Advertisement

NILAI FINAL

Inggris: final value.

Advertisement

Nilai final adalah nilai akhir yang dikejar oleh semua orang.

Sementara beberapa filsuf menganggap tidak ada nilai atau seperangkat nilai seperti ini, banyak juga filsuf telah mengajukan nilai-nilai spesifik sebagai calon untuk menjalankan fungsi ini.

1. Aristoteles, misalnya, menganggap kebahagiaan, atau euciaimonta sebagai nilai semacam itu. Namun begitu, dia yakin bahwa komponen-komponen kebahagiaan berbeda-beda untuk setiap orang, sedangkan dalam setiap kasus pengembangan kemampuan-kemampuan rasional seseorang mesti terkandung di dalam kepenuhan kebahagiaan. Entah karena pengaruh Aristoteles atau sebab lain, kebahagiaan dianggap secara amat luas sebagai nilai final. Thomas Aquinas menerima analisis Aristoteles, sambil memperluas secara transendental makna istilah itu. Selain Thomas dapat juga disebut, misalnya, Wollaston pada abad ke-17 dan Schlick pada abad ke-20. Di samping itu, sebaiknya dicatat bahwa banyak di antara orang-orang yang mengedepankan suatu nilai lain, menyatakan bahwa nilai itu merupakan jalan yang paling pasti menuju kebahagiaan.

2. “Kesenangan” atau “kenikmatan” diketengahkan sebagai nilai final setidaknya sejak Aristippus, pendiri Mazhab Kirene dan pendahulu Aristoteles. Sungguhpun begitu, tidak jelas benar apakah kesenangan mau menggantikan kebahagiaan. Yang jelas ia mengatakan bahwa kesenangan menyediakan cara pokok mencapai kebahagiaan. Epikuros juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan. Tetapi unsur pokok Epikuros adalah ataraxia, atau kenikmatan yang dihayati dalam ketenangan, suatu keadaan yang dianjurkan pertama kali oleh Demokritos. Pyrrho mengangkat ataraxia sebagai nilai final, sebagaimana Lucretius agak kemudian. Pada abad ke-I5 Lorenzo V memeluk hedonisme Kristen. Pada abad mutakhir kesenani dilihat sebagai nilai utama kehidupan manusia oleh para mikir seperti Jeremy Bentham, James Mill, John Stuart N dan Sigmund Freud.

3. Tradisi Confucian menggarisbawahi pluralitas nilai dengan atau “kemanusiaan” dan li atau “kepantasan” sebagai seni Tradisi ini bertahan ribuan tahun. Semua penganut neo-Cofucianisme menekankan nilai-nilai yang sama, walau denf modifikasi tertentu. Ch’eng Hao, misalnya, menambah pada nilai-nilai di atas suatu penekanan pada ketulusan.

4. Juga tao, atau konsep “jalan” dalam Taoisme yang da disesuaikan dengan konteks, keluwesan, sejalan dengan wal: dan tidak berbuat (wu uvi) dapat diangkat untuk menggantikan suatu nilai final yang kompleks.

Advertisement