Advertisement

Walaupun timbul berbagai kritik tentang sikap dan hubungannya dengan perilaku, upaya untuk meramalkan atau memprakirakan perilaku tetap saja dianggap penting dalam psikologi sosial, karena lebih efisien daripada harus melakukan pengamatan langsung di lapangan. Karena itu, beberapa pakar berusaha untuk mengembangkan teori dan metode untuk meningkatkan day a prakiraan dari sikap tersebut.

Fishbein dan Ajzen (1974) mengatakan bahwa sikap yang umum, misalnya terhadap agama, memang tidak dapat meramalkan apakah seseorang akan ke gereja pada suatu hari Minggu, Dapat saja ia tidak datang karena berbagai alasan (hujan, sakit, ketiduran, tidak ada kendaraan dan sebagainya). Akan tetapi, sikap umum terhadap agama ini dapat meramalkan seberapa sering seseorang itu akan ke gereja dalam suatu kurun waktu tertentu. Makin positif sikapnya, makin sering ia ke gereja. Demikian pula. orang yang pada suatu waktu tidak mau makan nasi goreng, jika sikapnya positif (suka), pada kesempatan lain ia akan lebih sering memilih nasi goreng daripada makanan yang lain. Dengan demiktan, kata Fishbein dan Ajzen, kita tidak dapat melihat sikap dari satu perilaku atau peristiwa saja, melainkan kita harus melihatnya dari rata-rata timbulnya perilaku tersebut pada peristiwa-peristiwa sejenis dalam satu kurun waktu tertentu. Dengan demikian, juga dalam contoh kasus di awal bab ini, kita tidak dapat menyimpulkan sikap Fat dan Noel hanya karena akhirnya ia menerima uang tersebut.

Advertisement

Selain itu, Fishbein (1974) dan Ajzen (1982) mengatakanbahwa sulit untuk mengukur sikap yang umum, padahal perilakunya khusus. Sebaliknya, sulit untuk meprakirakan perilaku yang khusus dari sikap yang umum. Misalnya, sikap yang negatif terhadap orang Cina di kalangan pemilik hotel, restoran, dan tempat-tempat umum dalam percobaan La Piere, tidak bisa untuk memprakirakan perilaku menerima tamu Cina pada saat tamu Cina itu datang ditemani oleh La Piere yang berkulit putih. Dalam contoh lain, sikap yang positif terhadap kesehatan tidak dapat untuk memprakirakan kebiasaan joging atau diet.

Di pihak lain, sikap terhadap suatu hal yang khusus dapat meramalkan atau memprakirakan perilaku dalam hal yang khusus itu pula. Misalnya, sikap terhadap keluarga berencana belum tentu dapat meramalkan apakah seseorang akan memakai kontrasepsi, tetapi sikap terhadap kontrasepsi dapatmeramalkan pemakaian kontrasepsi (Morrison, 1989). Demikian pula sikap terhadap daur ulang (bukan sikap terhadap kebersihan) dapat meramalkan perilaku daur ulang (Oskamp, 1991).

Selanjutnya, ditemukan pula bahwa sikap dapat menentukan perilaku jika ia muncul atau dimunculkan dalam kesadaran seseorang. Dalam kebanyakan peristiwa memang kita tidak terlalu peduli kepada sikap kita sendiri. Misalnya, kalau seorang istri bertanya kepada suaminya, “Bang, bagaimana selendangku, sudah cocok dengan kebayaku atau tidak?”, sang suami akan menjawab saja, “Sudah” agar mereka dapat segera berangkat ke resepsi perkawinan (walaupun mungkin suami itu kurang suka dengan selendang istrinya). Atau, ketika Anda sedang asyik mengobrol dengan teman-teman di restoran, tiba-tiba datang pelayan dan menanyakan, “Bagaimana makanannya, enak?”, maka Anda jawab saja, “Oh, enak sekali”, agar Anda bisa segera melanjutkan obrolan Anda (walaupun sesungguhnya Anda kurang menyetujui makanan itu). Perilaku seperti ini sering diperbuat orang karena dapat menghemat energi dan efisien. Namun, kalau sikap itu sempat dimunculkan dalam kesadaran, perilaku orang akan berbeda.

Untuk membuktikan hal itu, Snyder & Swann (1976) mengadakan penelitian dengan 120 mahasiswa Universitas Minnesota. Mereka diminta untuk menjadi “juri” dalam suatu kasus diskriminasi ual. Sebagian diminta langsung memberi pendapatnya setelah membaca kasus itu, sedangkan sebagian yang lain diberi waktu beberapa menit untuk mengorganisir sikapnya sebelum memberikan jawaban. Ternyata yang diberi waktu memberi jawaban yang lebih konsisten dengan sikapnya daripada yang tidak diberi waktu.

Sebuah eksperimen lain dilakukan oleh Diener & Wallborn (1976). Sejumlah mahasiswa diminta pendapatnya tentang menyontek. Semuanya mengatakan bahwa menyontek itu jelek (sikap negatif). Kemudian, mereka diminta mengerjakan sebuah tes (seolah-olah tes IQ), kemudian ditinggalkan begitu saja (tidak diawasi, tetapi tetap diamati), ternyata 71% menyontek. Akan tetapi, ketika mereka diminta untuk mengerjakan tes lagi di sebuah ruangan yang dipasangi cermin-cermin di dindingnya (sehingga mereka dapat melihat bayangan mereka sendiri), yang menyontek tinggal 7%.

Lebih kukuhnya hubungan antara sikap dan perilaku dipengaruhi oleh bagaimana caranya sikap itu masuk ke dalam kesadaran.  Dalam sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Regan & Fazio (1977) terhadap sejumlah mahasiswa tahun pertama di Universitas Cornell didapatkan bahwa semua mahasiswa yang tinggal dipemukiman mahasiswa mengeluh tentang kondisi tempat tinggal yang jelek, pelayanan yang tidak memuaskan, dan sebagainya. Akan tetapi, ketika diminta untuk melakukan tindakan nyata seperti menandatangani petisi, menyebarkan petisi atau ikut demonstrasi, hanya mahasiswa yang tinggal di asrama-asrama yang sungguhsungguh buruk kondisinya yang mau ikut terlibat, sementara mahasiswa yang ditempatkan di tempat tinggal yang lebih baik tidak mau melibatkan diri.

Advertisement