Advertisement

Penari dan penata tari Bali. Ia belajar tari pada I Wayan Rindi dari Lebah, dan Nyoman Kakui dari Batuan. Gamelan dan tembang dipelajarinya dari Setamat sekolah HBS pada tahun 1899, atas anjuran Snouck Hurgronye, Husein meneruskan pendidikannya ke Belanda. Ia mengambil kursus bahasa Latin dan Yunani Kuno lebih dahulu tahun 1904-1905 agar dapat mengikuti ujian masuk pada Universitas Kerajaan di Leiden. Ia lulus tahun 1910.

Minatnya terhadap sejarah dan budaya Aceh berkembang ketika Universitas Leiden mengadakan sayembara mengarang tentang sejarah Kesultanan Aceh. Setelah meneliti naskah-naskah Melayu-Indonesia, Husein memenangkannya, dan mendapat medali emas. Kemudian, Mei 1914 sampai April 1915, ia berada di Aceh untuk mempelajari bahasa Aceh dalam rangka membuat kamus bahasa Aceh. Hasil penelitiannya itu menghasilkan kamus bahasa Aceh Atjeh Nederlandsche Woordenboek yang terbit di tahun 1934. Inilah kamus terlengkap bahasa daerah di Nusantara hingga kini. Bekas gurunya, Snouck Hurgronje, kagum atas hasil karya itu. Dan dengan karyanya itu, Husein menyamai bekas gurunya dalam lapangan yang sama.

Advertisement

Pada tahun 1919 ia mendirikan Java Instituut dan ketika lembaga ini menerbitkan majalah triwulan Djawa di tahun 1921, ia menjadi redakturnya bersama J. Kats, S. Koperberg, Raden Ngabei Purbacaraka, dan J.W. Teiler.

Pada tahun 1924, ia diangkat sebagai guru besar pada Sekolah Hakim Tinggi di Jakarta, dan memberi kuliah hukum Islam dan bahasa Melayu, kemudian juga bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Tahun 1935 ia diangkat menjadi anggota Dewan Hindia. Lima tahun kemudian ia menjadi direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah. Di jaman Jepang Husein menjadi kepala Departemen Urusan Agama dan kemudian menjadi anggota Tjuo Sangiin Pusat. Tahun 1952 Husein menjadi guru besar pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Selain itu, di tahun 1957 ia menjadi Pemimpin Umum Lembaga Bahasa dan Budaya, me-rangkap Ketua Komisi Istilah dari lembaga tersebut.

Karya ilmiahnya antara lain De Magische Achtergrond van de Maleische Pantoen yang merupakan pidato ilmiah pada tanggal 28 Oktober 1933, hari ulang tahun ke-9 Sekolah Hakim Tinggi. Karangannya tentang Islam antara lain De.Mohammedaansche Wet en het Geestesleven der Indonesische Mohammedaansche Wet en het Geestesleven der Indonesische Mohammedanen, yang merupakan pidato ilmiah pada perguruan tinggi yang sama. Pada tahun 1925, ketika perguruan tinggi itu berusia setahun, ia mengucapkan pidato ilmiah dengan judul Apa Artinya Islam yang diucapkannya pada ulang tahun ke-4 Universitas Indonesia, 4 Februari 1954. Suatu risalah yang berjudul Islam in Indonesia dimuat dalam buku kumpulan karangan para sarjana muslim dari berbagai negara: Islam: The Straight Path. Dalam risalah ini dibicarakan kedatangan Islam di Indonesia, Islam dewasa ini di Indonesia, tendensi modern kaum “pemeluk murni”, serta sikap terhadap asas dan hukum Islam. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Islam Djalan Mutlak terbit dalam dua jilid (1963).

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar,