Advertisement

Mendiami gugusan Kepulauan Talaud, yang menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Sangihe Talaud, di Propinsi Sulawesi Utara. Gugusan Kepulauan Talaud terdiri atas tiga pulau utama, yaitu Pulau Karakelong dengan luas 960 kilometer persegi, Pulau Salibabu (120 kilometer persegi), dan Pulau Kaburuan (98 kilometer persegi), dan sejumlah pulau kecil seperti Pulau Ma- napit, Karatung, Magupu, Pintata, Kakolotan, Maroh, Garat, dll. Kepulauan Talaud terbagi atas enam kecamatan, yaitu Kecamatan Beo, Lirung, Essang, Kaba- ruan, Rainis, dan Nanusa.

Orang Talaud sendiri menyebut wilayah kediamannya Taloda atau Taranusa U Taloda. Nama Talaud berasal dari kata taloda, yang artinya “orang laut”, karena pemukiman mereka terletak di tepi pantai. Menurut sumber lain, kata taloda berasal dari kata tau yang artinya “orang”, dan lauda yang artinya “laut”. Sumber lain lagi mengatakan bahwa Talaud disebut juga Porodisa, dari kata poro atau porosa dan diassa, yang masing-masing artinya “pancung” dan “tikam”. Pada nama ini tersirat makna jiwa orang Talaud yang kuat dan memiliki tekad untuk berjuang dalam kehi-dupannya.

Advertisement

Masa silam kehidupan budaya manusia di kepulauan ini ditandai peninggalan-peninggalan seperti pecahan gerabah, kapak perunggu, dan fosil di dalam gua-gua Aluhamu, Totombatu, Tuomane’i, Banada, Balangingi, dll. Kepulauan ini diperkirakan telah dihuni manusia sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Sementara ahli berpendirian bahwa orang Talaud dan orang Sangir termasuk kelompok Melayu Polinesia yang sebagian masuk dari arah utara (Filipina) dan sebagian lainnya dari arah selatan (Maluku).

Orang Talaud mempunyai bahasa yang disebut bahasa Talaud. Bahasa ini sedikitnya terdiri atas enam dialek, yaitu dialek Salibabu, Kaburuan, Karakelong, Essang, Nanusa, dan Miangas. Bahasa ini mempunyai tingkatan-tingkatan bahasa, yaitu tingkat halus, menengah, dan kasar, yang tampaknya terkait dengan stratifikasi sosial yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari orang Talaud juga menggunakan bahasa Melayu Manado dan bahasa Indonesia.

Jumlah orang Talaud di kepulauan ini menurut Sensus Penduduk tahun 1930 adalah 22.794 jiwa dan ditambah 2.037 jiwa yang merantau. Dalam sensus penduduk berikutnya yang mengabaikan data ke- sukubangsaan, jumlah mereka tidak diketahui lagi. Pada tahun 1971 dan 1980 hanya dapat diketahui jumlah penduduk keenam kecamatan tadi, masing-masing sebesar 46.530 jiwa dan 57.764 jiwa. Dalam jumlah tersebut tentu saja sudah termasuk anggota suku bangsa pendatang, meskipun orang Talaud yang mayoritas.

Orang Talaud menempati wilayah pantai yang datar, landai, atau berbukit-bukit sebagai lokasi perkampungannya. Lokasi perkampungan di sekitar pantai itu berhubungan dengan mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Rumah-rumah mereka berderet mengikuti tepi pantai dan menjauh dari hempasan ombak yang sering mengganas.

Rumah-rumah orang Talaud diberi nama bale, da- seng, dan sabua. Bale adalah rumah tinggal dengan konstruksi permanen atau semipermanen dengan bahan bata, batu, kayu, besi, kaca, seng, dll. Sabua adalah rumah darurat dengan bahan kayu, bambu, dan rumbia, sedangkan daseng dipakai untuk menyebut kedua macam rumah itu. Satu rumah biasanya ditempati oleh satu keluarga inti. Pada masa lalu di daerah ini ditemukan rumah besar yang disebut bale manan- du, yang ditempati oleh keluarga luas.

Dalam kehidupan masyarakat Talaud dikenal beberapa pranata gotong-royong. Misalnya ma’aliu, mabboengnga, mattaba. Ma’aliu adalah tolong-menolong dalam pertanian, mendirikan rumah, memagar kebun, dll. Mabboengnga ialah menitipkan bibit (padi, jagung) untuk ditanam di kebun orang lain agar tumbuh dengan baik, karena di kebun sendiri tanahnya tidak subur. Sebagai imbalannya pemilik bibit harus membantu pekerjaan pemilik kebun. Dengan demikian pemilik bibit yang tanahnya tidak subur dapat pula menikmati masa panen. Mattaba adalah bekerja sama menangkap ikan atau berburu binatang liar di hutan. Hasil yang diperoleh dibagi sama rata. Apabila tidak banyak, hasil tangkapan itu dimasak lebih dahulu dalam satu wadah dengan kuah yang banyak. Yang berhak memperoleh dagingnya hanya para pemuka masyarakat, sedangkan anggota yang lain hanya memperoleh kuahnya.

Pada masa lalu orang Talaud mengenal adanya stratifikasi sosial, yang terdiri atas golongan bangsawan (papung), golongan orang kebanyakan, dan golongan budak (allangnga). Golongan-golongan itu sekarang semakin hilang, tetapi golongan bangsawan masih mempertahankan silsilahnya, terutama untuk pedoman pemilihan jodoh. Adat yang terpelihara dalam kehidupan masa kini adalah penghormatan terhadap pemimpin adat, dan pemimpin agama, di samping pejabat pemerintah.

Incoming search terms:

  • bahasa talaud
  • suku talaud
  • belajar bahasa talaud
  • agama suku talaud
  • Bahasa daerah suku talaud
  • bahasa daerah porodisa
  • arti talaut
  • arti talaud
  • arti dari porodisa
  • arti dari nama talaud

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • bahasa talaud
  • suku talaud
  • belajar bahasa talaud
  • agama suku talaud
  • Bahasa daerah suku talaud
  • bahasa daerah porodisa
  • arti talaut
  • arti talaud
  • arti dari porodisa
  • arti dari nama talaud