Advertisement

Metode Metafisika

Metode metafisika (dan teristimewa ontologi) tidak dapat bersifat analitis ketat, pun pula bukan induktif ketat. Kaum rasionalis (misalnya, Spinoza) memulai secara analitis. Prosedur ini mustahil karena banyak determinasi eksistensi lebih lanjut tidak dapat di¬capai semata-mata dengan pembedahan konsep yang-ada. Para pemikir yang terlatih dengan cara-cara modern, dalam ilmu positif (misalnya Kulpe dan Becher) telah berupaya membangun metafisika induktif. Dengan menggunakan generalisasi-generalisasi yang kian lama kian induktif mereka berharap tiba pada prinsip-prinsip yang-ada universal. Ada sanggahan terhadap metode ini. Karena, metode ini mengandaikan prinsip-prinsip pertama eksistensi sebagai sudah mantap dan operatif. Di antara kedua pandangan yang berat sebelah ini terdapat metafisika yang mempunyai keniscayaan sintesis atau sintesis a priori. Jenis pemikiran metafisis semacam ini agaknya menambahkan determinasi-determinasi lebih lanjut kepada eksistensi. Tetapi jenis pemikiran ini menangkap determinasi- determinasi ini sekaligus dalam proses intrinsik, hakiki dan karena itu a priori dari eksistensi itu sendiri.

Advertisement

Dalam Tradisi Aristotelian

Dalam tradisi Aristoteles kita memandang metafisika dengan dua cara. Pertama, ada sesuatu yang tidak dapat dialami, yang berada dalam dunia pengalaman sebagai pusat yang terdalam dari dunia pengalaman itu, yakni, eksistensi universal atau yang tidak dapat ditentukan, yang menopang setiap dan semua eksisten (sesuatu yang ada). Kedua, ada sesuatu yang tidak dapat dialami, yang mengatasi dunia pengalaman sebagai sumber terakhir dunia pengalaman itu. Itulah eksistensi yang tidak terbatas atau ilahi, yang menciptakan masing-masing dan semua eksisten yang terbatas. Pembedaan ini menyediakan bagi kita dua cabang metafisika. Ilmu tentang eksistensi menyimak semua eksisten di bawah aspek eksistensi universal dan karenanya ia meneliti esensi, ciri-ciri dan hukum-hukum eksistensi sebagaimana adanya. Ilmu ini umumnya disebut “ontologi”. (Istilah ini pertama kali digunakan oleh Du Hamel di tahun 1661). Ilmu tentang Allah menguraikan semua eksisten dalam kaitan dengan eksistensi mutlak, ilahi. Dan karenanya ilmu tentang Allah menyelidiki eksistensi, esensi dan kegiatai dari Yang Mutlak. Ilmu ini oleh Aristoteles disebut theologikt Karena itu ilmu ini juga disebut “teologi” dan juga “teodise’ meskipun kurang tepat.

Ontologi dan teologi naturalis secara bersama membentuk meta fisika umum. Karena, keduanya memaparkan semua eksisten dan juga eksistensi metafisis itu sendiri. Studi filosofis mengenai duni (kosmologi) dan studi filosofis tentang manusia (psikologi rasiona antropologi, filsafat manusia) berhubungan dengan metafisik umum, karena prinsip-prinsipnya diterapkan pada bidang-bidan pengalaman tertentu untuk mengerti korelasinya dengan prinsip- prinsip eksistensi yang lebih universal sebagaimana adanya.

Arti metafisika dapat ditangkap berdasarkan apa yang suda disinggung di atas. Metafisika adalah jantung filsafat karena me tafisika menyediakan dasar yang terakhir dan prinsip-prinsip tei tinggi bagi masing-masing bidang tertentu dari penelitian filosofi: Karena itu, Aristoteles menyebut ilmu ini Filsafat Pertama, karen metafisika bergelut dengan apa yang ada pertama. Alasannya, ds lam urutan kenyataan, eksistensi dan Allah adalah pertama. Eksi; tensi dan Allah adalah sumber dan penopang segala sesuatu lait nya.

Incoming search terms:

  • metode metafisik
  • Contoh metafisik
  • Metodologi metafisik
  • Metodologi metafisika
  • penelitian metafisika
  • PENGERTIAN DAN CONTOH METAFISIK
  • pengertian metafisika universal adalah

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • metode metafisik
  • Contoh metafisik
  • Metodologi metafisik
  • Metodologi metafisika
  • penelitian metafisika
  • PENGERTIAN DAN CONTOH METAFISIK
  • pengertian metafisika universal adalah