Advertisement

MENGENAL SURAT KABAR RAKYAT – Merupakan salah satu surat kabar tua di daerah dan satu-satunya harian di Indonesia bagian timur yang didirikan pada masa perjuangan kemerdekaan yang tetap terbit sampai sekarang. Harian ini diterbitkan di Ujungpandang sejak tanggal 1 Maret 1947 dan didirikan oleh Henk Rondonuwudan Sugardo. Sebagai pendukung pihak Republik selama perang kemerdekaan melawan Belanda, pengasuhnya tidak jarang dipanggil Dinas Rahasia Polisi Belanda untuk mempertanggungjawabkan isi koran ini. Henk Rondonuwu pernah dipenjarakan selama tiga bulan dengan tuduhan penghinaan, dan Sugardo diusir dari Makasar (sekarang Ujungpandang) pada bulan Oktober 1947 karena dituduh menghasut.

Surat kabar yang terutama beredar di daerah SuU vesi Selatan ini mula-mula hanyalah sebuah penerbitan stensilan bernama Pedoman; sekali terbit tebalnya 12 sampai 16 halaman. Koran ini waktu itu menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Belanda, pada tanggal 17 Agustus 1948, para pengelolanya menerbitkan surat kabar stensilan yang lain, juga dalam bahasa Indonesia dan Belanda, bernama pedoman Harian. Harian baru itu dipimpin oleh Lazarus Eduard (L.E.) Manuhua sebagai pemimpin redaksi.

Advertisement

Manuhua bergabung dengan Pedoman sebulan setela! mulai terbit. Surat kabar ini berubah nama menjadi Pedoman Rakyat sejak dua penerbitan pers lainnya di Ujungpandang, Wirawan dan Nusantara, bergabung dengan surat kabar ini” pada tahun 1949. Perubahan nama itu dilakukan karena di Jakarta sejak bulan November 1948 telah terbit harian Pedoman yang dipimpin Rosihan Anwar. Pedoman Rakyat mula-mula terbit dengan oplah 4.000 eksemplar.

Selama beberapa dasawarsa belakangan, Manuhua menjadi pemimpin umum dan pemimpin redaksi Pedoman Rakyat dan kini menjadi pemilik tunggal surat kaba- ini. Ia adalah salah seorang pengelola media pers di Indonesia yang paling lama menempati kedua jabatan tersebut. Wartawan Muhammad Basir pernah ikut mengelola surat kabar ini sebagai pemimpin redaksi, sebelum meninggal pada tahun 1986. Manuhua pernah menjadi wartawan harian Sinar Matahari yang diterbitkan oleh penguasa militer Jepang di Ujungpandang selama Perang Dunia II. Kemudian ia menjadi wartawan surat kabar Masa di kota yang sama pada tahun 1946-1947, sebelum bergabung dengan Pedoman.

Dalam umurnya yang cukup panjang, Pedoman Rakyat tidak pernah mengalami pembredelan karena alasan politis ataupun berhenti terbit karena kesulitan keuangan atau teknis. Surat kabar ini sekarang mempunyai percetakan offset dan gedung kantor sendiri serta toko buku. Kini oplahnya sekitar 20.000 eksemplar. Koran ini selama beberapa dasawarsa menempati peringkat teratas dalam sirkulasi media pers di wilayah Indonesia bagian timur. Tetapi pada pertengahan tahun 1990 oplah itu dapat dikejar oleh pesaingnya di Ujungpandang, Fajar, yang juga terbit pada pagi hari. Fajar semula hidup tersendat-sendat, tetapi bangkit kembali pada akhir tahun 1988 setelah mendapat modal baru dari penerbit majalah Tempo di Jakarta.

Advertisement