Advertisement

PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA Arti Bangsa :
Bangsa adalah rakyat yang telah mempunyai kesatuan tekad untuk membangun masa depan bersama dengan mendirikan sebuah negara yang akan mengurus terwujudnya aspirasi dan kepentingan bersama mereka secara adil. Rakyat yang tidak mempunyai kesatuan tekad demikian bukanlah merupakan satu bangsa. Dengan demikian, sebelum berdirinya suatu negara, dari berbagai golongan masyarakat yang akan merupakan rakyat negara tersebut, terlebih dahulu harus telah tumbuh dan berkembang tekad yang kuat untuk membangun masa depan bersama. Tekad yang kuat untuk membangun masa depan bersama ini disebut sebagai kesadaran kebangsaan, sedangkan wawasan yang tumbuh dan berkembang dari kesadaran kebangsaan tersebut dinamakan wawasan kebangsaan.
PENTINGNYA PANDANGAN HIDUP BANGSA
Setiap bangsa yang ingin berdiri kukuh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang ingin dicapainya sangat memerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup bangsa inilah suatu bangsa akan memandang persoalan yang dihadapinya dan menentukan arah serta memecahkannya secara tepat. Tanpa memiliki pandangan hidup, suatu bangsa akan merasa terombangambing dalam menghadapi per-soalan besar yang timbul, baik per-soalan masyarakatnya sendiri maupun persoalan besar umat manusia dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia.
Dengan pandangan hidup bangsa yang jelas, suatu bangsa akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana mengenal dan memecahkan masalah politik, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan hankam, yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada pandangan hi-dup itu pula, suatu bangsa akan membangun dirinya.
Dalam pandangan hidup bangsa terkandung konsepsi dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan, terkandung dasar pikiran terdalam, dan gagasan mengenai wujud kehidupan yang dianggap baik. Pandangan hidup bangsa adalah kristalisasi dan institusionalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki, yang diyakini kebenarannya, dan menimbulkan tekad untuk mewujudkannya. Karena itulah, dalam melaksanakan pembangunan nasional, misalnya, suatu bangsa tidak dapat begitu saja mencontoh atau meniru model yang dilakukan oleh bangsa lain, tanpa menyesuaikannya dengan pandangan hidup dan kebutuhan bangsa sen-diri. Suatu corak pembangunan yang baik dan memuaskan bagi suatu bangsa belum tentu baik atau memuaskan bagi bangsa yang lain. Karena itulah, pandangan hidup suatu bangsa merupakan hal yang sangat asasi bagi kekukuhan dan kelestariannya.
Agar memperoleh dukungan seluruh rakyat, pandangan hidup bangsa harus berakar pada nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat yang menjadi unsur rakyat itu. Ringkasnya, pandangan hidup bangsa harus berakar pada pandangan hi-dup masyarakat. Pancasila sebagai pandangan .hidup bangsa mem-peroleh dukungan rakyat Indonesia karena sila-silanya, secara keseluruhan, merupakan intisari dari nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang amat majemuk. Oleh karena itulah, negara kesatuan Republik Indonesia mencantumkan sesanti Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara. Persatuan dan kesatuan tidak boleh mematikan keaneka ragaman dan kemajemukan sebagaimana kemajemukan tidak boleh menjadi faktor pemecah belah, tetapi malah harus menjadi sumber daya yang kaya untuk memajukan persatuan dan kesatuan itu.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa juga didukung oleh setiap warganegara karena Pancasila yang dilaksanakan oleh Undang-Undang Dasar 1945 serta peraturan perundang-undangan lainnya menghormati serta menjamin hak serta martabat kemanusiaannya. Pancasila memberikan corak yang khas kepada kebudayaan bangsa Indonesia. Karena itu, ia tidak dapat dipisahkan dari bangsa Indonesia dan merupakan ciri khas yang membedakan bangsa Indonesia dari bangsa yang lain. Terdapat kemungkinan bahwa tiap-tiap sila “secara terlepas dari yang lain” bersifat universal, yang juga dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia in’. Akan tetapi, kelima sila yang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Itulah yang kita sebut jiwa dan kppribadian bangsa Indonesia. (Bahan Penataran P-4 Pancasila/ P-4, BP-7 Pusat,,f1994).
Pada zaman Orde Lama (ORLA) Pancasila ditafsirkan oleh beberapa kelompok atau golongan manusia Indonesia dengan tafsiran yang berbeda-beda menurut falsafah dan keyakinan masing-masing. Akibat kondisi tersebut, menimbulkan dampak negatif berupa perpecahan bangsa dan negara, atau dengan kata lain merusak keutuhan dan persatuan bangsa seperti yang tercantum dalam
Pembukaan Undang-[Jndanp Dasar 1945 alinea keempat (IV).
Akibat lanjut perpecahan ter-sebut di atas terjadilah berbagai peristiwa dan pergolakan politik, bahkan sampai dengan pemberontakan-pemberontakan bersenjata. Segala peristiwa dan pergolakan tersebut pada dasarnya bertujuan untuk mengubah Pancasila sebagai dasar negara dan menggantikannya dengan dasar negara yang lain, yang pada titik kulminasinya terjadi pemberontakanpemberontakan bersenjata antara lain :
1. Pemberontakan PKI pertama di Madiun pada tahun 1948.
2. Pemberontakan mereka yang menamakan dirinya Darul Islam.
3. Pemberontakan PKI kedua menjelang akhir tahun 1965 dengan “Gerakan 30 September”-nya.
Kita semua bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa ber-bagai pemberontakan bersenjata tersebut dapat dipadamkan berkat operasi-operasi militer yang di-lakukan leh ABRI dan berkat perlawanan yang gigih dari rakyat Indonesia sendiri.
Dalam menanggulangi penafsiran Pancasila yang berbeda tersebut, maka Bapak Presiden Soeharto mengambil langkah dan upaya mengajak segenap bangsa Indonesia untuk memahami secara mendalam gagasan-gagasan dasar yang terkandung dalam Pancasila dan melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Di samping itu Presiden juga telah berulang kali mengajak seluruh lapisan masya-rakat, tokoh-tokoh dan pemuka masyarakat terutama kalangan cerdik-pandai untuk bersama-sama memikirkan cara yang paling tepat dan mudah untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila.
Ajakan Kepala Negara tersebut tercermin dalam pidato-pidato
beliau, yang antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Pidato Presiden pada peringatan ulang tahun ke-25 Universitas Gajah mada di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1974. Dalam pidato tersebut beliau mengemukakan perhatiannya dan keprihatinannya tentang Pengamalan Pancasila. Beliau mengatakan bahwa kita telah memiliki Pancasila, namun de-mikian belum berarti bahwa kita telah memahami atau menghayati apa sebenarnya Pancasila itu.
Oleh karena itu Presiden mengajak semau pihak untuk bersama-sama memikirkan cara-cara untuk menjabarkan Pancasila, agar dapat dimengerti dan diamalkan secara nyata dalam segala segi kehi-dupan dan tingkah-laku kita sehari-hari.
2. Pidato Kenegaraan Presiden di hadapan Sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 16 Agustus 1975.
Dalam pidato tersebut Presiden antara lain mengemukakan bahwa kita tidak mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara kita, dan sedikitpun tidak menyangsikan tepatnya Pancasila sebagai dasar falsa-fah negara, yang akan membimbing kita ke arah kemajuan, kesejahteraan dan keselamatan bangsa kita. Kemudian lebih lanjut Presiden mengemukakan sebagai berikut:
“Ajakan saya adalah menjabarkan Pancasila itu dalam rumusan-rumusan yang sederhana dan jelas untuk dipakai sebagai pedoman sikap hidup manusia Pancasila. Ajakan saya adalah agar kita bersama-sama memi-kirkan penghayatan dan peng-amalan Pancasila dalam segala segi kehidupan dan tingkah laku kita sehari-hari”.
3. Pidato sambutan Presiden pada Musyawarah Kerja Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Kwartir Daerah se Indonesia pada tanggal 12 April 1976.
Dalam sambutannya itu Presiden untuk pertama kalinya mengemukakan gagasan-gagasan tentang pedoman untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang oleh beliau di beri nama “Ekaprasetia Pancakarsa”. Bahan-bahan pemikiran Presiden tersebut disampaikan kepada MPR yang selama Sidang Umum MPR, diambillah ketetapan yang disebut Ketetapan MPR No. 11/1978 yang isi pokoknya tentang Pedoman Penghayatan Dan Pengamalan Pancasila yang disingkat P-4, sebagai kunci pokok untuk menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang merupakan pedoman dan penuntun sikap dan tingkah-laku manusia Indo-nesia.
Menurut pasal 5 dari Ke-tetapan tersebut di atas, menugasi Presiden sebagai Mandataris atau Presiden bersama-sama DPR untuk mengusahakan agar P-4 dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dengan tetap berlandaskan peraturan perundangan yang berlaku. Setelah dikeluarkannya P-4, maka sebagai tindak lanjut pelaksanaan P-4 tersebut, diadakanlah penggalakan penataranpenataran P-4 di kalangan masyarakat, mahasiswa, pegawai-pegawai negeri dan swasta serta organisasi-organisasi kemasyarakatan dalam rangka memantapkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan Pancasila menuju tercapainya manusia Indonesia Pancasilais.
Sebagai pencerminan wujud nyata manusia Indonesia, yang Pancasilais maka menjadi kenyataan yang dapat diamati dan/atau dirasakan kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari di dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan kita dalam pengamalan butir-butir nilai Pancasila sebanyak 45 butir P-4 sebagai berikut:
Sila Kesatu : Ketuhanan Yang Maha Esa
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut ke-percayaan yang berbedabeda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakininya.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masingmasing.
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Sila Kedua : Kemanusiaan
Yang Adil Dan Beradab
1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap tenggang rasa dan tepaselira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat-menghormati bekerjasama dengan bangsa lain.
Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan’ pribadi atau golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa, apabila diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Sila Keempat : Kerakyatan
Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat’kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
6. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.
8. Musyawarah dilakukan de-ngan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral ke-pada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilainilai kebenaran dan keadilan, mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksa-nakan permusyawaratan.
Sila Kelima: Keadilan Sosial
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak orang lain.
5. Suka memberikan pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
8. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
9. Suka bekerja keras.
10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan keadilan sosial. (Bahan Penataran P-4 Pancasila/P-4, BP-7, 1994).
Tanpa pengamalan butirbutir Pancasila tersebut, maka kurang wajarlah menda’wahkan diri sebagai seorang yang Pancasilais.

Sebagai kesimpulan dari uraian kami tersebut adalah :
1. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P-4), tidak merupakan tafsir Pancasila sebagai dasar negara dan juga tidak bermaksud menafsirkan Pancasila dasar negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Batang Tubuh dan Penjelasan dan perumusan ini dituangkan dafam rumusan yang sederhana, jelas dan mudah dipahami maknanya.
2. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila merupakan pegangan dan penuntun hidup dalam sikap, tingkah-laku dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat.
3. Kepada Pemerintah, supaya lebih ditingkatkan penataran P-4 untuk lebih memantapkan penghayatan dan pengamalan Pancasila dalam metode efektif.
4. Kepada masyarakat yang telah mengikuti Penataran P-4, supaya dalam kehidupan sehari-hari sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Pancasila sebagaimana mestinya.

Advertisement

Incoming search terms:

  • cara menghayati dan mengamalkan pancasila
  • memahami dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok menghayati dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok pengamalan pancasila
  • mengamalkan pancasila
  • dampak tidak memahami mengahayati dan mengamalkan pancasila
  • menghayati dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok dalam pengamalan pancasila
  • menghayati nilai2 pançasila dalam menjaga keseimnbangan hak dan kewajiban
  • cara memahami dan mengamalkan pancasila

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • cara menghayati dan mengamalkan pancasila
  • memahami dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok menghayati dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok pengamalan pancasila
  • mengamalkan pancasila
  • dampak tidak memahami mengahayati dan mengamalkan pancasila
  • menghayati dan mengamalkan pancasila
  • kunci pokok dalam pengamalan pancasila
  • menghayati nilai2 pançasila dalam menjaga keseimnbangan hak dan kewajiban
  • cara memahami dan mengamalkan pancasila