Advertisement

POTENSI

Inggris: potency. Dari bahasa Latin potentia, dari potens, potent, potis (dapat) dan esse (berada, ada).

Advertisement

Beberapa Pengertian

1. Kualitas memiliki daya.

2. Kemampuan untuk menjalankan daya, dan untuk bertindak.

3. Kesanggupan atau kemampuan untuk menjadi sesuatu yang mempunyai jenis tertentu. Lawannya: AKTUALITAS.

Potensi bersama dengan aktus/aksi, sebagai faktor parsial, menentukan eksisten terbatas. Paham potensi dikemukakan pertama kali oleh Aristoteles (dia menyebutnya dynamei on) dan kemudian diperluas oleh kaum Skolastik. Gagasan itu juga masih berkembang dalam konsep daya (Leibniz) dan ide “di-dalam-dirinya-sendiri” (Hegel). Belakangan, biologi (Driesch) dan juga fisika telah menemukan kembali ide tersebut. Sehubungan dengan esensinya, potensi hanya dapat dideskripsikan, melalui hubungannya dengan aksi, sebagai kemungkinan real atau kemampuan untuk beraksi (kemampuan untuk bertindak).

Dua Jenis Potensi

1. Potensi pasif. Potensi ini merupakan kemampuan untuk menerima sebuah aksi. Ini tidak sama dengan potensi objektif,

yaitu, kemungkinan murni atau non-real. Potensi objektif akan ditinggalkan eksisten terbatas manakala mulai bereksistensi dan dengan demikian tidak memasuki komposisi eksisten tersebut sebagai prinsip parsial. Potensi semacam ini disebut “objektif” karena sebagai kemungkinan murni potensi itu berada sebagai objek hanya dalam pikiran sang pencipta.

Kalau ada potensi objektif tentu ada pula potensi subjektif. Pembedaan ini penting dalam rangka memahami penyandang real dari sebuah aksi. Penyandang real ini merupakan tujan dari aksi. Potensi subjektif disebut potensi murni (tak beraksi) kalau tidak disertai oleh aktus mana pun dan tidak mengandaikan aksi apa pun lainnya yang mendukungnya. Sesuatu yang sama sekali tidak bereksistensi dalam bentuk aktual mana pun dan karena itu tidak dapat diidentifikasikan. Sesuatu yang tidak memiliki “keapaan” (whatness) tetapi hanya “ke- ituan”.

Pengertian potensi murni ini digunakan oleh Aristoteles dan kaum Skolastik untuk menjelaskan bahan dasar (materi pertama, materia prima) dari segala sesuatu yang bersifat jasmani. Menurut mereka, “bahan” (atau materi pertama) itu menerima seluruh aktualitasnya dari aksi (tindakan) (di sini: forma esensial) yang terarah kepadanya dan yang terimanya.

Potensi campuran entah menyimpan aksi itu sendiri atau kalau tidak bersumber dalam aksi lainnya yang merupakan landasannya. Contoh bagi yang terdahulu ialah forma esensial yang adalah potensi hanya dalam kaitan dengan eksistensi tetapi bersamaan dengan itu menjadi aksi dalam kaitan dengar materi pertama. Contoh bagi yang belakangan ialah potensi potensi aksidental yang mempunyai substansi sebagai aksi se bagai pendukungnya (misalnya, kemampuan untuk menerim; pengetahuan dalam diri manusia). Potensi pasif ini tidak ha nya menunjukkan kemampuan untuk menerima sesuatu (penga ruh) dari yang lain, dalam dirinya sendiri tetap bukan aksi melainkan juga ia bukan tiada sempurna dan dengan demikiai ia menjadi sesuatu yang real. Misalnya, batu tidak mempunya kemampuan untuk memiliki atau menerima pengetahuan, male dengan demikian, ia tidak memiliki sesuatu yang pantas bag manusia. Luasnya potensi pasif ini menentukan jenis dan luasnya aksi yang dapat diterima oleh suatu eksisten. Oleh karena itu, potensi pasif membatasi aksi.

Potensi obediensial (potentia obedientalis) biasanya tergolong dalam potensi pasif. Istilah ini menunjukkan kemampuan ciptaan untuk dipengaruhi kegiatan Allah sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas kodratnya, namun tidak kehilangan kodratnya. Ini penting untuk memahami mukjizat dan diangkatnya manusia ketingkat adikodrati.

2. Kedua, potensi aktif. Kemampuan atau kecenderungan bawaan dari suatu hal untuk menjadi atau untuk menjalankan sesuatu yang spesifik menurut hakikatnya. Contoh: sekuncup bunga mawar yang menjadi sekuntum bunga mawar.

Potensi ini merupakan kemampuan atau daya untuk menghasilkan aksi. Aksi dalam hal ini setidak-tidaknya merupakan kegiatan atau aktivitas yang turun dari suatu daya (misalnya, aksi atau tindakan berpikir atau menghendaki), dan sering aksi ini merupakan suatu produk (misalnya, anak atau rumah).

Potensi aktif telah memuat di dalam dirinya suatu aksi tertentu. Karena, menurut prinsip kausalitas tak seorang pun dapat menghasilkan sesuatu yang belum dia miliki secara tertentu. Meskipun potensi pasif tidak bisa ada dalam Allah, karena itu bertentangan dengan hakikatnya juga, namun ia sungguh- sungguh mempunyai daya atau kekuatan aktif untuk menghasilkan yang lain

Lebih dari itu daya aktif Allah tidak mempunyai daya penerimaan (reseptivitas) pasif yang merupakan unsur hakiki dalam seluruh kegiatan terbatas (misalnya, sebelum mengajar terlebih dahulu kita harus belajar).

Potensi

Istilah ini digunakan untuk menunjuk beberapa pengertian:a) Tersembunyi, terpendam, belum kelihatan, b) Ada sebagai suatu kemungkinan, c) Ada sebagai suatu kemungkinan yang perlu, kemungkinan yang harus dan akan menyatakan dirinya sendiri, d) Potensi, e) Kemampuan, daya, kekuatan, f) Kesanggupan. Apa yang mungkin dan dapat dibuat oleh sesuatu yang lain. g) Kapasitas bawaan (dan kecenderungan) sesuatu untuk mengaktualisasikan hakikatnya yang melekat (bentuk, esensi).

Potensial atau potensialitas menurut Aristoteles Bagi Aristoteles: a) Suatu potensi dapat diaktualisir hanya oleh sesuatu yang sudah aktual, yang bertindak sebagai sebab dalam aktualisasi potensi, b) Juga, potensi ada secara tertentu untuk diaktualisir dan dalam arti ini memiliki suatu tingkat ada yang sendiri aktual, yang sesungguhnya hadir sebagai contoh sebagai suatu kapasitas atau bentuk yang inheren.

Incoming search terms:

  • Pengertian aktual dan potensial
  • arti kata aktus
  • pengertian potensi
  • aktual dan potensial adalah
  • apa itu potensi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Pengertian aktual dan potensial
  • arti kata aktus
  • pengertian potensi
  • aktual dan potensial adalah
  • apa itu potensi