Advertisement

Petunjuk apa yang digunakan para pengamat guna menemukan pengelabuan? Apakah hipotesis kebocoran benar? Apakah tubuh kurang dapat dikendalikan daripada wajah, dan apakah orang dapat langsung mendeteksi pengelabuan melalui petunjuk verbal tubuh? Atau apakah suara merupakan saluran yang lebih membocorkan dibanding tubuh? Mungkin nada suara — tinggi rendahnya, keras lembutnya, kecepatan, dan sebagainya — lebih sulit dikendalikan daripada tubuh, bahkan jika orang tersebut dapat mengendalikan isi komunikasi verbal.

Sebagian besar riset itu menunjukkan bahwa dari semua petunjuk hanya sedikit bantuannya dalam menjebak komunikator potensial yang menipu. Mereka hanya benar-benar bermanfaat jika para pengamat juga mudah mencapai isi ucapan orang tersebut. Suatu telaah khusus ialah yang dilakukan oleh Zuckerman, Amidon, Bishop, dan Pomerantz (1982). Mereka menyuruh “pengirim” menggambarkan sasaran orang yang mereka sukai (“sasaran yang disukai”) atau seseorang yang tidak mereka sukai (“sasaran yang tidak disukai”), dan hal itu mereka lakukan berdasar salah satu dari tiga cara, yaitu: “kebenaran,” di mana mereka, menyampaikan perasaannya yang sejati; “penutupan,” di mana mereka berusaha menutupi perasaan sejatinya; dan “pengelabuan,” di mana mereka berusaha mengkomunikasikan perasaan yang bertentangan dengan yang mereka rasakan. Para “penerima” tidak tahu tentang perasaan pengirim yang sebenarnya, atau cara mana yang diperintahkan agar dipakai si pengirim. Pentinglah membandingkan antara berbagai saluran di mana para penerima kemudian mendapatkan komunikasi ini: audio-visual sempurna (wajah dan isi verbal), audio saja (isi verbal, tanpa wajah), visual ditambah ucapan yang disaring (wajah, tanpa isi verbal), atau ucapan yang disaring saja (tanpa isi verbal, tanpa wajah). Masalahnya adalah bagaimana penggunaan petunjuk wajah, isi verbal, dan parabahasa mempengaruhi kemampuan pengamat dalam mendeteksi apakah pengirim menyukai atau tidak menyukai sasaran. Hasilnya menunjukkan bahwa baik wajah maupun nada suara amat menambah kemampuan mendeteksi pengelabuan. Para penerima mampu membedakan sasaran yang disukai dan tidak disukai biarpun hanya diberi ucapan yang disaring, tanpa dapat melihat wajah atau mendengar isi verbal.

Advertisement

Walau demikian, penemuan utama yang diperoleh yang sifat akuratnya paling besar ialah jika isi verbal dapat diperoleh. Tabel menunjukkan sifat akurat paling tinggi’ di kolom sebelah kiri, dengan diperolehnya isi verbal. Dimensi evaluatif merupakan prinsip organisasi paling penting di belakang kesan pertama. Nampaknya orang memutuskan lebih dulu berapa besar kesukaan atau ketidaksukaannya pada orang lain/ kemudian memberikan karakteristik 5. kepada mereka untuk mencocokkan gambaran menyenangkan atau tidak menyenangkan ini. Ada dua segi yang bertentangan mengenai pandangan tentang bagaimana orang memroses informasi tentang orang lain, yakni: Pendekatan belajar yang menyamaratakan informasi secara mekanis; dan pendekatan Gestalt, yang membuat orang membentuk kesan yang lebih melekat dan berarti. Berbagai prasangka perseptual yang dapat diidentifikasi memutarbalikkan penilaian kita atas orang lain, seperti pengaruh halo (kita cenderung berpikir bahwa seseorang yang kita sukai adalah baik dalam segala dimensi), dan prasangka positivitas (kita cenderung menyukai semua orang, bahkan mereka yang tidak begitu disukai orang). Penilaian kita atas orang lain tidak selalu cukup akurat. Terutama kita mengalami kesulitan dalam menilai emosi manusia berdasarkan ekspresi wajah mereka. Kita dapat cukup mudah mengetahui apakah emosi itu positif atau negatif, tetapi kita menemui kesulitan emosi positif atau negatif mana yang dialami. Namun demikian, terdapat hubungan universal melewati kebudayaan antara emosi tertentu dan ekspresi wajah tertentu. Kita memakai berbagai petunjuk agar sampai kepada kesan atas orang, terutama penampilan fisik, perilaku verbal, dan petunjuk nonverbal. Komunikasi nonverbal mencakup petunjuk dari saluran yang terlihat (seperti ekspresi wajah, isyarat, dan postur) serta saluran parabahasa (petunjuk dalam ucapan jika isinya dibuang, seperti tinggi”reircfah—suara, kecepatan, dan penundaan ucapan). Jadi dalam telaah ini, seperti telaah lainnya, kita memperoleh bukti lengkap tentang hipotesis “kebocoran,” yaitu: Orang dapat mendeteksi pengelabuan secara jelas melalui petunjuk nonverbal seperti wajah, ucapan yang disaring, atau tubuh, sebagaimana digambarkan oleh Zuckerman, DePaulo, & Rosenthal (1981) serta Ekman dan Friesen (1974). Sedikit sekali alasan kita untuk mengatakan bahwa wajah agak bocor sifatnya dibandingkan nada suara atau tubuh. Namun jelaslah bahwa petunjuk terbaik selama ini ialah yang berasal dari pendengaran akan ucapan sempurna, baik orangnya kelihatan ataupun tidak. Jadi, cara terbaik untuk menangkap pengelabuan ialah dengan mendengar apa yang harus dikatakan seseorang — termasuk petunjuk isi dan parabahasa.

Komunikasi verbal seseorang mungkin merupakan sumber informasi yang paling penting tentangnya. Walaupun demikian, informasi yang terlihat dan parabahasa memberikan sumbangan besar dan penting, khususnya jika isinya membantu kita menginterpretasikan artinya. “Kebocoran” penipuan terjadi dengan berbagai cara nonverbal, seperti gerakan gugup atau ucapan bernada tinggi dan cepat. Para pengamat biasanya dapat mendeteksi penipuan lebih menyerupai kebetulan, tetapi mereka membutuhkan ketiga saluran komunikasi untuk melakukannya secara efektif.

Incoming search terms:

  • DEFENISI KEBOCORAN

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • DEFENISI KEBOCORAN