Advertisement

MENGENAL SUKU BANGSA PASEMAH – Sebagian berdiam di wilayah Kabupaten Lahat dan Ogan Komering Ulu (OKU), Propinsi Sumatra Selatan, sebagian lainnya berdiam di wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu. Di wilayah Kabupaten Lahat mereka berdiam di beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Kotapagaralam, Jarai, Padangtepung. Tanjung- sakti, Kutaagung, Pulaupinang, Kotalahat, Kikim, dan Merapi. Di Kabupaten OKU mereka berdiam di Kecamatan Muaraduakisam dan Kecamatan Pulauberingin. Orang Pasemah di Propinsi Bengkulu seolah- olah terbagi atas dua kelompok, yaitu Pasemah Kedurang dan Pasemah Padangguci. Orang Pasemah Kedurang berdiam di wilayah Kecamatan Manna, sedangkan orang Pasemah Padangguci mendiami Kecamatan Manna, Kaur Utara, Kaur Tengah, dan Bengkulu Sebtan.

Orang Pasemah di Propinsi Sumatra Selatan diperkirakan berjumlah sekitar 60.000 jiwa, sedangkan orang Pasemah Kedurang 3.000 jiwa, dan orang Pasemah Padang Guci 50.000 jiwa pada tahun 1985. Orang Pasemah mempunyai bahasa sendiri, yaitu bahasa Pasemah, sebagai bagian dari rumpun bahasa Melayu. Mereka umumnya memeluk agama Islam. Mereka hidup bertani sawah, berkebun kopi, buah-buahan, dan sayur-mayur.

Advertisement

Orang Pasemah mempunyai kedudukan tersendiri dalam sejarah kebudayaan Indonesia, karena peninggian tradisi megalitik (batu besar) yang berjumlah ratusan, buah. Tradisi megalitik tersebut berupa batu-batu besar yang berfungsi sebagai alat pemujaan, upacara, dan penguburan. Arca-arca megalitik di daerah Pasemah ini sudah mulai diteliti sejak abad ke-19.

Seorang pakar prasejarah, Robert von Heine-Geldem, menyatakan bahwa arca-arca di daerah ini merupakan arca yang lebih dinamis dibandingkan dengan arca megalitik yang ada di daerah lain. Peninggalan tradisi megalitik berupa menhir (batutegak) dengan variasi ukuran 1 — 4,5 meter, berhiaskan pahat-an atau polos. Temuan arca besar di Tinggihari, Mua- radua, Pulaupenggung, dll. memiliki ciri berbeda bila dibandingkan dengan peninggalan megalitik di Sulawesi Tengah, Gunung Kidul, atau Bondowoso. Peninggalan di Pasemah ini lebih halus dan menggambarkan manusia secara utuh. Ada yang digambarkan mengendarai binatang seperti kerbau. Ada pula hiasan, seperti untaian kalung, gelang tangan, gelang kaki. Pahatan gelang mengesankan gelang perunggu, sehingga para ahli berkesimpulan bahwa peninggalan Pasemah ini berasal dari jaman perunggu besi (bronze iron age).

Adapun yang masih diperdebatkan adalah fungsi arca-arca itu. Di situs Tinggihari yang pernah diteliti oleh van der Hoop dan Westenenk pada tahun 1930- an, sebagian arcanya berbentuk tokoh-tokoh manusia, yang mungkin dijadikan sarana pemujaan. Sementara di situs Teguswangi ada sebuah kubur peti batu dengan lukisan menarik. Bagi masyarakat setempat, semua peninggalan itu dikaitkan dengan cerita-cerita mengenai seorang tokoh si Pahit Lidah yang memiliki kesaktian untuk mengubah makhluk hidup menjadi batu dengan kutukannya.

Advertisement