Advertisement

Terletak sekitar 8 kilometer sebelah utara pusat kota Bandung, Propinsi Jawa Barat. Berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung di Curug Dago, secara administratif sebagian daerah ini termasuk wilayah desa Ciburial, Kecamatan Cicadas dan sebagian yang lain termasuk desa Pagerwangi dan desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Dengan perluasan wilayah Kota Madia Bandung, kawasan ini termasuk wilayah Kota Madia Bandung.

Kawasan seluas 590 hektar ini berada pada ketinggian 770 – 1.330 meter di atas permukaan laut. Suhu bagian lembahnya berkisar 22° – 24°C. Curah hujannya rata-rata 2.226 milimeter per tahun.

Advertisement

Sebelum menjadi taman hutan raya, kawasan ini dulu dikenal dengan nama Dago Pakar. Statusnya semula adalah hutan lindung yang batas-batasnya ditentukan pada tahun 1922. Di atas areal seluas 30.000 hektar saat itu, kawasan hutan lindung ini mulai ditanami berbagai pohon yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Atas gagasan Gubernur Propinsi Jawa Barat, hutan lindung ini lalu diresmikan sebagai kebun raya/hutan rekreasi dengan nama Hutan Rekreasi Ir. H. Djuanda, pada tanggal 23 Agustus 1965. Pada tanggal 12 November 1984, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan, ditetapkan bahwa taman ini berubah menjadi Taman Hutan Raya Nasional Ir. H. Djuanda. Pengukuhannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 14 Januari 1985, bertepatan dengan peringatan hari lahir Ir. H. Djuanda.

Tumbuhan dan pepohonan yang memenuhi taman hutan raya ini terdiri atas sekitar 2.500 pohon yang termasuk dalam 40 famili dan 108 spesies, yakni cemara Sumatra, kayu taji, kenanga, mahoni Uganda, bayur dari Sulawesi, kemiri dari Maluku, jati dari Jawa, mahoni daun besar dari Honduras, pohon sosis dari Afrika Tropis, pinus atau tusam dari Filipina, tusam meksiko dari Meksiko, dan kaliandra dari Amerika Tropis.

Di kawasan ini terdapat juga gua peninggalan Belanda dan Jepang. Gua peninggalan Belanda, semula adalah terowongan air untuk keperluan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Bangkok, kemudian berubah fungsi sebagai Pusat Komunikasi Radio Belanda. Pada masa pendudukan Jepang gua-gua ini berfungsi sebagai benteng pertahanan, dan sekitar tahun 60-an, dimanfaatkan sebagai gudang amunisi.

Di sebelah timur hutan raya ini terdapat sebuah kolam milik PLN yang disebut Kolam Pakar. Kolam ini merupakan tempat pemancingan. Sekitar 3 kilometer dari taman hutan raya, terdapat Curug Dago, sebuah air terjun yang merupakan tempat rekreasi yang nyaman.

Taman ini dibangun untuk tempat rekreasi, tempat penelitian, tempat bakti Pramuka, tempat pendidikan bagi pecinta alam, tempat pemeliharaan tumbuh- tumbuhan, sekaligus untuk perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung.

Advertisement