Advertisement

Bidang konflik yang sangat penting antara petunjuk verbal dan nonverbal ialah saat menilai kapan orang berdusta atau berusaha menipu para pengamat. Polisi, hakim, dan majelis hakim senantiasa berusaha mempelajari kebenaran dari orang yang berusaha menipu mereka.

Kebocoran Nonverbal. Seperti diharapkan dari diskusi kita tentang komunikasi nonverbal, teori akan penting untuk mengetahui tindak penipuan orang melalui petunjuk nonverbal, meskipun secara verbal mereka berhasil berbohong. Ekman dan Friesen (1974) berargumentasi bahwa orang lebih memperhatikan ucapan daripada isyarat tubuh. Jika mereka berusaha mengelabui seseorang misalnya, bisa saja mereka berdusta secara verbal dengan tenang, akan tetapi, mereka mengungkapkan emosi yang sebenarnya lewat petunjuk nonverbal. Menurut istilah Ekman, terjadi kebocoran nonverbal. Emosi sejati akan “keluar” meskipun orang “itu berusaha untuk menutupinya. Seorang mahasiswa bisa saja berkata bahwa dia tidak merasa tegang menghadapi ujian, tetapi kelihatan bahwa dia menggigit bibir bawahnya dan mengejapkan mata lebih sering dari biasanya. Pria muda yang sedang menunggu wawancara kerja akan berusaha kelihatan tenang dan santai, tetapi berkali-kali menyilang dan meluruskan kakinya, membetulkan dasinya, menyentuh wajahnya, bermain dengan rambutnya. Akibatnya, kenyataannya dia itu seorang penggugup.

Advertisement

Para penipu biasanya mengkhianati dirinya sendiri lewat ekspresi parabahasa rasa cemas, tegang, dan gugup. Kadang-kadang kita dapat tahu jika seseorang berbohong lewat nada suaranya. Beberapa telaah (Ekman et al., 1976; Krauss et al., 1976) menunjukkan bahwa nada rata-rata (atau secara lebih teknis, fundamental) lebih tinggi jika seseorang berdusta dibandingkan dengan jika dia berkata jujur. Perbedaannya kecil sekali, dan orang tidak dapat mengetahuinya hanya dengan mendengarkan. Tetapi analisis suara elektronis dapat mendeteksi dusta itu dengan sangat akurat. Selain itu, jawaban lebih singkat, jawaban yang tertunda lebih lama, ucapan yang sering keliru, dan jawaban lebih gugup serta kurang serius juga merupakan karakteristik orang yang dianggap pendusta atau orang yang diperintahkan berbohong.

Konsep “kebocoran” menunjukkan bahwa saluran nonverbal lebih sering “bocor” daripada saluran lain karena ia amat sulit dapat dikendalikan. Beberapa telaah (Zuckerman, DePaulo, & Rosenthal, 1981) menemukan bahwa tubuh lebih mungkin mengelabui daripada wajah. Petunjuk parabahasa juga dapat “bocor” karena seperti halnya tubuh, nada suara kurang dapat dikendalikan dibanding ekspresi wajah. Zuckerman, Larrance, Spiegel, dan Klorman (1981) menemukan bahwa para pengirim lebih mampu merubah (menekan dan melebih-lebihkan) ekspresi wajah daripada nada suara. Hipotesis “kebocoran” itu kemudian menyatakan bahwa jika seseorang berusaha menutupi sesuatu, hal itu dapat “bocor” melalui gerakan tubuh serta petunjuk parabahasa.

Advertisement