Advertisement

Minuman teh tradisional berupa teh dalam botol yang diproduksi oleh PT Sinar Sosro, pelopor lahirnya industri minuman ringan khas Indonesia. Sukses minuman teh botol ini kemudian menjadi sumber ilham bagi banyak pengusaha nasional lain untuk memodernisasi proses pembuatan produk-produk tradisional seperti jamu dan berbagai jenis minuman tradisional. Cikal bakal perusahaan ini didirikan dalam tahun 1930-an di kota Slawi, Jawa Tengah, oleh Sosrodjojo alias Souw Hway Gie. Produk perusahaan ini semula berupa teh kering dengan kemasan kertas yang dijual dengan merek Teh Cap Botol. Sepeninggal pendirinya, usaha ini dilanjutkan oleh kedua anak Sosrodjojo yang bernama Sugiharto dan Sutjipto. Di bawah kendali dua bersaudara ini perusahaan itu makin berkembang. Untuk menjaga kepastian sumber bahan bakunya, pada tahun 1970 perusahaan tersebut membeli sebuah perkebunan teh seluas 900 hektar di daerah Garut, Jawa Barat, yang dinamai PT Sinar Imesco. Dengan berkembangnya aset dan kapasitas produksi, dibutuhkan tenaga yang mampu menangani pemasarannya secara lebih ekstensif dan profesional. Atas kebutuhan itu mereka memutuskan untuk memanggil pulang adik bungsu mereka, Surjanto Sosrodjojo, yang sedang memperdalam ilmu dalam bidang perbankan dan pemasaran di Universitas Manheim di Jerman Barat. Bersama-sama, mereka mendirikan PT Sinar Sosro dalam tahun 1975.

Sejak itu pemasaran Teh Cap Botol diaktifkan dengan mengubah pola pemasaran tradisional ke pola pemasaran yang berorientasi kepada konsumen. Untuk meyakinkan konsumen akan mutu dan rasa produknya, tim pemasaran Sosro membawa seperangkat alat-alat masak, air dan teh bubuk ke pasar-pasar. Di hadapan konsumen, mereka langsung memperagakan cara penyeduhan teh yang benar, sehingga dapat dihidangkan dengan nikmat dan wangi teh asli.

Advertisement

Supaya lebih praktis, mereka kemudian membagikan teh seduhan dalam botol sebagai sampel kepada konsumen di pasar. Dari bentuk pemasaran yang tampak sederhana.itu, lahirlah sebuah inovasi: minuman teh yang dikemas dalam botol dan ditawarkan langsung kepada masyarakat konsumen.

Mula-mula hampir semua toko calon penyalur menolak dengan alasan tidak mungkin laku, karena teh merupakan minuman sehari-hari di rumah, dan setiap orang dapat membuatnya sendiri. Tetapi, justru keyakinan bahwa teh adalah minuman kegemaran sehari-hari yang membuat Surjanto makin percaya bahwa produknya akan laku keras. Menghadapi tantangan ini Surjanto memutuskan untuk menjual produknya langsung kepada konsumen. Melalui sebuah iklan sederhana, ia mengundang para pedagang kaki lima yang tidak memiliki modal untuk bekerja sama mengkampanyekan dan mengoperasikan penjualan teh botol di pinggir-pinggir jalan di seluruh kota Jakarta. Masing-masing dibekali sebuah kotak pendingin dan sebuah payung merah besar dan mencolok dengan merek Sosro. Sambutan konsumen ternyata luar biasa. Dalam waktu beberapa bulan saja permintaan telah melampaui kapasitas produksi yang baru 500 krat (masing-masing berisi 24 botol) per hari. Toko-toko pengecer yang semula menolak menyalurkan teh botol segera berebut menjadi pengecer. Dalam waktu relatif singkat, teh botol telah mampu menggantika tempat minuman ringan lain dalam berbagai pertemuan, rapat, dan di tempat pesta.

Incoming search terms:

  • arti kata sosro
  • makna bahasa kata sosro
  • apa arti kata sosro
  • deskripsi advertisment teh botol sosro
  • arti sossro
  • arti lain dari sosro
  • apa sih arti sosro pada teh botol
  • apa makna dari kata sosro
  • apa arti sosro
  • makna kata sosro

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti kata sosro
  • makna bahasa kata sosro
  • apa arti kata sosro
  • deskripsi advertisment teh botol sosro
  • arti sossro
  • arti lain dari sosro
  • apa sih arti sosro pada teh botol
  • apa makna dari kata sosro
  • apa arti sosro
  • makna kata sosro