Advertisement

Kopi adalah salah satu komoditi utama ekspor non migas Indonesia yang juga merupakan salah satu andalan sumber devisa. Pada tahun 1992 kopi menduduki tempat kedua untuk produk mentah pertanian setelah udang, dengan nilai ekspor 361,2 juta US dollar, dan menduduki tempat kelima setelah kayu olahan, karet olahan, udang, dan minyak nabati untuk ekspor produk pertanian termasuk produk manufakturagribisnis (Anonymous, 1994). Namun pengembangan ekspor kopi Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa kondisi persaingan di pasar kopi internasional cenderung semakin tajam. Hal ini antara lain disebabkan telah jenuhnya pasar kopi dunia. Peningkatan produksi kopi dunia cenderung lebih besar daripada peningkatan konsumsi (Marshall, 1983). Selain itu rendahnya mutu biji kopi masih menjadi aspek kelemahan pokok kopi Indonesia (Siswoputranto, 1989).
Dalam menghadapi situasi ini, salah satu upaya peningkatan daya saing kopi Indonesia adalah pe-ningkatan mutu biji kopi ekspor. Namun demikian upaya peningkatan mutu kopi ini bukanlah hal yang sederhana, lebih-lebih mengingat sebagian besar produksi kopi berasal dari perkebunan rakyat.
Mutu kopi pada dasarnya terkait dei.gan berbagai faktor yang menyatu pada sistem pertanian kopi rakyat itu sendiri seperti varietas kopi yang dibudidayakan, umur pohon kopi, dan sebagainya, serta faktor-faktor yang dapat dikendalikan seperti cara panen, teknik budidaya, pengolahan dan penggundangan. Baik faktor inherent maupun faktor-faktor yang dapat dikendalikan sebenarnya erat hubungannya dengan rantai tataniaga dan kondisi sosial ekonomi petani.
Sifat masalah yang dihadapi dalam upaya memperbaiki mutu kopi rakyat berbeda-beda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Roesmanto (1989) melaporkan beberapa sifat masalah di berbagai daerah. Pertama, rantai pemasaran kopi yang amat panjang di Sumatera Selatan, dan beberapa daerah penghasil utama kopi lain, menyebabkan tidak menentunya proses pengolahan di sepanjang rantai pemasaran. Selain itu, sistem pembayaran antar pedagang, moral ekonomi pedagang, dan sifat risk averter (enggan terhadap resiko) pedagang, selain berpengaruh buruk terhadap mutu, juga menyebabkan tertekannya harga di tingkat petani. Kedua, tingginya praktek petik hijau terutama di Sumatera
Selatan dan bengkulu yang disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi petani seperti kondisi keamanan, harga kopi segar di tingkat pedagang pengumpul yang tidak berbeda untuk berbagai macam mutu, kebutuhan yang mendesak, jauhnya kebun kopi dari rumah petani, kekurangan tenaga kerja, dan tidak jelasnya status lahan yang diusahakan.
Rendahnya harga kopi di tingkat petani menyulitkan petani menyediakan dana yang cukup untuk memproduksi kopi bermutu tinggi. Namun demikian berbagai penelitian dan kajian masalah mutu kopi rakyat menyimpulkan bahwa beda harga kopi menurut mutu di tingkat petani tidak cukup menarik bagi petani untuk meningkatkan mutu kopinya (Rajino, 1985). McStocker (1987) mengemukakan bahwa di Sumatera beda harga antara biji kopi bermutu tinggi dan rendah tidak sebanding dengan tambahan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan petik masak, mengurangi kadar air biji kopi, atau melakukan pengupasan dengan mesin.
Dari gambaran permasalahan di atas, menjadi menarik untuk mempertanyakan sejauh mana beda harga kopi menurut mutu di tingkat petani dapat diharapkan mendorong petani meningkatkan mutu kopinya. Dari sudut pandang teori ekonomi,harga di tingkat petani tercipta dalam sistem pe-masaran dan pada gilirannya menjadi arahan bagi petani dalam mengambil keputusan-keputusan produksi. Pengamatan terhadap fenomena beda harga menurut mutu di tingkat petani yang dikaitkan dengan keputusan petani menghasilkan kopi bermutu tinggi berdasarkan kondisi harga tersebut, diharapkan bermanfaat untuk memperjelas masalah harga sebagai arahan bagi petani menghasilkan kopi bermutu tinggi.
Penelitian ini bertujuan untuk
(1) menganalisis sejauh maha keterkaitan mutu dan harga kopi di tingkat petani, dan
(2) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani
1. Karakteristik Mutu Kopi dan Faktor-faktor Yang mempengaruhinya
Jenis kopi yang paling dikenal adalah kopi Arabica yang merupakan bagian terbesar produksi kopi dunia (sekitar 78% pada tahu 1989) dan Robusta kurang lebih 22% dari produksi kopi dunia (Anonymous, 1990). Masyarakat konsumen di negara-negara peminum kopi utama pada umumnya lebih menyukai jenis Arabica karena aroma dan kandungan kafein yang lebih rendah. Sedangkan kopi Robusta diperlukan untuk campuran agar minuman kopi menjadi ramuan yang sesuai dengan selera konsumen. Jenis kopi yang paling dominan di Indonesia adalah jenis Robusta. Jenis kopi ini relatif lebih tahan terhadap serangan hama dan lebih cocok dengan kondisi tanah di Indonesia pada umumnya. Namun harga kopi Robusta lebih rendah sekitar 5 40 % daripada Arabica (Siswoputranto, 1989).
Selain jenis kopi, macam cara pengolahan menjadi salah satu dasar penilaian mutu kopi di Indonesia. Dikenal dua macam cara pengolahan, yaitu pengolahan basah yang menghasilkan kopi bermutu tinggi dan pengolahan kering yang lebih sederhana tetapi menghasilkan kopi bermutu lebih rendah. Pada perkebunan negara atau perkebunan besar swasta selain digunakan pengolahan basah sebagai prosesing pokok, juga digunakan pengolahan kering untuk pemrosesan kopi-kopi inferior. Sedangkan perkebunan rakyat hampir semuanya menggunakan pengolahan kering.
Berbagai macam cacat yang terdapat dalam biji kopi juga mempengaruhi cita rasa kopi. Jenis cacat biji kopi dapat berupa biji hitam karena petik muda, biji coklat karena fermentasi dan pengeringan yang kurang tepat, biji berlubang karena serangan bubuk buah, biji pecah karena pengupasan yang kurang tepat, biji berkulit ari atau tercampurnya biji kopi dengan benda-benda lain karena sortasi yang longgar.
Banyaknya cacat pada biji kopi tersebut digunakan sebagai dasar standar mutu yang dikenal dengan istilah “standar mutu atas dasar defects system”. Dalam standar mutu ini tiap macam cacat biji kopi ditentukan nilai cacatnya yang sesungguhnya dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap rasa dan aroma kopi. Jumlah dari nilai cacat tersebut menentukan klasifikasi mutu kopi.
Berdasarkan nilai cacatnya, kopi ekspor Indonesia digolongkan ke dalam enam jenis mutu (Anonymous, 1983), yakni : Golongan mutu 1 : jumlah nilai cacat maksiman 11
Golongan mutu 2 : jumlah nilai cacat 12 25 Golongan mutu 3 : jumlah nilai cacat 26 44 Golongan mutu 4 : jumlah nilai cacat 45 80 Golongan mutu 5 : jumlah nilai cacat 81-150 Golongan mutu 6 : jumlah nilai cacat 151225.
Tiap jenis mutu dapat diperjelas dengan identifikasi lebih lanjut dan disebutkan daerah asalnya, misalnya kopi Toraja, Bali, atau Dampit yang memiliki rasa dan aroma tersendiri. Selain hal-hal tersebut di atas, kopi ekspor Indonesia juga harus memenuhi ketentuan-ketentuan umum syarat mutu seperti kadar air maksimum, ukuran biji kopi, dan bebas dari serangga hidup dan biji berbau kapang.
2. Mutu dan Pemasaran Kopi di Indonesia
Penelitian P3PK mencatat bahwa rantai pemasaran kopi Indonesia secara umum menunjukkan adanya empat pelaku ekonomi yaitu petani, pedagang pengumpul, pedagang lokal, dan eksportir. Dalam pola tataniaga, petani kopi rakyat memegang peranan besar sebagai produsen, sedangkan diujung rantai pemasaran eksportir berperan menyerap produksi tersebut (Anonymous, 1990).
Hasil penitian P3PK UGM tersebut lebih lanjut mencatat bahwa sistem pemasaran kopi di Indonesia berkembang atas suatu perbedaan kekuatan politik dan ekonomi yang menyolok diantara para pelakunya. Lapis pertama, petani yang lemah dalam permodalan dan pengorganisasian. Mereka tidak memiliki collective bergaining terhadap pedagang pengumpul. Kedua, pedagang pengumpul yang meskipun tidak memiliki organisasi tetapi kuat dalam permodalan dan informasi pasar. Lapis terakhir eksportir kopi yang memiliki organisasi kuat, modal kuat dan menguasai informasi pasar. Situasi ini
menjadikan eksportir dan pedagang pengumpul mampu menduduki posisi menentukan dalam seluruh sistem perdagangan kopi dan membuat peta-ni tergantung kepada mereka.
Dikaitkan dengan masalah mutu kopi rakyat, penanganan tiap tahap dalam rantai pemasaran sangat beragam antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Para petani umumnya menjual kopi dalam bentuk kopi biji yang biasa disebut ose. Sedangkan sortasi dan pengolahan selanjutnya dilakukan oleh para pedagang sampai di tingkat eksportir. Sisa yang tidak dapat diekspor, yang jumlahnya tidak besar, dijual kepada pabrik-pabrik kopi bubuk untuk konsumsi dalam negeri. Namun ada kalanya seorang pedagang tidak melakukan pengolahan sedikitpun (Anonymous, 1985).
Sebagai suatu sistem pembentukan harga, sistem pemasaran kopi dalam negeri dianggap belum mampu menciptakan harga yang merangsang petani untuk memproduksi kopi bermutu tinggi. Di Sumatera, beda harga antara biji kopi bermutu tinggi dan rendah tidak sebanding dengan tambahan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan petik masak (Mcstocker, 1987). Sedangkan penelitian Balitbang Departemen Perdagangan (1983) mengemukakan bahwa tidak adanya standar mutu yang jelas di tingkat petani dan pedagang menyebabkan terbentuknya harga di tingkat petani tidak sesuai dengan tingkatan mutu yang jelas dan konsisten.
Beda harga diantara daerah yang dikenal menghasilkan kopi bermutu tinggi dan daerah yang menghasilkan kopi bermutu
rendah cukup nyata. Penelitian Partosoedarso dan Makmur (1986) menyatakan bahwa harga yang diterima petani kopi di Lampung berkisar antara 25-50% dari harga f.o.b sedangkan di Jawa Timur angka ini mencapai sekitar 70% dari harga f.o.b. Bila informasi ter-sebut dikaitkan dengan penelitian Priyambodo (1983) dalam Rajino (1985) bahwa rata-rata persentase buah masak di Lampung berkisar antara 26-36% sedangkan di Lumajang antara 75-96%, maka dapat dikatakan bahwa sangat mungkin beda harga antara Lumajang dan Jawa Timur tersebut disebabkan karena perbedaan mutu.
METODE PENELITIAN
Daerah penelitian ditentukan secara sengaja di Desa Asah Duren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali. Pemilihan daerah tersebut didasarkan pertimbangan bahwa desa Asah Duren merupakan salah satu sentra produksi kopi yang penting di wilayah Kabupaten Jembrana. Kabupaten Jembrana merupakan salah satu penghasil utama kopi di Propinsi Bali, di samping Kabupaten Singaraja. Penentuan contoh petani dilakukan dengan metode simple random sampling sebanyak 91 petani kopi, yang merupakan 25% dari populasi petani kopi (364 petani) di Desa Asah Duren.
Data primer diperoleh langsung dari responden dengan metode wawancara berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Referensi waktu survey yang digunakan adalah akhir panen kopi tahun lalu sampai dengan masa panen kopi terakhir. Sedang data sekunder diperoleh dari publikasi Biro Pusat Statistik dan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI).
Untuk mengetahui sejauhnya keterkaitan antara mutu hasil pengupasan dengan mesin pengupas kulit dan harga jual kopi di tingkat petani, digunakan model analisis regresi linear berganda. Modelnya adalah sebagai berikut:
Hj = Bo + B1CP + B2RP + B3UP + B4HA + e
Keterangan :
Hj = Harga jual kopi di tingkat petani (ribuan rupiah per kg ose)
CP = Variabe! boneka cara pe-ngupasan, di mana CP = 1 untuk pengupasan dengan mesin pengupas kulit kopi, dan CP = 0 untuk cara pengupasan lainnya RP = Variabel boneka panjang rantai pemasaran, di mana RP = 1 untuk petani yang menjual ke pedagang besar, dan RP = 0 untuk lainnya UP = Variabel boneka upaya pe-tani memilih pembeli, di mana UP = 1 untuk petani yang selalu berupaya me-milih pembeli untuk memperoleh harga tertinggi, dan UP = 0 untuk petani yang mempunyai langganan tertentu dan beranggapan bahwa harga jual kepada semua pedagang adalah sama. HA =/ Harga acuan, yaitu harga kopi rata-rata dalam satu minggu yang lalu di tingkat petani, dirlyatakan dalam ribuan rupiah per kg ose.
s
Untuk mengetahui model yang digunakan, dilakukan uji F, sedangkan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas dilakukan uji t. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan petani memproduksi kopi bermutu tinggi di-gunakan analisis tabel silang dan regresi linier sederhana dengan variabel terikat adalah *biay£/pengupasan kulit kopi dan variabel bebas adalah jumlah produksi kopi’

HASIL PENELITIAN
1. Analisis Keterkaitan Mutu dan Harga Kopi di Tingkat Petani
Keterkaitan mutu dan harga kopi di tingkat petani yang dianalisis dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara karakteristik mutu hasil cara pengupasan dengan harga jual kopi di tingkat petani. Hasil analisis regresi antara harga jual kopi di tingkat petani dengan mutu hasil cara pengupasan yang berbeda serta beberapa variabel penjelas lain disajikan pada Tabel 1.
Melalui Tabel 1 dapat diketahui bahwa nilai F-hitung pada derajat kesalahan 1% lebih besar dari nilai F-trbel, berarti bahw semua variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi
harga jual kopi di tingkat petani. Dengan demikian model yang diajukan dapat digunakan untuk menduga parameter-parameter dari variabel penjelas yang digunakan pada Tabel 1 adalah 19,4%, artinya variasi harga jual kopi di tingkat petani dapat dijelaskan oleh variabel bebas sebesar 19,4% dan sisanya 80,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Kecilnya nilai R2 ini disebabkan karena karakteristik mutu yang dapat disertakan dalam model terbatas hanya pada karakteristik mutu hasil pengupasan yang berbeda. Selain itu banyaknya variabel dan kompleksnya pola hubungan antar variabel yang dapat berpengaruh terhadap
harga suatu barang, menyebabkan variabel-variabel penjelas dalam model seringkali mempunyai kekuatan menjelaskan yang kecil (Pindyck dan Rubinfeld, 1981).
Berdasarkan hasil analisis regresi seperti pada Tabel 1, maka dapat diketahui bahwa cara pengupasan dan harga acuan berpengaruh sangat nyata terhadap harga jual kopi di tingkat petani, karena nilai thitung masing-masing variabel lebih besar dari nilai t-tabel pada tingkat kepercayaan 99%. Sedangkan variabel panjang rantai pemasaran dan upaya petani memilih pembeli tidak berpengaruh nyata terhadap harga jual kopi di tingkat petani, karena nilai t-hitung lebih kecil dari nilai t-tabel.
Koefisien regresi B1 (cara pengupasa) adalah sangat nyata pada kesalahan 1%. Hal ini menunjukkan bahwa harga implisit dari karakteristik mutu hasil cara pengupasan yang berbeda cukup nyata dalam struktur harga implisit kopi di tingkat petani. Walaupun dalam transaksi penjualan mutu kopi yang dijual tidak didasarkan pengukuran yang jelas dan konsisten, namun karakteristik mutu hasil cara pengupasan yang berbeda cukup berpengaruh terhadap harga jual kopi di tingkat petani.
Mengingat konsep Ladd dan Suvannut (1976) bahwa koefisien regresi menyatakan besarnya perubahan harga sesuai dengan peruahan volume masing-masing karakteristik, maka koefisien regresi antara harga jual kopi dengan karakteristik hasil pengupasan dalam penelitian ini merupakan nilai rupiah beda antara tingkat rr.utu hasil pengupasan dengan mesin dan hasil pengupasan tradisional. Tingkat mutu yang lebih tinggi menyebabkan harga jual kopi hasil pengupasan dengan mesin lebih tinggi 0,042 kali satuan harga. Karena variabel harga jual kopi dinyatakan dalam ribuan rupiah, maka nilai perbedaan hasil pengupasan dengan mesin danTiasil pengupasan tradisional adalah 42 rupiah per kilogram ose.
Adanya harga implisit yang menjadikan harga kopi hasil pengupahan dengan mesin lebih tinggi daripada hasil pengupasan tradisional secara teoritis memungkinkan petani mengambil keputusan tentang tingkat mutu hasil pengupasan yang paling menguntungkan baginya, sesuai dengan sruktur biaya masing-masing petani.
Variabel panjang rantai pemasaran bertanda negatif namun secara statistik tidak nyata berpengaruh terhadap harga jual kopi di tingkat petani. Harga jual kopi petani yang langsung menjual ke pedagang di pasar Kecamatan (Pekutatan) cenderung lebih tinggi namun tidak nyata berbeda dengan harga yang diperoleh petani yang menjual kepada pedagang desa. Demikian pula halnya dengan variabel upaya petani mengusahakan harga yang paling menguntungkan melalui pemilihan pedagang, ternyata tidak berpengaruh terhadap harga jual kopi petani. Perbedaan harga antara pedagang yang satu dengan yang lain tidak berbeda nyata.
Sedangkan harga acuan dalam penetapan harga kopi di tingkat petani sangat nyata berpengaruh terhadap harga jual kopi di tingkat petani. Pada sistem pemasaran yang dihadapi petani, pedagang tingkat desa menggunakan harga kopi yang ditentukan pedagang
besar di Pekutatan sebagai pedoman harga dalam pembelian. kopi dari petani. Sedangkan pedagang besar di Pekutatan menentukan harga acuan tersebut berdasarkan perkembangan harga kopi di pasar internasignal.
2. Faktor-faktor Yang Berpe-ngaruh Terhadap Keputusan Petani Memproduksi Kopi Bermutu Tinggi.
Keputusan petani memproduksi kopi bermutu tinggi yang dianalisis dalam penelitian ini adalah keputusan petani melakukan pengupasan dengan mesin pengupas kulit kopi. Faktor-faktor yang diduga ber-pengaruh terhadap keputusan petani tersebut adalah informasi yang dikuasai petani ten-tang lebih tingginya harga kopi hasil pengupasan dengan me-sin, dan jumlah produksi yang dihasilkan petani.

Advertisement

Incoming search terms:

  • hubungan antara cacat dengan sifat kopi
  • arti defect dalam penelitian kopi
  • bermutu tinggi adalah
  • pengertian kopi menurut anonimous

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • hubungan antara cacat dengan sifat kopi
  • arti defect dalam penelitian kopi
  • bermutu tinggi adalah
  • pengertian kopi menurut anonimous