Advertisement

MENGENAL SURAT KABAR PEMANDANGAN – Yang pada mulanya berbentuk surat kabar mingguan, mempunyai peranan yang penting sebagai media bagi kaum pergerakan kemerdekaan pada masa penjajahan Belanda sebelum Perang Duni« II. Diterbitkan di Jakarta, surat kabar ini pertama k; ii muncul pada tanggal 8 April 1933 di bawah pimpinan Saeroen. Bulan Oktober tahun itu juga, Sae- roen bekerja sama dengan Raden Haji Oene (R.H.O.) Djoenaidi, pengusaha asal Tasikmalaya di Jawa Barat, untuk memperoleh dukungan dana bagi kelangsungan hidup penerbitan ini. Berkat kerja sama itu, surat kabar mingguan ini bahkan dapat ditingkatkan menjadi harian.

Sebagai salah satu koran pergerakan yang utama, Pemandangan menampilkan banyak wartawan yang sekal ;us menjadi tokoh perjuangan. Harian ini juga sering memuat tulisan para pemimpin politik, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Tjipto Mangoenkoesoe- mo, G.S.S.J. Ratulangi, M. Hoesni Thamrin, H. Agus Salim, dan Moewardi.

Advertisement

Saeroen menjabat pemimpin umum dan pemimpin redaksi sampai saat mengundurkan diri pada bulan Januari 1936. Pimpinan harian ini selanjutnya dikendalikan berturut-turut oleh D. Koesoemaningrat (sampai Juni 1936), M. Tabrani (Juli 1936-Oktober 1940), Soemanang Soeriowinoto (Oktober 1940-April 1942 , R.H.O. Djoenaidi dan Anwar Tjokroaminoto (Oktober 1949-Maret 1950), R.H.O. Djoenaidi dan A. Hamid (sampai Juli 1951), M. Tabrani (sampai April 1952), R.H.O. Djoenaidi dan Asa Bafagih (sampai Desember 1953), serta R.H.O. Djoenaidi dan A. Hamid sampai berhenti terbit pada tahun 1956.

Menjelang akhir penjajahan Belanda, surat kabar ini dilarang terbit setelah memuat tajuk rencana yang menyerukan supaya Indonesia membentuk pemerintahan sendiri karena negeri Belanda sudah menjadi jajahan Jerman. Dengan judul “Soembangan Indonesia”, tajuk itu mengungkapkan serangan tentara Nazi Jerman terhadap Belanda hanya dalam waktu lima hari. Tajuk yang dimuat dalam edisi tanggal 16 Mei 1940 tersebut dianggap menghasut rakyat dan mengganggu kestabilan pemerintah Hindia Belanda. Keesokan harinya, harian ini dilarang terbit selama seminggu sampai tanggal 24 Mei.

Larangan terbit yang kedua dialami pada masa pendudukan Jepang. Pada tanggal 29 April 1942, halaman depan harian ini memuat foto Kaisar Hirohito untuk memperingati hari ulang tahunnya. Tetapi karena kesalahan teknis di percetakan, foto itu terkena cetakan bulatan merah bendera Jepang, Hinomaru. Penguasa militer Jepang menganggapnya sebagai penghinaan terhadap kaisar sehingga Pemandangan kemudian ditutup untuk seterusnya. Bahkan pemimpin redaksinya, Soemanang, ditahan. Sesudah peristiwa itu, beberapa wartawannya termasuk Anwar Tjokroaminoto bekerja di harian Asia Raya yang diterbitkan oleh tentara pendudukan Jepang.

Harian ini dapat terbit kembali di bawah pimpinan R.H.O. Djoenaidi dan Anwar Tjokroaminoto pada bulan Oktober 1949, menjelang ‘pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda.

Demonstrasi Wartawan. Surat kabar ini pernah terlibat dalam pengalaman istimewa dalam sejarah pers Indonesia, ketika keteguhannya berpegang pada hak ingkar wartawan mendapat dukungan dari demonstrasi para wartawan pada tahun 1953. Ini merupakan demonstrasi wartawan yang pertama kali dan satu-satunya yang pernah terjadi di Indonesia.

Peristiwa itu bermula dari pemberitaan surat kabar ini tanggal 18 Maret 1953 tentang rencana pemerintah yang mengizinkan penanaman modal asing untuk 21 jenis industri. Perdana Menteri Wilopo mengadukan Pemandangan kepada Kejaksaan Agung agar dituntut di muka pengadilan karena menganggap berita itu sebagai pembocoran rahasia negara. Dalam pemeriksaan, baik di Kejaksaan Agung maupun oleh seorang jaksa tinggi, Pemimpin Redaksi Asa Bafagih tidak bersedia mengungkapkan sumber berita itu dan menyebutnya hanya «ebagai berita biasa.

Pada waktu hampir bersamaan, Bafagih diperiksa oleh kejaksaan sehubungan dengan pemberitaan harian ini tahun sebelumnya mengenai rencana gaji baru untuk pegawai negeri. Berita itu, yang dimuat pada tanggal 21 Agustus 1952, juga dianggap sebagai pembocoran rahasia negara, dan Bafagih diminta menyebutkan sumber beritanya. Sekali lagi ia menolak mengungkapkan sumber berita itu dan menganggapnya sebagai berita biasa.

Pendirian Bafagih mendapat dukungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) baik Pusat maupun Cabang Jakarta, Serikat Perusahaan Surat Kabar (SPS), dan juga korps wartawan asing di Jakarta dan International Press Institute (IPI) di Zurich, Swis. Dukungan ini memuncak dalam bentuk demonstrasi pada tang-gal 5 Agustus 1953. Demonstrasi itu dilakukan oleh lebih dari seratus wartawan ibu kota bersama beberapa ratus pekerja surat kabar dan percetakan, beberapa puluh mahasiswa Akademi Wartawan, dan para anggota pengi rus PWI Cabang Jakarta dan Pusat serta SPS. Para demonstran membacakan petisi di Kejaksaan Agung, gedung parlemen, dan kantor Kabinet Per-dana Menteri. Petisi itu menyerukan pembatalan tuntutan pemerintah terhadap Bafagih dan meminta pengakuan atas hak ingkar wartawan. Selain itu, mereka menyinggung beberapa perlakuan “tidak selayaknya” yang dialami sejumlah wartawan di kota-kota lain. Pemerintah akhirnya tidak melanjutkan penuntutannya.

Bafagih pada awal tahun berikutnya pindah ke harian Duta Masjarakat untuk memimpin organ Nahdlatul Ulama itu, dan pimpinan Pemandangan beralih ke tangan R.H.O. Djoenaidi dan A. Hamid. Tetapi surat kabar ini secara ekonomi perusahaan tidak dapat bertahan lama sehingga pada tahun 1956 terpaksa berhenti terbit.

Incoming search terms:

  • harian pemandangan
  • koran pemandangan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • harian pemandangan
  • koran pemandangan