Advertisement

Dalam pengembangan teknologi peroketan, Indonesia telah tercatat sebagai negara kedua di Asia, setelah Jepang, yang berhasil meluncurkan roketnya. Prestasi ini ditorehkan melalui keberhasilan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), yang diresmikan pada31 Mei 1962. LAPAN meluncurkan roket pertamanya “Kartika 1″ (diberi nama oleh Presiden Soekarno) pada 14 Agustus 1964.             Keberhasilan ini tidak lepas dari bantuan Pemerintah Uni Soviet (sekarang Rusia) yang hubungan dengan Indonesia ketika itu amat erat. Akan tetapi, setelah

1965,     hubungan politik yang renggang dengan Uni Soviet mengakibatkan transfer teknologi yang sudah dirintis akhirnya berhenti. Sementara itu, negara-negara Asia lain yang lebih belakangan menekuni teknologi ini seperti India dan Cina, akhirnya melampaui Indonesia karena mampu meluncurkan roket pengangkut satelit ke antariksa.

Advertisement

Sejak persenjataan TNI diembargo oleh pemerintah Amerika Serikat, seluruh sistem persenjataan TNI hampir lumpuh. Untunglah, para cendekia dirgantara Indonesia mampu menciptakan roket dengan bahan bakar buatan sendiri. LAPAN telah melepas beberapa karyanya. Lembaga ini mengembangkan terus beberapa jenis roket dan mengangkasakannya untuk keperluan sipil dan militer. LAPAN membuat propelan, yaitu bahan bakar berupa bahan kimia yang mampu memberikan kinerja pada motor roket, yang berstandar internasional, dan bekerja sama dengan TNI-AU untuk membuat roket pelontar pesawat F-16 serta pesawat pemburu lain.

Beberapa jenis roket yang dibuat oleh LAPAN antara lain roket RX-100 berjangkauan 4,1 km (Gambar 8.63), roket RX 100/100 bertingkat dua dengan jangkauan 14,6 km, roket RX-150 (12) berjangkauan 14,5 km, dan roket RX-150 (15) (balistik/ tanpa kendali) dengan daya jangkau 13 km (bekerja sama dengan Pindad). Beberapa jenis dan ukuran roket itu diuji coba di Stasiun Peluncuran Roket (Straspro) yang didirikan pada 1963 di pantai Cilauteureun (Pameungpeuk, Jawa Barat).

Selain LAPAN, PT Dirgantara Indonesia juga merakit roket jenis RX-70 MN atau RS-70 FFAR berjangkauan 6,5 km yang merupakan Folding Fin Aerial Rocket (FFAR) seperti yang digunakan pula oleh Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan roket balistiknya. Produksi yang dapat dikatakan spektakuler adalah roket RX-250 berjangkauan 51.3 km, yang setelah diaktivasi hanya memerlukan 10 detik waktu pembakaran sebelum meluncur ke angkasa lepas. Roket ini-yang akan dikembangkan menjadi roket jelajah-diluncurkan dengan sudut elevasi 70°, dan mampu mencapai ketinggian 27,9 km.

Roket RX-2428 yang menggunakan motor generasi ketiga dan RX-2728 diproyeksikan sebagai cikal bakal pengembangan roket jelajah, yang diharapkan mampu menjangkau jarak 300 km. LAPAN akan melepas roket balistik RX-420 dengan daya jangkau 400 km pada 2010. Selain itu, akan dibuat pula roket kendali berdaya jelajah 1.000 km.

Roket Meteorologi (Romet) merupakan proyek bersama Pusat Teknologi Dirgantara (PUSTEGAN) dan LAPAN. Roket RX berbahan bakar padat itu memiliki diameter 150 mm dan 300 mm. LAPAN kini sudah berhasil menguasai pembuatan propelan, yaitu bahan bakar padat komposit yang dihasilkan dari gabungan

antara polimer HTPB (hydroxy terminated poly butadiene) dengan AP (ammonium perchlorat), dan IPDI (isophorone diisocyonate). Dengan keberhasilan ini Indonesia dapat mengatasi masalah embargo yang dilakukan oleh negara-negara maju. Bahkan LAPAN akan terus meningkatkan pembuatan propelan hingga mencapai 1 ton pada tahun 2008, kemudian 2 ton pada 2009, dan 4 ton per tahun pada 2010, karena ternyata kualitas propelan buatan, LAPAN lebih baik daripada propelan impor. Selain itu, kini sedang dikaji agar propelan padat dapat ditingkatkan menjadi propelan cair sehingga penggunaannya lebih dapat diatur.

Advertisement