Advertisement

MENGENAL UPACARA KEHAMILAN – Salah satu dari beberapa upacara ritual yang berhubungan dengan masa perali­han individu dalam lingkaran kehidupannya. Menurut anggapan banyak kebudayaan, saat peralihan dari tingkat yang satu ke tingkat lain dalam hidup individu itu merupakan saat-saat gawat, yang penuh bahaya, nyata maupun gaib. Karena itu upacara-upacara pada saat semacam ini diadakan dengan suatu maksud ter­tentu, yaitu menolak bala atau bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungannya.

Hampir semua suku bangsa di dunia, termasuk di Indonesia, mengenal upacara ritual sehubungan de­ngan masa kehamilan. Berikut ini contoh upacara ke­hamilan pada beberapa suku bangsa di Indonesia.

Advertisement

Suku Bangsa Dayak Otdanum di Kalimantan Te­ngah mengenal upacara kehamilan dengan sebutan nyakik bokon atau makik di I lit atau sengkelan hamil atau sengkelan kandung. Kata nyakik atau makik atau sengkelan, tepung tawar, mengandung arti bahwa se­mua alat-alat yang akan digunakan dalam upacara ini harus disucikan dari roh-roh jahat, dengan meng­gunakan darah babi sebagai pencucinya. Kata dillit atau bokon berarti sejenis ikat pinggang dari kain ber­warna hitam. Upacara nyakik bokon atau dillit ini dia­dakan pada kehamilan pertama antara usia kehamilan tiga dan sembilan bulan, tetapi biasanya dilakukan pa­da usia kehamilan ketiga atau keempat bulan. Maksud upacara untuk memohon keselamatan bagi calon ibu beserta bayi yang akan dilahirkannya. Upacara biasa­nya diadakan pada siang hari sebelum tengah hari, de­ngan maksud agar kehidupan penyelenggara serta calon ibu akan selalu baik dan terus-menerus bertam­bah baik. Tempat upacara tidak ditentukan, bisa di ru­mah orang tua suami atau istri, atau di rumah mereka sendiri.

Upacara nyakik bokon atau makik dillit atau seng­kelan dimuiai dengan tahap persiapan, yaitu mengum­pulkan bahan yang diperlukan, seperti beras, ternak ayam dan babi. Darah binatang mempunyai arti magis sebagai persembahan dan sebagai penyuci alat-alat upacara, sedangkan daging ternak mempunyai makna sosial. Dengan memakan daging bersama-sama, diha­rapkan persatuan dan persaudaraan terwujud di antara mereka. Alat upacara terdiri atas gong (kelantung), pi­ring antik (pinjam okok), pisau (iso), manik-manik (sambon) berbentuk gelang, daun sabang, dillit atau bokon, payung (tekuidolok), sumpit, tombak, dan ma­kanan rujak (sepalik).

Setelah mempersiapkan peralatan, ditetapkanlah hari baik untuk menyelenggarakan upacara. Para ke­luarga dan tetangga diundang melalui utusan. Selain itu, diundang pula tiga orang pemimpin upacara, yaitu dukun beranak, pemimpin adat, dan tukang tenung. Upacara dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu upacara nyakik, upacara tipas, dan upacara sepalik. Upacara diawali dengan penaburan beras kuning oleh pemim­pin upacara, yang dimaksudkan untuk mengundang roh-roh para leluhur agar datang menyaksikan upaca­ra. turut berpesta, dan menjaga keselamatan calon ibu beserta anak yang akan dilahirkannya kelak. Sesaji untuk para arwah berupa nasi pulut, daging babi, da­ging ayam, rokok, sirih, dan minuman tuak.

Tahap berikutnya adalah upacara nyakik atau makik atau sengkelan. Pada saat ini semua alat upacara ditepungtawari oleh pemimpin upacara. Ia mengolesi seluruh alat-alat dengan darah babi sambil membaca mantra-mantra yang maksudnya untuk menyucikan­nya dari gangguan roh-roh jahat, dan kemudian mele­takkannya di tempat yang telah ditentukan. Gong diletakkan telungkup, dillit pisau, gelang manik-ma­nik dan daun sabang diletakkan di atas piring di sam­ping gong. Babi merupakan hewan korban yang darahnya mempunyai makna magis sebagai persem­bahan kepada dewa-dewa atau roh-roh halus. Tepung tawar dimaksudkan untuk memenuhi keinginan roh- roh, dan dengan demikian diharapkan mereka tidak lagi mengganggu. Hati babi diberikan sebagai sesaji untuk arwah leluhur. Pisau dimaksudkan untuk peno­lak bala, piring antik (pijaokok) sebagai tempat per­sembahan pada arwah leluhur, sumpit takui dan tombak dipersiapkan untuk upacara turun mandi.

Setelah upacara menepungtawari atau nyakik ini selesai, acara dilanjutkan dengan upacara tipas. De­ngan disaksikan para undangan, calon ibu didudukkan di atas gong dan dihadapkan ke arah matahari terbit.

Maksudnya agar calon ibu mempunyai jiwa tabah, ke­pribadian mantap, iman kuat, dan tak tergoyahkan oleh berbagai macam cobaan dan godaan. Arah duduk menghadap ke timur dimaksudkan agar rezekinya naik terus dan tak pernah berhenti. Pemimpin upacara kemudian memegang seekor ayam hidup pada bagian kedua kakinya dengan satu tangan. Ayam itu lalu di­kibas-kibaskan di samping calon ibu, tiga kali ke arah matahari terbit, dan tiga kali lagi ke arah matahari ter­benam. Dengan tindakan ini diharapkan agar kehi­dupannya kelak cerah, bahagia, dan terhindar dari mara bahaya. Orang yang hadir diundang dengan maksud sebagai pemberitahuan bahwa anak yang di­kandung ini adalah hasil perkawinan yang sah, sehingga diharapkan anak yang akan dilahirkannya kelak menjadi anak yang baik dan bisa diterima secara baik pula oleh seluruh warga masyarakat. Selesai ki­basan dengan ayam, kibasan serupa dilakukan pula dengan menggunakan daun sabang. Setelah itu, ayam dipotong dan darahnya digunakan untuk menepung- tawari calon ibu di atas rambutnya, disertai pembaca­an pula mantra-mantra. Maksud dari acara ini adalah agar calon ibu mempunyai hati tabah, senantiasa tulus ikhlas dan menyerahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, dan dapat melalui segala cobaan dengan selamat.

Upacara Tipas ini diakhiri dengan melilitkan dillit atau bokon yang telah diberi mantra lebih dulu, de­ngan maksud agar calon ibu selalu dilindungi dan di­jaga dari segala macam gangguan baik lahir maupun batin oleh roh-roh halus. Selain itu diikatkan pula ge­lang manik-manik di pergelangan tangan kanan calon ibu. Pengikatan gelang ini juga dimaksudkan untuk keselamatan, sebab pergelangan tangan bagi suku bangsa itu merupakan lambang tempat bertakhtanya arwah para leluhur.

Tahap terakhir upacara ini adalah upacara sepalik, yaitu upacara makan rujak bersama. Sepalik adalah rujak yang terdiri atas babal nangka dan buah-buahan lain yang asam rasanya, dengan bumbu garam dan ca­bai, dan ditumbuk dalam lesung. Sepalik ini tidak bo­leh dimakan oleh para gadis secara bersama-sama di upacara ini. Setelah upacara sepalik, acara diakhiri dengan makan bersama nasi pulut dengan lauk-pauk dari daging ayam dan daging babi. Pada kedua calon orang tua diberlakukan pantangan-pantangan.

Suku Bangsa Jawa mengenal upacara sehu­bungan dengan kehamilan yang tidak hanya didasari kepercayaan rakyat asli, melainkan sudah dipe­ngaruhi sistem budaya Hindu, sehingga upacara ri­tualnya pun hasil campuran budaya Jawa dan Hindu.

Dalam menghadapi kelahiran, keluarga sudah me­mulai keadaan prihatin sejak bulan pertama masa kandungan, yang kadang-kadang diikuti dengan sela­matan sederhana. Si calon ibu mulai saat itu harus me­nuruti beberapa pantangan makanan dan pantangan lain. Demikian pula bagi calon ayah pun berlaku pan­tangan untuk perbuatan-perbuatan yang akan beraki­bat kurang baik bagi calon bayi mereka. Selamatan dimulai sejak bulan pertama dan berlangsung terus hingga bulan kesembilan.

Pada bulan pertama, keluarga Jawa akan membuat selamatan sederhana yang maksudnya untuk memo­hon keselamatan dan kesejahteraan bagi calon ibu dan calon bayi yang akan lahir. Pada acara ini dibuatlah jenang abor-abor atau bubur sumsum dari tepung be­ras yang dimasak dengan santan dan diberi rasa asin untuk dimakan bersama santan kental dan juruh (air gula merah). Oleh sebab itu, acara ini sering disebut ngabor-abori.

Pada bulan kedua dibuatlah sega janganan, yaitu nasi tumpeng (bentuk gunung) yang dilingkari bebe­rapa macam sayuran yang jumlah macamnya harus dalam bilangan ganjil. Selain itu dibuat pula empat macam jenang (bubur) beras, yaitu jenang putih, je­nang abang (bubur merah yang dibuat dari gula kela­pa), jenang abang-putih (jenang merah dibubuhi jenang putih), dan jenang baro-baro (bubur katul di­bubuhi gula jawa). Sajian lainnya adalah pipis kenthel, yaitu tepung beras dengan santan dan garam yang dibungkus daun pisang dan dikukus, jajan pa­sar,, yaitu bermacam-macam makanan kecil yang di­jual di pasar, dan kembang boreh, yaitu bunga khusus untuk selamatan.

Selamatan pada bulan ketiga sama dengan bulan kedua. Pada selamatan pada bulan keempat dibuatkan nasi punar (sega punar), yaitu nasi uduk kuning yang diberi rasa asam. Lauknya terdiri atas seekor kerbau {kebo siji), yang dilambangkan melalui daging dan se­gala macam jeroan, sebutir mata, dan sambal goreng. Hidangan pada selamatan bulan kelima terdiri atas se­ga janganan (seperti pada bulan kedua dan ketiga), uler-uleran yang terbuat dari tepung beras berbentuk ulat yang diberi pewarna warna merah, kuning hitam, dsb. Selain itu juga dihidangkan bermacam-macam ketan dengan macam-macam warna, serta enten-en­ten , yaitu makanan dari ketan yang manis rasanya. Pa­da selamatan bulan kelima, biasanya para keluarga dikirimi makanan yang terdiri atas sega wajar dan pu­nar, daging goreng kebo siji (segala macam jeroan, daging, dan mata satu biji), beberapa jenis makan se­lamatan, dan rujak crobo. Seluruh makanan ini dima­sukkan ke dalam takir ponthang dengan lima macam jarum dari emas hingga tembaga. Takir ponthang ada­lah wadah dari daun pisang yang dirangkap dengan janur kuning (daun kelapa muda yang berwarna ku­ning). Maksud dari hantaran sajian ini untuk me­mohon doa restu dari para sanak keluarga untuk keselamatan calon ibu dan anak yang berada dalam kandungannya.

Pada bulan keenam, hanya dibuat satu macam sa­jian yang disebut apem kocor, yaitu tepung beras yang diberi sedikit ragi dan dibuat bersama santan dan ju- h pada bulan ketujuh, diadakan upacara tingkeban au mitoni, yang biasanya dilaksanakan pada hari Rabu atau Sabtu dengan tanggal ganjil sebelum tanggal , (jari suatu bulan. Upacara dipimpin oleh dukun tempat pelaksanaannya di rumah orang tua maupun rumah sendiri. Sesaji untuk upacara tingkeban galati sega janganan Jajan pasar, empat macam je­nang, yaitu Jenan8 abang, putih, baro-baro, jenang nrocot, sega garing, kedelai, kacang, dan wijen yang Loreng sangan lalu digongseng. Selain itu, juga dihidangkan emping ketan, tumpeng robyong, pe- nyon, sampora, dan pring sadhapur. peralatan upacara lainnya adalah air bunga setaman (airbersih yang ditaburi bunga aneka rupa), siwur (ga­yung dari buah kelapa yang dibelah dan diberi tangkai tanpa membuang daging buahnya), penggosok badan dari tepung beras yang diberi sedikit air dengan tujuh macam warna, yang dicampur mangir, daun pandan, cjan daun kemuning. Tempat duduknya adalah ding­klik dari kayu; alas duduknya tikar daun pandan, dan dedaunan lain, misalnya daun apa-apa, kluwih, daun kara, daun dadap, dan alang-alang-, tilamnya adalah kain dari jenis letrek, jingga, banguntulak, sindur, sembagi, slendang lurik puluh watu, yuyu sekan dhang, dan lawon.

Pada upacara ini diundang banyak kerabat, tetang­ga, dan teman dekat. Inti upacara ritual ini adalah me­mandikan calon ibu agar terbebas dari gangguan roh-roh jahat, dan memohon keselamatan pada Tu­han. Upacara tingkeban dimulai dengan memandikan calon ibu dengan air kembang setaman dengan meng­gunakan siwur, lalu menggosoknya dengan tujuh ma­cam tepung beras yang telah dibubuhi air. Si calon ibu dimandikan secara bergantian oleh orang tuanya, du­kun bayi, dan para tetua yang semuanya wanita. Calon ibu me: duduki dingklik atau kursi kayu yang telah di­beri alas berbagai macam dedaunan dan kain. Setelah dimandikan bersih-bersih, dengan pembacaan doa- doa oleh dukun, si calon ibu diberi pakaian ganti yang terdiri atas kain panjang (biasanya berjumlah tujuh macam), dan diikat benang lawe merah, putih, dan hi­tam. Ikatan kain dan benang lawe dilonggarkan agar bisa dilalui tropong (alat pengikal benang lawe) dan dua buah kelapa gading (cengkir) muda. Satu cengkir diberi gambar Arjuna atau Kamajaya, atau Panji, se­dangkan cengkir yang lainnya diberi gambar Dewi Ratih, Dewi Sumbadra, atau Candrakirana. Semua gambar diambil dari tokoh-tokoh yang mempunyai wajah dan tingkah laku baik.

Acara selanjutnya adalah melanjutkan tropong dan cengkir bergambar secara bergantian oleh mertua atau dukun sendiri, yang harus ditangkap oleh orang tua atau dukun. Pada saat menjatuhkan benda-benda ini diucapkan kata-kata: “Lanang arep, wadon arep, janji slamet,” yang artinya baik laki-laki maupun wanita sama saja, asalkan sehat dan selamat. Kata-kata beri­kutnya adalah: “Yen lanang kaya Kamajaya, Arjuna, atau Panji; yen wadon kaya Ratih, Sumbadra, atau Candrakirana,” yang artinya apabila laki-laki setam­pan Kamajaya, Arjuna, atau Raden Panji; dan jika wa­nita akan secantik Dewi Ratih, Sumbadra, atau Candrakirana.

Setelah selesai acara mandi, calon ibu dibawa ma­suk ke ruangan tengah untuk acara matut atau patutan.

Di sana telah tersedia tujuh helai kain dan tujuh helai kemben (penutup dada) yang akan dipakaikan secara simbolis secara bergantian, diiringi dialog antara orang tua dan para undangan yang hadir dan orang yang membantu memakaikan kain dan kemben itu. Pemakaian pertama disertai dialog: “Wis patut durung?” yang artinya sudah pantaskah? dan dijawab oleh hadirin dengan kata-kata: “Durung patut,” yang artinya belum pantas. Hal ini dilakukan terus menerus dengan dialog yang sama sampai dengan pakaian ke­tujuh, dan pakaian-pakaian itu dibiarkan terjatuh di sekitar calon ibu dan tidak boleh dirapihkan atau disingkirkan, karena pada akhirnya harus diduduki ca­lon ibu. Setelah acara tersebut selesai, calon ibu diberi pakaian kain dengan motif truntum, kemben dringin, tanpa kebaya, dan tidak diperkenankan mengenakan perhiasan apa pun, termasuk bunga. Pada saat itulah para hadirin meneriakkan: “Wis patut,” yang artinya sudah pantas. Sebagai penutup acara tingkeban dihidangkan hidangan penutup, yang biasanya berupa rujak dengan tujuh macam buah-buahan.

Setelah acara tujuh bulan selesai, pada bulan keha­milan kedelapan kembali dibuatkan selamatan seder­hana yang terdiri atas bulus angrem, yaitu kue klepon tertutup serabi putih, dengan letak tengkurab sebagai lambang kura-kura (binatang yang paling panjang usianya) yang tengah mengerami telurnya. Kue kle­pon terbuat dari tepung ketan berbentuk bulat-bulat kecil yang diberi warna hijau dari daun katu berisi gu­la kelapa.

Selamatan terakhir diadakan pada bulan kesembi­lan, dengan membuat jenang procot, yaitu bubur be­ras yang dimasak dengan santan manis, setengah matang dan diberi pisang utuh yang telah dibuang ku­litnya. Setelah dimasak bubur ini ditempatkan dalam takir (wadah dari daun pisang). Maksud selamatan je­nang procot adalah agar si bayi lahir dengan mudah (mrocot). Selain itu, selamatan pada bulan terakhir ke­hamilan ini juga dimaksudkan untuk menghormati saudara-saudara si bayi yang belum lahir, yaitu air ka­wah (ketuban) dan ari-ari (tembuni atau plasenta), yang menurut kepercayaan adalah teman si bayi.

Jika usia kandungan sudah mendekati bulan kese­puluh namun si bayi belum juga lahir, dibuatlah sela­matan berupa dhawetplencing, yang harus dijual oleh calon ibu, sedangkan pembelinya adalah anak-anak, dengan uang dari pecahan genting (dhuwit wingka). Anak-anak yang sudah membeli dhawet itu harus se­gera meminumnya sampai habis dan segera lari meninggalkan tempat itu (mlayu mlencing). Dhawet adalah suatu jenis minuman dari tepung beras yang diminum dengan santan dan gula merah atau gula ke­lapa. Dengan selamatan ini diharapkan agar si bayi segera lahir secepat anak yang lari setelah meminum dhawet.

Selamatan yang berhubungan dengan upacara ri­tual kelahiran pada masyarakat Jawa tersebut me­ngandung simbol-simbol atau makna-makna sangat dalam, yang semuanya bertujuan memohon kesela­matan, perlindungan, dan kebahagiaan lahir batin ba­gi calon ibu, si bayi yang akan dilahirkan, dan keluarganya.

Suku Bangsa Betawi mempunyai upacara keha­milan yang mencerminkan perpaduan budaya berba­gai macam suku bangsa menjadi suku bangsa Betawi, antara lain suku bangsa Jawa dan Sunda, dengan ke­budayaan Islam. Ada dua istilah yang dikenal untuk upacara bulan ketujuh masa kehamilan pada suku bangsa ini, yaitu upacara nujuh bulan dan kekeba. Se­perti halnya suku bangsa lain, upacara ini hanya dila­kukan pada kehamilan pertama, dan calon orang tua si bayi diharuskan melakukan beberapa pantangan.

Nujuh bulan berasal dari kata tujuh bulan. Tujuh diambil dari jumlah hari, yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Bilangan tujuh se­lalu dipakai menjadi patokan pada upacara nujuh bu­lan, sehingga saat pelaksanaannya dipilih di antara tanggal-tanggal 7, 17, atau 27; buah-buahan untuk ba­han pembuat rujaknya juga tujuh macam. Maksud upacara ini adalah untuk mendapatkan rasa aman, mensyukuri nikmat Tuhan, memohon perlindung- anNya agar anak yang akan dilahirkan kelak bisa lahir dengan selamat, menjadi anak yang saleh, berbudi, patuh pada orang tua, dan juga mohon keselamatan bagi calon ibu.

Suku Bangsa Batak Toba mempunyai upacara ke­hamilan yang terdiri atas dua kegiatan, yaitu mang- hare atau mangganje, dan paborsuhon. Istilah manghareberlaku di Toba Holbung, sedangkan di wilayah Humbang digunakan istilah mangganje. Manghare berasal dari kata mang yang merupakan bentuk awal­an aktif dan kata hare, yaitu bubur kental berwarna kecokelat-cokelatan yang dibuat dari campuran ra­muan semangka, ketimun, pisang, tebu, nangka, ken­cur, jahe, kepala, kemiri, ramuan dukun (taor sibaso), telur ayam, tepung beras, susu kerbau, kunyit, serta daging ayam muda sebanyak 1,5 kilogram. Bubur kental ini merupakan makanan adat yang harus dima­kan oleh calon ibu pada kehamilan pertama, dan di­buat oleh pihak kelompok hula-hula.

Setiap jenis bahan campuran pembuat bubur adat itu mempunyai arti simbolik yang intinya untuk kese­lamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkannya. Semangka, ketimun, pisang, tebu, dan nangka me­lambangkan kedamaian; yang mengandung maksud agar seluruh warga kampung (huta) dan semua makh­luk halus dan roh yang ada di sekitar lingkungannya berhati damai sehingga bisa memberikan restu kepada calon ibu dan bayi yang berada daiam kandungannya. Kencur, jahe, kelapa, dan kemiri melambangkan pen­jagaan dengan maksudnya agar makhluk halus dan roh-roh pengganggu tidak’ mengganggu keselamatan calon ibu dan anaknya. Telur ayam melambangkan keutuhan tanpa cacat; maksudnya agar kandungan si ibu tetap sehat, tidak mendapat rintangan apa pun hingga waktu kelahiran tiba. Daging ayam muda di­berikan untuk menambah kekuatan kepada si bayi yang ada dalam kandungan.

Pada saat pembuatan bubur ini, suami calon ibu pergi berkunjung ke huta hula-hulanya untuk meng­ambil hare, yang dibuat oleh ibu si calon ibu. Dengan disaksikan oleh semua kerabat pihak istri, kedua orang tua calon ibu memberkati anak dan menantunya dengan doa selamat (mangupa) yang diucapkan de­ngan harapan agar hare yang diberikan bisa membe­rikan kebahagiaan dan keselamatan bagi anak, me­nantu, dan calon cucu yang akan dilahirkan; karena semua ini berkat dan anugerah Tuhan yang Maha Pe­ngasih. Pada saat ini, kedua orang tua calon ibu me­nyerahkan tiga ekor ikan lele (sibahut) yang sudah dimasak dan ditempatkan di atas nasi dalam piring.

Acara ini ditutup dengan penyerahan suatu pembe­rian (pasu-pasu) dari hula-hula kepada pasangan sua- mi-istri yang akan mempunyai bayi tersebut. Mereka kemudian pulang menuju rumahnya di huta pihak suami. Di sini para kerabat suami telah menunggu di halaman untuk menyambut kedatangan mereka. Ibu si calon ibu juga mengirimkan hare yang akan dibagi- bagikan kepada keluarga pihak suami (borunya).

Pelaksanaan upacara manghare ini berbeda-beda di beberapa tempat, terutama di Toba Holbung sekitar Balige, Porsea, Silaen, Humbang, dan Silindung. Se­bagian mewajibkan pihak suami atau pihak kerabat penerima istri (boru) memberikan makanan adat beru­pa babi yang disebut na marmiak-miak terlebih dulu kepada kelompok hula-hulanya.. Setelah itu barulah pihak pemberi gadis atau hula-hula ini memberikan hare kepada pihak kerabat suami (boru). Ada pula yang menyelenggarakan acara marhata, yaitu pembi­caraan adat untuk menyampaikan anugerah Tuhan ini kepada pihak boru setelah acara makan hare selesai.

Di beberapa tempat, terutama di daerah Toba Hol­bung, manghare masih dilaksanakan, namun sudah mengalami beberapa perubahan. Perubahan ini antara lain menyangkut doa yang diucapkan, yang tidak lagi dipanjatkan kepada Ompu Tuan Mula Jadi Na Bolon dan roh-roh nenek moyang, tetapi sudah kepada Tu­han Yang Maha Esa. Demikian pula dalam acara mangupa, tidak lagi digunakan ikan lele melainkan ikan batak (ihan) atau ikan mas. Waktu penyelenggaraan upacara manghare tidak lagi ditentukan oleh datu pangulpuk atau dukun, melainkan lebih didasarkan pada keselamatan yang ada untuk kedua belah pihak.

Pada masa kehamilan ke-7 atau 8 bulan, diadakan upacara pabosurhon, yaitu upacara memberi maka­nan yang mengenyangkan {bosur artinya kenyang) dari pihak hula-hulo% dan dari paranak (kedua orang tua suami si calon ibu) kepada calon ibu yang sebentar lagi melahirkan. Maksud diadakannya upacara ini adalah agar calon ibu mempunyai kekuatan dan tahan menghadapi proses persalinan. Upacara ini dilaksana­kan setelah ibu calon ibu meminta anak dan menantu­nya untuk datang ke pihak hula-hula dan memohon doa restu untuk pelaksanaan upacara ini. Atas petun­juk datu, kedua calon orang tua ini mempersiapkan makanan adat yang terdiri atas babi seberat 40-50 ki­logram. Makanan adat ini akan mereka bawa ke huta hula-hulanya, dan di sana pihak hula-hula bersama para kerabat yang diundangnya telah menantikan ke­datangan mereka. Menjelang tengah hari (parnang- kok ni mataniari), mereka mengundang para kerabat boru untuk bersama-sama pergi ke huta hula-hula.

Di hadapan hula-hulanya, suami dari calon ibu memberikan persembahan kepada kedua orang tua is­trinya, berupa bagian daging babi yang telah menjadi hak mereka menurut kedudukan mereka dalam adat (tadu-tadu ni sipanganon) yang telah disusun rapi da­lam piring. Saat itu pula suami memohon kepada se­luruh hula-hulanya. agar memberikan restu padanya dan pada istrinya agar senantiasa dilindungi dari ber­macam-macam godaan dan mara bahaya. Ia juga me­mohon agar roh hula-hula berkenan melindungi istrinya yang tengah hamil, yang dianggap berada da­lam masa krisis berbahaya, dari gangguan roh-roh jahat. Sebagai ganti persembahan yang diterima, hu­la-hula memberikan ikan batak yang diletakkan di atas nasi di dalam piring yang digunakan khusus da­lam acara adat, yaitu pinggan pasu. Pemberian ikan batak ini disertai doa permohonan pada Tuhan Yang Maha Esa agar putrinya selalu sehat dan selamat serta melahirkan tepat pada waktunya, tanpa kurang suatu apa pun. Setelah itu, ayah dan ibu calon ibu membe­rikan selimut jiwa dan roh (ulos tondi) kepada anak dan menantunya dengan cara menyelimutkannya di atas pundak mereka bersama. Maksudnya agar ulos itu melindungi putri dan menantunya serta calon cucu yang ada dalam kandungan dari pengaruh roh jahat. Untuk selanjutnya ulos tadi dipakai oleh calon ibu de­ngan maksud agar badan dan jiwanya tetap hangat, kuat dan penuh semangat dalam menghadapi bahaya, terutama saat melahirkan nanti. Ikan batak pemberian orang tua tersebut dimakan bersama-sama oleh sua- mi-istri calon orang tua bayi yang kemudian diikuti oleh seluruh hadirin. Pada masa lalu, acara ini dimulai dengan pembacaan doa oleh datu, namun kini pemba­caan doa (tonggo) diucapkan oleh pendeta atau pe­mimpin agama lainnya. Apabila acara makan bersama telah selesai, dilangsungkan acara berbicara secara adat (marhata) yang berupa balas pantun. Inti acara ini adalah penyampaian kata-kata hiburan dan pembe­ri semangat kepada calon ibu, selain juga harapan agar tetap dalam lindungan Tuhan.

Incoming search terms:

  • acara 7 bulanan adat batak
  • 7 bulanan adat batak toba
  • acara 7 bulanan kehamilan adat batak
  • acara 7 bulanan batak
  • filosofi klepon untuk upacara kelahiran
  • 7 bulanan adat batak
  • susunan acara 7 bulanan adat batak
  • acara 7 bulanan orang batak
  • adat batak 7 bulanan
  • acara tujuh bulanan adat batak toba

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • acara 7 bulanan adat batak
  • 7 bulanan adat batak toba
  • acara 7 bulanan kehamilan adat batak
  • acara 7 bulanan batak
  • filosofi klepon untuk upacara kelahiran
  • 7 bulanan adat batak
  • susunan acara 7 bulanan adat batak
  • acara 7 bulanan orang batak
  • adat batak 7 bulanan
  • acara tujuh bulanan adat batak toba