Advertisement

Adalah upacara tradisional untuk memperingati tahun baru dalam penanggalan Jawa. Suro adalah bulan pertama kalender Saka ciptaan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang permulaannya ditandai dengan 1 Sura tahun Alip 1555 Saka, bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan 8 Juli 1933 Masehi. Kebesaran 1 Suro bagi rakyat dan bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kebesaran jiwa Sultan Agung. Nilai kebesaran yang terkandung di dalam pengadaan penanggalan bagi rakyat Mataram waktu itu adalah tampilnya unsur kepribadian asli dengan dipakainya perhitungan perwukuan (pawukon) dan windu yang menimbulkan peristiwa tumbuk yang dikagumi oleh ahli-ahli kalender dunia Barat; kedua, tampilnya unsur kerukunan rakyat Mataram, ketika penanggalan tahun Saka mewujudkan usaha penyesuaian dengan hitungan penanggalan tahun Hijriah hingga terkadang terjadi peristiwa pergantian kurup; ketiga, tampilnya karya tradisional yang bukan saja merupakan penanggalan yang mencatat peredaran waktu melainkan sekaligus berfungsi sebagai sarana penetap waktu dalam melangsungkan berbagai hajat penting dalam tata kehidupan manusia yang relevansinya masih dirasakan hingga saat ini, terutama di kalangan masyarakat Jawa.

Musyawarah Nasional Kepercayaan (Kebatinan, Kejiwaan, Kerohanian) yang berlangsung pada Desember 1970 di Yogyakarta menetapkan 1 Suro sebagai hari besar kepercayaan. Peringatan Hari Besar 1 Suro diisi dengan semadi atau menekung ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa; bersih diri jasmani dan rohani; bersih desa, tempat tinggal, pekarangan, saluran air, pusaka dan makam leluhur; sesaji bubur suran merah putih; mendirikan gapura-gapura berhiaskan janur kuning; dan pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Advertisement

 

Advertisement