Advertisement

Tokoh pergerakan nasional Indonesia, pendiri organisasi Boedi Oetomo (1908). Sutomo lahir di desa Ngepeh, Kabupaten Nganjuk pada 30 Juli 1888. Sewaktu lahir, ia dinamai Subroto dan diganti menjadi Sutomo menjelang masuk sekolah di Bangil. Sejak kecil ia diasuh kakek dan neneknya. Dari mereka, selain kasih sayang, ia memperoleh didikan kuat dalam kedisiplinan dan dalam bidang agama.

Ia tumbuh pada jaman ketika pemerintah Hindia Belanda telah membuka pintu Indonesia bagi modal asing sejak 1871, baik dari Belanda maupun negara-negara Barat lainnya. Dalam perkembangannya, politik pintu terbuka itu menguras kekayaan rakyat Indonesia. Perkebunan-perkebunan gula, kopi, teh, tembakau, dan lain-lain yang dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda, hanya mendatangkan keuntungan bagi pemerintah, sedangkan rakyat pedesaan semakin lama semakin miskin.

Advertisement

Setamat sekolah rendah di Bangil, ayahnya mengharapkan ia meneruskan ke Sekolah Dokter Jawa. Ia memenuhi keinginan itu dan pada 10 Januari 1903 mendaftarkan diri di STOVIA. Sebagai mahasiswa, ia memperoleh kesempatan bertugas di daerah Semarang. Pada masa itulah ia menyaksikan penderitaan masyarakat karena terjangkit berbagai penyakit. Dengan pengalaman ini ia menyimpulkan bahwa pemerintah Hindia Belanda tidak memperhatikan kesehatan rakyat jelata.

Setelah masa tugasnya di Semarang berakhir, ia ditugaskan di Tuban dan Sumatra Timur. Penderitaan rakyat yang sama kembali dijumpainya di daerah itu. Keprihatinannya terhadap keadaan sedemikian mendorongnya terjun ke kancah pergerakan nasional.

Pada akhir 1907 di Jakarta ia mendukung gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo untuk membentuk “dana belajar”. Selanjutnya, ia membahas gagasan itu bersama rekan-rekannya di STOVIA. Hasil diskusi itu berkembang dengan membicarakan rencana pembentukan suatu organisasi. Organisasi tersebut terbentuk pada 20 Mei 1908 di Jakarta, dengan nama Boedi Oetomo, dan Sutomo ditunjuk sebagai ketuanya. Organisasi itu segera mendapat dukungan secara luas dari kalangan cendekiawan di Pulau Jawa. Beberapa langkah yang diambil Boedi Oetomo adalah membentuk sekolah-sekolah, seperti Sekolah Pertanian di Bogor, Kweekschool di Yogyakarta, dan OS VIA di Malang.

Pada 1909 ia melanjutkan studi dokternya di Belanda dan aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia (PI). Empat tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia dan diangkat menjadi lektor di sekolah kedokteran di Surabaya. Untuk menambah penghasilan, ia membuka praktik di rumahnya pada sore hari.

Pada 12 Juli 1924 ia mendirikan Indonesische Studie Club atau sering disebut Studie Club di Surabaya. Sejak itu, ia duduk dalam Dewan Kota (Gemeenteraad) Surabaya. Ia bersedia menerima jabatan itu berdasarkan pertimbangan bahwa melalui dewan tersebut ia dan rekan-rekannya dapat memperjuangkan aspirasi rakyat. Perjuangannya dengan Studie Club itu sering mendapat tantangan organisasi-organisasi Belanda yang juga duduk dalam Dewan Kota, seperti Vaderlandse Club (VC), Politik Economische Bond (PEB) dan Indo Europese Verbond. Perkumpulan- perkumpulan ini hanya membela kepentingan pribadi. Aspirasi dan keinginan rakyat Indonesia yang diperjuangkannya melalui Studie Club di Dewan Kota selalu menemui kegagalan karena kursi-kursi di dewan itu dikuasai perkumpulan-perkumpulan Belanda. Karena perjuangannya dalam Dewan Kota sering gagal, pada 14 Maret 1925 ia keluar dari keanggotaan dewan itu yang kemudian diikuti rekan-rekannya.

Ia kemudian giat dalam dunia pers. Bersama Ir. Sukarno ia mengasuh majalah Soeloeh Indonesia Moeda, yang merupakan gabungan Soeloeh Indonesia (milik Studie Club Surabaya) dan majalah Indonesia Moeda (milik Studie Club Bandung). Setahun kemudian, 1927, ia aktif dalam federasi Permufakatan Per- himpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Pada masa krisis ekonomi dunia (malaise) pada 1930-an yang dampaknya juga terasa di Indonesia, bersama rekan-rekannya, ia mendirikan perkampungan di Jalan Gresik untuk membina angkatan kerja yang belum memperoleh pekerjaan. Mereka merintis usaha di bidang kerajinan dan mendirikan sekolah pertenunan guna melatih tenaga-tenaga terampil.

Usaha-usaha Sutomo di bidang sosial-ekonomi sering dikecam kaum pergerakan nasional berhaluan radikal. Mereka menganggap usahanya sebagai kegiatan tambal sulam belaka. Menurut mereka, sistem ekonomi kolonial harus dihancurkan lewat aksi- aksi radikal dan massal. Meskipun demikian, mereka tetap menghormati peranannya dalam pergerakan nasional.

Pada 1930 ia mendirikan Partai Bangsa Indonesia (PBI) dan dengan demikian mengawali peran politiknya. Pada 1935 ia berhasil menggabungkan partai itu dengan Boedi Oetomo dan membentuk Partai Indonesia Raya (Parindra). Karena sakit yang dideritanya, ia meninggal dunia pada 30 Mei 1938. Jenazahnya dikebumikan di belakang Gedung Nasional di Bubutan, Surabaya. Pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional (1961).

Advertisement