Advertisement

MENJAGA KERUKUNAN KEHIDUPAN BERAGAMA – Suatu bentuk penghayatan hidup bersama didasarkan iman dan keperca yaan kepada Allah. Kehidupan beragama adalah konkretisasi agama dalam kehidupan bersama. Manu­sia melaksanakan agama secara bersama dengan umat seagama dalam ibadah, upacara, kurban, dan dalanj melaksanakan ajaran-Nya.

Masyarakat Primitif. Kehidupan beragama suatu masyarakat dipandang melalui cara masyarakat itu menghayati agamanya. Kehidupan beragama masya- rakat primitif dipusatkan pada pengalaman tentang yang kudus yang digambarkan oleh para antropolog agama seperti Mircea Eliade sebagai pengalaman hie- rofani, teolofani, atau kratofani. Pengalaman penam­pakan yang kudus akan mempengaruhi segi pokok pandangan mereka tentang dunia, manusia dan seja­rahnya. Hal ini umumnya ditandai adanya kesadaran masuknya yang kudus ke dunia, dan dunia profan ber­kaitan erat dengan pengalaman hierofani. Hal ini di­sebabkan karena pandangan masyarakat primitif tidak pernah memandang dunia secara netral. Bagi mereka yang dirasuki pengalaman religius, dunia menying­kapkan yang kudus sebagai kesucian kosmos, karena kosmos dalam keseluruhannya dimasuki suasana rohani.

Advertisement

Yang dipertanyakan apakah model penghayatan re­ligius semacam ini mempunyai dimensi sosial. Perta­nyaan tersebut timbul dari latar belakang kehidupan manusia modern yang membedakan antara dunia pro­fan dan dunia sakral. Hal semacam ini tidak seharus­nya dialami masyarakat primitif, karena mereka memiliki mental serta sikap coincidentia oppositorum, harmoni dalam konflik.

Masyarakat Modern adalah masyarakat sekular, artinya dalam masyarakat tersebut terdapat suatu pro­ses penarikan diri sektor masyarakat dan kehidup­annya dari pengaruh serta kendali agama, dan secara berdikari berkembang sesuai dengan kondisi duniawi.;

Para sosiolog dan teolog menganggap proses ini se­bagai proses sah. Teolog agama Yahudi-Kristen mengatakan bahwa proses mendunia itu adalah proses wajar, sebagai hasil logis dan konsekuen dari gagasan penciptaan.

Bagi para sosiolog agama adalah realitas sosial, ka­rena itu kehidupan beragama sering tergantung dari keleluasaan dan situasi masyarakat. Dalam masyara­kat modern, proses sekularisasi kehidupan beragama dipermudah dengan fakta (1) bahwa manusia jaman kini menghargai nilai duniawi serta otonomi manusia dan nilai yang berkaitan dengannya, seperti kemandi­rian, kebebasan, hak asasi, terutama munculnya kesa­han akan martabat manusia sebagai pribadi; (2) bah- wa manusia jaman kini hidup dalam pandangan hidup vang pluralistik dan dengan demikian agama bukan­lah satu-satunya sistem nilai yang dapat dipaksakan kepadanya. Agama dapat kehilangan monopoli dalam mendefinisikan realitas.

Dengan demikian tidaklah tepat mengatakan bah­wa manusia modern tidak religius. Dalam pengertian tertentu, manusia modern memiliki ciri kehidupan beragama yang khas. Kehidupan beragama manusia modern lebih ortopraksis daripada ortodoksi. Praksis dalam arti selalu memuat refleksi yang memung­kinkan perkembangan dan kreativitas. Ada kebutuhan mendesak untuk mengalami perkembangan dan peru­bahan pesat yang mendalam. Bersamaan dengan ke­cenderungan tersebut, agama ditempatkan dalam posisi dan fungsi pemberi makna bagi perubahan dan perkembangan itu. Dengan demikian, selain sebagai motif usaha manusia modern, agama melalui subjek­nya mengembangkan dinamika kehidupan manusia dalam perubahan kondisi hidup manusia.

Kehidupan Beragama di Indonesia. Di Indonesia berkembang agama-agama besar dunia, yang diakui oleh Departemen Agama. Ada enam agama dan ke­percayaan, yaitu agama Islam, agama Katolik, agama Protestan, agama Hindu, agama Budha, dan Keperca­yaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam sejarah, agama besar tersebut, terutama agama Hindu, Budha dan Islam, tidak hanya hadir secara kerohanian, tetapi juga secara fisik dan politis dalam wujud kerajaan, sehingga agama-agama itu memberikan bekas kuat pada perkembangan kehidupan bangsa Indonesia.

Satu hal yang menarik adalah bahwa perbedaan agama-agama Indonesia, yang secara potensial me­ngandung pertentangan, dalam kenyataannya tidak pernah menimbulkan perang antarpenganut agama. Sikap toleransi antarpemeluk berbagai agama meru­pakan kenyataan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Berhubungan dengan ini, timbul komitmen yang da­pat dikatakan politis untuk mengarahkan kehidupan beragama kepada kerukunan hidup beragama.

Incoming search terms:

  • arti kehidupan beragama
  • pengertian kehidupan beragama
  • makna kehidupan beragama
  • pengertian menjaga kerukunan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti kehidupan beragama
  • pengertian kehidupan beragama
  • makna kehidupan beragama
  • pengertian menjaga kerukunan