satu atau lebih rumah panjang yang disebut uma. Di sekitar uma ada rumahrumah kecil yang dibangun di atas tiang dan didiami oleh orang yang telah menikah. Suatu uma merupakan bangunan yang besar dan lepas dengan panjang 20-25 meter dan lebar sekitar 10 meter. Lantai rumah merupakan panggung di atas tiang-tiang yang tingginya 1,5 — 2 meter di atas tanah. Atapnya dibuat dari rumbia, dindingnya dari kulit kayu, dan bagian-bagian lain dari kayu bakau. Untuk masuk ke urn orang harus melalui tangga yang ada di bagian dens dan samping rumah. Setiap rumah memiliki seramb terbuka yang mengelilingi seluruh bangunan.

Advertisement

Uma merupakan pusat kehidupan sosial oran Mentawai, yang memiliki berbagai fungsi. Umadigu nakan sebagai tempat melangsungkan upacara, tari” tarian, dan pertemuan umum, sekaligus tempat tin&~ gal anggota satu kelompok kerabat tertentu selania beberapa waktu. Di bagian depan uma terdapat ruang untuk menyimpan benda keramat yang dianggap bisa memberi semangat dan kesaktian kepada anggota uma. Benda keramat itu berupa jambangan yang berisi tumbuh-tumbuhan atau ramuan tertentu, g0ng senjata tombak, atau tengkorak musuh yang berasai dari abad yang lalu, ketika mereka masih melakukan pengayauan. Pada masa sekarang hanya sedikit perkampungan yang masih memiliki uma, bahkan di Kepulauan Pagai, uma sudah tidak ada lagi. Uma sekarang hanya berfungsi sebagai balai pertemuan biasa atau balai desa dan kadang-kadang digunakan untuk sekolah.

Orang Mentawai hidup dari berladang keladi dan ubi jalar, dengan cara membuka hutan. Kegiatan menanam, menyiangi, memanen, dsb., dilakukan oleh kaum perempuan. Alat-alat yang digunakan masih sederhana, seperti tongkat tugal untuk menanam, parang (tegle) untuk menebang pohon. Selain berladang, mereka juga mengambil sagu, buan-buahan, seperti pisang dan pepaya. Dalam beberapa dasawarsa ini, mereka mulai mengenal padi. Mata pencaharian yang juga penting adalah menangkap ikan di sungai, rawa-rawa, atau laut, serta berburu rusa atau babi dengan menggunakan panah. Babi atau rusa digiring ke suatu tempat oleh anjing-anjing untuk kemudian dibunuh. Pekerjaan lain yang sering dilakukan kaum laki-laki adalah mencari rotan dan damar untuk dijual kepada pedagang-pedagang dari kota Padang.

Kehidupan sehari-hari orang Mentawai banyak tersita untuk menggarap ladang, sehingga mereka pun mendirikan rumah di ladang, yang disebut lalep saina. Rumah ini dihuni oleh satu keluarga inti yang merupakan kesatuan sosial terpenting bagi orang Mentawai. Bagian bawah lalep digunakan untuk memelihara babi.

Dalam sistem kekerabatannya, mereka mengenal apa yang dinamakan muntogat, yaitu kelompok kerabat yang merasa berasai dari satu keturunan patrilineal. Samuntogat merupakan satu klen yang bersifat eksogam, dan biasanya memiliki uma. Klen-klen yang ada dalam satu kampung dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu si bakkat laggai (keturunan pembuka kampung) dan si toi (keturunan pendatang). Bila ada anggota klen keturunan pendatang yang hendak membuka ladang atau membangun rumah, ia harus meminta izin kepada tokoh terpenting dari klen keturunan pembuka kampung.

Pada masa lalu, orang Mentawai mempunyai seorang tokoh yang bertanggung jawab atas kehidupan sosial di dalam uma, yang disebut rimata. Rimata dipilih berdasarkan beberapa persyaratan, antara lain yang menyangkut usia, kecakapan, dan keberanian, Tugasnya ialah memelihara benda-benda keramat, mengatur dan memimpin upacara serta kegiatan sosial lainnya. Rimata tidak memiliki kekuasaan mutlak, dan lebih berfungsi sebagai pemimpin kerohafljan dan penjamin kesatuan anggota dalam satu uma. ivlulai tahun 1950-an, sejalan dengan mundurnya upacara-uPacara di uma, fungsi rimata mulai berkurang. gahkan pada masa sekarang, rimata di Kepulauan Sipora dan Pagai sudah tidak ada lagi.

Suatu keluarga batih dikepalai oleh ukkui, yang diafiggaP sebagai anggota masyarakat yang terhorflat. Seseorang menjadi ukkui bila telah menempati Amah lalep, dan untuk mencapai kedudukan ini ia sudah berumur agak lanjut, yaitu sekitar 40 tahun. j(alau seseorang sudah mengumpulkan banyak uang dan anak-anaknya telah dapat membantu mencari makan, ia akan meresmikan perkawinannya dalam suatu upacara meriah, sehingga mereka menjadi simanteusimaiso (suami-istri), dan keluarganya menjadi lalep. Anak yang sudah besar biasanya tidak pernah tinggal di rumah, tetapi hidup bersama teman-temannya dalam satu rusuk (rumah bagi orang yang belum kawin). {Jntuk menjadi anggota suatu uma, seseorang harus mengikuti upacara inisiasi, yang meliputi adat pencacahan kulit (tatouage). Rajah yang terdapat pada tubuh seorang Mentawai bukanlah sekadar hiasan, melainkan juga tanda pengenal, yang menggambarkan kaitan kekerabatan atau hubungan darah.

Beberapa puluh tahun yang lalu, kehidupan orang Mentawai masih dipenuhi oleh masa-masa tabu atau punen, yaitu masa-masa tertentu yang dianggap keramat dan pantang terhadap hal tertentu. Kata punen sendiri juga berarti hari libur, termasuk hari-hari suci agama Kristen. Waktu punen ini berbeda-beda antara ukkui, rimata, orang tua, orang muda, laki-laki, perempuan, dll. Demikian juga pantangannya, makin penting kedudukan seseorang, makin banyak pantangannya. Sekarang punen yang berkaitan dengan mata pencaharian dan ekonomi semakin berkurang.

Walaupun sebagian besar suku bangsa Mentawai sudah oeragama Kristen, kepercayaan terhadap roh, jiwa, dan hantu masih tetap kuat. Orang Mentawai menganggap dunia ini dikelilingi oleh kekuatan roh yang bisa membawa musibah atau bencana. Roh yang dikenal, antara lain, ketsat, yaitu roh nenek moyang; sabulungan, yaitu makhluk halus yang meninggalkan tubuh manusia yang mati dan kemudian hidup di sekitar alam atau pergi ke dunia roh; kina, yaitu roh yang tinggal di dalam rumah dan bertugas melindungi rumah; sanitu, yaitu roh jahat yang suka mengganggu dan membawa penyakit; taikamanua, yaitu pemimpin negara roh dari seberang lautan.

Orang Mentawai juga mengenal apa yang disebut si magere, yaitu jiwa yang menyebabkan orang hidup dan kadang-kadang meninggalkan badan pada saat orang bermimpi atau sakit. Bagi mereka, roh yang dianggap paling kuat adalah roh langit (taikamanua), tetapi karena dalam kehidupan sehari-hari mereka lebih dekat dengan roh hutan (takaleleu), mereka lebih banyak meminta bantuan kepada roh hutan.

Tokoh penting yang dianggap bisa berhubungan dengan roh-roh adalah dukun, yang disebut kerei, sedangkan praktiknya disebut sikerei. Selain sebagai dukun yang mengobati penyakit, kerei juga sering melakukan ramalan dan bertindak sebagai shaman. Kerei mengenal beberapa konsepsi mengenai sebab penyakit, yaitu karena jiwa keluar dari tubuh, karena kemasukan roh jahat, karena tubuh kemasukan suatu benda, atau karena si sakit melanggar suatu pantangan. Untuk mengobati orang yang sakit, selain berkomunikasi dengan roh, kerei juga memberikan ramuan obat yang biasanya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Selain itu, dalam pengobatan tertentu ia harus pula menarikan tarian sakral. Untuk menjadi seorang kerei, seseorang — bisa laki-laki bisa juga perempuan — harus melalui beberapa tahap peristiwa, misalnya tiba-tiba mengalami trance, atau mendapat petunjuk lewat mimpi atau jatuh sakit lebih dahulu. Kereilah yang mengetahui tanda-tanda bahwa seseorang “terpilih” untuk menjadi kerei baru.

Setelah mendapatkan pertanda, si calon kerei kemudian dibimbing oleh kerei senior selama beberapa hari untuk diberi pelajaran tentang segala hal yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang kerei. Selama 3 hari 3 malam sang guru menyanyikan mantramantra dan membunyikan lonceng sambil menyekakan daun-daunan tertentu ke tubuh muridnva agar roh tidak mengganggunya, dan agar ia mendapatkan roh pelindung. Bila masa pendidikan selesai, tibalah saatnya si murid dilantik menjadi kerei. Pelantikan dilakukan oleh kerei sibale, yaitu kerei tertua di wilayah tertentu. Kerei sibale inilah yang akan memberikan placanan, yaitu busana yang harus dimiliki seorang kerei, yang terdiri atas gelang untuk pangkal lengan (eilegat bailak), rangkaian bunga di kepala (leilei), jambul dari bulu ekor ayam jantan (bebeget), kain berhias untuk ikat pinggang (lailai), dan seraut bambu yang dihiasi bulu ayam (giring-giring). Setelah dilantik lewat suatu uapacara, kerei baru harus melalui masa punen selama dua hari untuk berdialog dengan roh pelindungnya.

Pada dasarnya praktik sikerei sudah dilarang sejak tahun 1964 oleh pemerintah, karena dianggap sebagai kepercayaan animisme. Larangan resmi ini kemudian mengharuskan orang Mentawai memilih agama besar yang diakui pemerintah. Meskipun secara resmi kepercayaan asli sudah dilarang, praktik sikerei masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi, terutama di pedalaman Siberut.

Incoming search terms:

  • bentuk lailai mentawai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • bentuk lailai mentawai