Advertisement

MENGENAL SURAT KABAR PEDOMAN – Surat kabar harian yang terbit di Jakarta pertama kali pada tanggal 29 November 1948, didirikan oleh Rosihap Anwar yang sejak itu menjadi pemimpin redaksinya. Dua tahun sebelumnya, awal Januari 1947, bersama Soedjatmoko ia mendirikan majalah Siasat. Sebelum mendirikan penerbitan pers sendiri, ia adalah wartawan surat kabar Asia Raya pada masa pendudukan Jepang dan redaktur harian Merdeka sesudah Proklamasi Kemerdekaan.

Harian, yang lahir kurang dari dua minggu menjelang agresi militer Belanda ke-2 pertengahan Desember 1948, ini termasuk sarana penerangan yang penting bagi pihak republik di daerah pendudukan di Jakarta, di samping surat-surat kabar lainnya, seperti Merdeka dan Berita Indonesia. Berita perlawanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) terhadap serangan Belanda mendapatkan tempat di halaman Pedoman, sementara tajuk-tajuknya yang ditulis oleh Rosihan Anwar terus pula mengecam Belanda. Karena tidak senang dengan isi surat kabar ini, pada tanggal 31 Januari 1949 Belanda melarangnya terbit.

Advertisement

Pada tahun 1950, Pedoman mengecam pemogokan yang dilakukan Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia (Sarbupri) yang dikuasai Partai Komunis Indonesia (PKI). Buruh golongan komunis di percetakan Nideum, tempat harian ini dicetak sebelum mendirikan percetakan sendiri, membalas dengan aksi tidak mau mencetak surat kabar ini selama tiga hari.

Ditutup. Sebagai surat kabar politik, harian ini tergolong sebagai penyalur suara Partai Sosialis Indonesia (PSI) dalam percaturan politik nasional. Menjelang akhir 1956, terjadi pengambilalihan kekuasaan dan pembangkangan terhadap pemerintah pusat oleh beberapa panglima militer di Sumatra, dan kemudian di Sulawesi, pada bulan Maret 1957. Pedoman dan beberapa surat kabar lainnya mengambil posisi sama dengan PSI dan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang tidak mengecam gerakan tersebut.

Penilaian dan sikap surat kabar ini terhadap pemerintah yang berkuasa antara tahun 1950 dan 1958 didasarkan pada kebijaksanaan politik yang ditempuh. Pedoman menyokong Perdana Menteri Sukiman ketika pemerintahnya menindak PKI, tetapi menentang Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo yang didukung PKI. Sejak tahun 1958, surat kabar ini meningkatkan kritik terhadap Presiden Sukarno. Hal ini sejalan dengan garis oposisi yang ditempuh PSI, yang menilai kehidupan demokrasi semakin dikekang.

Akibat tindakannya menandatangani pernyataan itu, Rosihan Anwar diberhentikan sementara dari jabatannya sebagai anggota International Press Institute (IPI). Pemberhentian ini dilakukan atas pengaduan anggota IPI lainnya, Mochtar Lubis, pemimpin redaksi harian Indonesia Raya yang sudah lebih dahulu dilarang terbit. Rosihan Anwar segera mengirim surat protes kepada IPI dan membela diri bahwa persetujuannya terhadap peraturan pemerintah bagi penerbitan pers tidak berarti menyerah pada pengekangan kebebasan pers.

Terbit Kembali. Baru pada tanggal 29 November 1968, Pedoman memperoleh izin terbit kembali dari pemerintah Orde Baru. Ada tiga harian nasional lainnya yang ditutup pada masa Orde Lama dan boleh muncul kembali pada masa Orde Baru, yakni Abadi Nusantara, dan Indonesia Raya.

Kolom Rosihan Anwar sewaktu menjadi penulis untuk beberapa harian di Jakarta selama surat kabarnya ditutup, yang diberi nama “Peta Bu ‘ Politik Sekarang,” diteruskannya dalam Pedoman. Kekhasan tulisannya seperti itu pernah diperlihatkannya sebelum itu. Sekitar pertengahan Agustus 1949, ia meninggalkan tanah air untuk meliput Konferensi Meja Bundar (KMB) tentang penyelesaian sengketa Indonesia-Belanda di Den Haag, dan setelah itu berkelana selama lebih dari delapan bulan. Selama itu ia terus mengirimkan tulisan yang dimuat oleh surat kabarnya. Kemudian, pada bulan Juni 1959, ia menulis tajuk bersambung berjudul “Kelana B: ; a” sebanyak 33 kali, yang menceritakan perlawatannya berkeliling di beberapa negara Eropa.

Mulai penengahan 1970, pers nasional, termasuk Pedoman, memberitakan gerakan mahasiswa yang mengecam masalah korupsi. Gerakan tersebut memuncak dalam bentuk kerusuhan di Jakarta pada awal tahun 1974, yang terkenal dengan sebutan “Peristiwa Malari” (“Malapetaka 15 Januari”). Karena pem-beritaannya yang dinilai pemerintah ikut memanaskan suasana, Pedoman, bersama sepuluh surat kabar lainnya dan satu majalah berita, dilarang terbit untuk seterusnya.

Incoming search terms:

  • HARIAB PEDOMAN DARI PSI
  • pedoman surat kabar
  • surat kabar pedoman

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • HARIAB PEDOMAN DARI PSI
  • pedoman surat kabar
  • surat kabar pedoman