Advertisement

Nilai dan Kebaikan

Sebelum masa Rudolf H. Lotze (1817—1881) para filsuf hanya kadang-kadang saja berbicara tentang nilai-nilai. Dan karena usaha-usahanya soal nilai menjadi perhatian utama filsafat. Sehubungan dengan nilai, sesungguhnya filsafat selalu bergelut dengannya, tetapi di bawah aspek baik dan kebaikannya (bonum et bon i t as).

Advertisement

Filsafat nilai pada zaman modern (Max Scheler) yang bermula dari Lotze membuat pembedaan tajam antara nilai dan kebaikan. Menurut pandangan ini pelbagai kebaikan merupakan milik tatanan eksistensial. Sedangkan nilai-nilai bertentangan dengan tatanan ini dalam “kemandirian mutlak” (ultimate independence) dan menentukan bidangnya sendiri. Di sini kita bertemu dengan sejenis ide-nilai Platonis yang sangat mencolok, misalnya, dalam karya-karya Nicolai Hartmann. Karena nilai-nilai dalam arti ini dipikirkan sebagai ide-ide dari dunia lain yang dapat diperkenalkan kepada dunia nyata hanya dengan peralatan manusia, pandangan ini pantas dinamakan teori “idealisme nilai”. Lawan “idealisme nilai” adalah realisme-nilai atau lebih baik, metafisika-nilai, yang mengatasi pemisahan nilai dari yang-ada.

Perlunya Tekanan Segi Metafisik

Menegaskan sisi metafisis dari nilai itu perlu karena beberapa pemikir condong menganggap eksistensi dalam arti positivisme yakni, hanya sebagai realitas yang dialami sekarang tanpa meneliti keharusan yang paling hakiki. Dan barang tentu, mendasarkan nilai-nilai pada positivisme berarti menisbikan secara menyeluruh nilai- nilai.

Pada dasarnya nilai dapat dianggap sebagai eksistensi sendiri sejauh eksistensi berarti kesempurnaan karena isi objektifnya dan karenanya merupakan daya tarik bagi hasrat atau keinginan. Ciri normatif nilai bersumber dari hukum-hukum hakiki yang-ada yang memberikan eksistensi aktual kepada masing-masing eksisten. dan akhirnya dalam fakta bahwa presedensi mutlak lebih dekat dengan eksistensi dibandingkan dengan non-eksistensi atau ketiadaan.

Advertisement