Advertisement

Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan terjadi dalam manusia pada tingkat pengetahuan indrawi dan pengetahuan intelektual. Dalam pengetahuan indrawi, kesan-kesan yang diterima alat-alat indra dari dunia sekitar, diasimilasikan lebih lanjut. Kesan-kesan itu diterima (species impressa) oleh kekuatan indra dengan penyederhanaan yang didukung secara biologis dan kemudian dibawa kepada kesadaran yang aktif.

Advertisement

Dalam kesadaran itu, aspek-aspek definitif tertentu menonjol, dan berada di dalam korelasi definitif dengan realitas-realitas objektif dunia sekitar. Namun semua ini tetap pada tingkat pengetahuan indrawi.

Hanya pada tingkat pengetahuan intelektual subjek kembali secara utuh kepada dirinya sendiri dan memiliki dirinya sendiri beserta pengalamannya tentang dunia dalam hubungannya dengan eksistensi sebagai eksistensi. Hubungan-hubungan ini terungkap dalam pemikiran yang selaras dengan momen-momen partikular (kategori-kategori a priori), yang intrinsik dalam eksisten sebagai eksisten. Dan berdasarkan data-data yang diterimanya, hubungan- hubungan ini menimbulkan konsep-konsep empiris yang berlainan, karena, pengetahuan manusia bersandar pada asimilasi (teori representasi) yang berbeda dengan pengetahuan proyeksi yang menentukan batas-batas bagi segala sesuatu. Kalau daya pengetahuan belum diasimilasikan dengan objek secara imaterial (melalui apa yang dinamakan intelligible species = spesies yang dapat dimengerti), daya pengetahuan tidak mampu menyusun dirinya sendiri pada objek tersebut (dengan verbum mentis = kata pikiran).

Dari pengetahuan manusiawi yang penuh ini, yang mencakup baik pengetahuan indrawi maupun intelektual sebagai dua aspeknya yang perlu, dapat dibentuk konsep pengetahuan indrawi murni yang reduktif. Konsep reduktif ini bermanfaat sebagai penuntun penafsiran terhadap ujaran binatang-binatang yang analog, yang menunjukkan sejenis pengetahuan.

Lebih jauh, analisis mengenai pengetahuan intelektual memperlihatkan bahwa pengetahuan intelektual tidak niscaya terbatas hanya pada cara pemikiran manusia mengenai objek yang ada secara indrawi. Yakni, sebegitu jauh, dalam kegiatan pengetahuan murni rohani, eksistensi yang mengetahui dapat disajikan kepada manusia sebagai “untuk dirinya sendiri” dengan intuisi murni.

Advertisement