Advertisement

Di antara orang-orang yang berlainan jenis kelamin, hubungan teman dekat dapat (walaupun tidak selalu) berkembang menjadi hubungan romantis. Pasangan dalam hubungan romantis adalah orang yang dirasakan paling dekat (Berscheid dkk., 1989). Jika hubungan sudah begitu dekatnya, orang dapat saling memasukkan ke tialam dirinya masing-masing (Inclusion of Other in the self/IOS) (Aron, Aron & Smollan, 1982). Dalam keadaan ini kedua orang rasanya tidak dapat dipisahkan lagi dan lahirlah puisi-puisi atau tembang-tembang yang indah mengenai hubungan mereka (“kalau aku jadi kembang, abang jadi kumbangnya”). Hubungan yang paling bertahan lama adalah jika sejak awal sudah saling dekat. Akan tetapi, hubungan ini mulai menurun jika mulai timbul perasaan tidak tertarik (Berscheid, Snyder & Omoto, 1989).

Ciri dari hubungan romantis adalah cinta yang membara (passionate love). Cinta seperti ini ditandai oleh kecenderungan untuk terus menerus tidak dapat melupakan pasangannya, baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Pacar itu (sasaran cinta) juga dinilai selalu positif, selalu sempurna. Kekurangan sedikitsedikit (misalnya, gigi agak gingsul, mata sipit sebelah atau malas mandi, dan agak cerewet) justru dipandang seoagai penambah kesempurnaan sang pacar. Padahal, kalau sudah tidak cinta lagi akan mejadi sumber kritik. Cinta yang membara juga ditandai dengan hasrat ual, mudan terangsang secara risik, selalu ingin bersama, tidak mau memikirkan kalau harus berpisah dan selalu ingin berbaias cinta (Hatfield, 1988).

Advertisement

Sebetulnya tidak mudah untuk mendefinisikan cinta, apalagi untuk mengukurnya. OLeh karena itu, para pakar pun hanya mampu untuk mendeskrispsikan saja tentang cinta itu. Walaupun demikian, berbagai upaya tetap saja dilakukan untuk mengukur kadar cinta. Salah satunya adalah yang dikembangkan oleh Hatfield & Walster (1981) dengan teori Tiga Faktor dari Cinta (Three factor theory of Passionate Love).

Dalam hubungan cinta ini, biasanya pihak laki-laki lebih tua. Alasannya belum jelas benar, karena masih belum ada kesepakatan dalam penelitian. Akan tetapi, penganut aliran biologik percaya bahwa ada unsur genetik pada kecenderungan yang sangat umum ini (Kenrick & Keefe, 1992). Penganut aliran sosiobiologik percaya bahwa laki-laki yang lebih tua dibutuhkan karena lebih mampu, lebih matang, secara ekonomi lebih dapat menghasilkan sehingga lebih dapat diharapkan sebagai pelindung dan pencari nafkah untuk anak-anak dan istrinya. Sebaliknya, laki-laki memilih wanita yang lebih muda berdasarkan kemampuan reproduktifnya (mengandung dan melahirkan), yaitu yang muda, sehat dan cantik, khususnya yang berumurl8-29 tahun (Broude, 1992; Dupre, 1992).

Sayang sekali, cinta yang membara itu (passionate love) biasanya tidak berlangsung untuk selama-lamanya. Kondisi wanita yang bertambah umur sudah barang tentu tidak bisa seperti yang diharapkan oleh pasangannya di saat mereka masih muda. Tidak mengherankan jika pada pria terdapat kecenderungan yang lebih besar untuk mencari pasangan baru (vang dalam konteks agama dan budaya Indonesia dinilai sebagai negatif dan dinamakan “berselingkuh”).

Di samping cinta yang membara itu, ada bentuk cinta lain yang berjangka waktu lebih lama yang dinamakan cinta karib (companionate love). Jenis cinta ini tidak membara, tidak ditandai dengan lagu-lagu atau puisi-puisi mesra, tetapi memang berjangka panjang. Pasangan yang sudah terlibat dalam jenis cinta ini merasa sangat dekat, banyak persamaan, saling memperhatikan kesehatan masing-masing, saling mengungkapkan perasaan sukanya dan saling menghargai (Caspi & Herbener, 1990).

Incoming search terms:

  • companionate love dan passionate love arti
  • pengertian hubungan romatis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • companionate love dan passionate love arti
  • pengertian hubungan romatis