Advertisement

Penemuan ini mengemukakan bahwa teori, yang menyatakan sikap sebagai penentu perilaku, bersifat terlalu sederhana. Kadang-kadang sikap menentukan perilaku dan kadang-kadang tidak. Pertanyaan adalah, kapan sikap menentukan perilaku? Pertanyaan yang berkaitan tentu sejauh mana rasionalitas perilaku seseorang. Apakah tindakannya terjadi secara logik dari sikapnya? Mungkin usaha yang paling berpengaruh untuk menemukan dan menguji model sederhana tentang hubungan sikap-perilaku adalah “teoji tindakan yang masuk akal” (theory of reasoned action). Teori ini berusaha untuk menetapkan faktor-faktor apa yang menentukan konsistensi sikap-perilaku, yang mulai dengan asumsi bahwa orang berperilaku secara cukup rasional. Model Azjen — Fishbein memiliki tiga langkah:

1. Model ini memprediksi perilaku seseorang dari maksudnya. Jika seorang wanita mengatakan maksudnya untuk menggunakan alat pengendali kelahiran dengan tujuan menghindari kehamilan, maka dia lebih mungkin melakukannya ketimbang dia sama sekali tidak punya maksud untuk melakukannya.

Advertisement

2. Maksud perilaku dapat diprediksi dari dua variabel utama: sikap seseorang terhadap perilaku (apakah menurut dia pengendalian kelahiran itu merupakan langkah yang baik dan diinginkannya?) dan persepsinya tentang apa yang seharusnya dilakukan menurut orang lain (apakah suaminya menginginkan dia melakukan hal itu? Bagaimana dengan agamanya, dan ibunya?).

3. Sikap terhadap perilaku diprediksi dengan nilai-harapan yang telah diperkenalkan. Sikap merupakan fungsi dari seberapa baik hasil perilaku itu, dengan mempertimbangkan sejauh mana kemungkinan masing-masing hasil itu. Sikap juga merupakan alat prediksi “norma-subjektif,” dipandang dari segi keyakinan seseorang tentang pilihan orang lain dan motivasinya untuk mengikuti pilihan tersebut.

Model ini telah digunakan secara luas. Kita sebutkan contoh sederhana dari penelitian yang dilakukan Manstead dan kawan-kawannya (1983). Mereka memprediksi apakah wanita hamil akan menyusui bayinya atau akan memberinya susu botol. Dari kuesioner pada masa pranatal, para peneliti mengukur maksud perilaku (apakah wanita itu bermaksud menyusui bayinya?), sikap terhadap perilaku (sebagai contoh, apakah dia yakin bahwa menyusui bayi akan mempererat hubungan ibu-bayi, dan sejauh mana makna penting hubungan itu?), dan norma subjektif (apakah yang dipinlin suaminya, ibunya, sahabat wanitanya, dan dokternya, dan bagaimanakah motivasi wanita itu untuk memenuhi keinginan mereka?). Para peneliti itu menemukan bahwa model tersebut berhasil memprediksi perilaku ibu itu di masa mendatang. Korelasi antara bermacam-macam sikap ini dengan perilaku menyusui bayi pascalahir adalah 0,77, korelasi yang sangat tinggi. Bentler dan Speckart (1981) juga berhasil menggunakan model tersebut untuk memprediksi perilaku belajar, kencan, dan latihan para mahasiswa dalam periode dua minggu. Penemuan yang serupa telah dilaporkan oleh Azjen dan Fishbein (1980) dan sejumlah rekan kerja mereka tentang berbagai perilaku, seperti kehilangan berat badan, pilihan konsumen, perilaku pemberian suara, pilihan pekerjaan wanita, dan sebagainya. Model itu menarik minat banyak ahli psikologi sosial karena model ini membuat orang nampak layak dan memulihkan kedudukan sikap di tempat sentral dalam menentukan perilaku. Tentu saja tidak ada model yang sempurna. Apakah kesulitan model ini? Peranan dari maksud perilaku merupakan salah satu sumber masalah. Kadang-kadang “maksud perilaku” tidak, seperti yang terukur, jauh berbeda dengan “sikap terhadap perilaku,” sehingga tidak banyak menambah pemahaman kita untuk mengemukakannya sebagai faktor yang terpisah. Bertanya pada seorang wanita hamil apakah dia bermaksud untuk menyusui bayinya atau tidak, mungkin hampir sama dengan menanyakan padanya apakah menurut dia hal itu merupakan suatu gagasan yang baik atau tidak. Dalam beberapa penelitian, model itu cukup baik bila tidak dihubungkan dengan maksud perilaku sama sekali (Bentler & Speckart, 1981). Kadang-kadang, sikap memiliki efek terhadap perilaku yang terlepas dari efeknya terhadap maksud perilaku (Manstead dkk, 1983). Sejumlah faktor yang telah dikemukakan, tetapi tidak ada dalam model tersebut, menentukan keeratan hubungan antara maksud perilaku dengan perilaku, seperti misalnya interval waktu antara kedua hal itu, relevansinya satu sama lain, dan sebagainya. Perilaku sebelumnya juga mempengaruhi perilaku yang. akan datang, tidak peduli bagaimana sikapnya. Bagaimana seorang wanita menyusui anak pertamanya mempengaruhi kenyataan bagaimana dia akan menyusui anak keduanya, tidak peduli apa yang menurut dia, atau semua teman dan anggota keluarganya, baik (Manstead et al., 1983). Sampai tahap tertentu, manusia adalah penganut kebiasaan.

Dengan syarat-syarat ini, jelas teori itu memiliki nilai dalam usaha memahami peranan sikap dalam menentukan perilaku. Pada umumnya kita mempercayai sejumlah bukti yang mendukung gagasan bahwa sikap mempengaruhi perilaku. Nampaknya benar bila dikatakan bahwa sikap selalu memberikan tekanan untuk melakukan perilaku yang konsisten dengan sikap itu, meskipun tekanan-tekanan lain juga mempengaruhi perilaku. Melalui proses yang panjang dan berat menjadi orang yang paling banyak memberikan kritik yang menjengkelkan pada perokok lain. Pengantin baru, yang menanti kelahiran bayi yang tidak direncanakan, akan membuang ambivalensi dari mempunyai anak dan mengumumkan kesukacitaan mereka. Komandan militer yang mengerahkan pasukannya untuk melakukan suatu serangan yang bersifat untung-untungan yang kemudian ternyata membawa bencana yang menelan ribuan korban-, dan kini dengan tegas ia mengumumkan bahwa keyakinannya selama ini benar, dan tidak akan mengubah taktiknya lagi jika dia harus melakukan serangan yang sama. Semua contoh ini menggambarkan proses di mana perilaku seseorang diikuti oleh perubahan sikap. Hal ini juga mengasumsikan tekanan terhadap konsistensi sikap dan perilaku, tetapi dengan cara yang kurang terpuji ketimbang teori tindakan yang masuk akal. Dikatakan bahwa perilaku seseorang mengendalikan sikapnya, tidak peduli bagaimana membabibutanya perilaku itu, dan tidak dikatakan bahwa seseorang dengan sengaja dan masuk ajcal bertindak atas dasar pikirannya. Sebagian besar penelitian tentang masalah ini semula diilhami oleh teori disonansi kognitif (cognitive dissonance) (Festinger, 1957).. Seperti beberapa teori lain yang telah kita bahas, teori disonansi kognitif mengasumsikan adanya tekanan terhadap konsistensi. Meskipun dapat diterapkan pada inkonsistensi bebe¬rapa kognisi, teori disonansi mempunyai kaitan yang amat kreatif dengan inkonsistensi perilaku dan sikap. Teori ini berkaitan dengan dua jenis inkonsistensi perilaku-sikap tertentu, yang timbul karena pengambilan keputusan, dan yang timbul karena dilakukannya perilaku yang tidak sesuai dengan sikap.

Disonansi menimbulkan ketegangan psikologis, dan orang merasa ditekan untuk mengurangi atau menghilangkan ketegangan tersebut. Disonansi bekerja seperti dorongan lainnya: bila kita merasa lapar, kita melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa lapar itu; bila kita merasa takut, kita melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa takut itu, dan bila kita merasakan disonansi, kita juga melakukan sesuatu untuk mengurangi hal itu. Kita ingin mengembalikan konsistensi, atau konsonansi. Cara yang tepat untuk mengurangi ketidaksesuaian, bila perilaku tidak dapat dicabut kembali atau diubah dengan berbagai cara, adalah dengan mengubah sikap seseorang. Penganut paham perdamaian yang menjadi anggota marinir mungkin akan memutuskan bahwa dia tidak akan percaya pada paham perdamaian lagi. Atau mungkin dia mengubah sikapnya terhadap korps marinir. Dengan tidak lagi berpikir bahwa semua marinir adalah pembunuh, mungkin dia menyimpulkan bahwa cara yang paling meyakinkan untuk menghindari perang adalah dengan memiliki kekuatan militer.

Incoming search terms:

  • inkonsistensi perilaku

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • inkonsistensi perilaku