Advertisement

ONTOLOGI

Inggris: ontology, dari Yunani on, on tos (ada, keberadaan) logc (studi, ilmu tentang).

Advertisement

1. Studi tentang ciri-ciri esensial dari Yang Ada dalam dirinya sendiri yang berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari Yang Ada dalam bentuknya yang sangat abstrak studi tersebut melontarkan pertanyaan seperti: “Apa itu Ada-dalam-dirinya-sendiri?” “Apa hakikat Ada sebagai Ada?”

2. Cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas da lam arti seluas mungkin, yang menggunakan kategori-kategoi seperti: ada/menjadi, aktualitas/potensialitas, nyata/tampak, pel ubahan, waktu, eksistensi/noneksistensi, esensi, keniscayaar yang-ada sebagai yang-ada, ketergantungan pada diri sendir hal mencukupi diri sendiri, hal-hal terakhir, dasar.

3. Cabang filsafat yang mencoba a) melukiskan hakikat Ada yang terakhir (Yang Satu, Yang Absolut, Bentuk Abadi Serr purna), b) menunjukkan bahwa segala hal tergantung padany bagi eksistensinya, c) menghubungkan pikiran dan tindaka manusia yang bersifat individual dan hidup dalam sejarah de ngan realitas tertentu.

4. Cabang filsafat a) yang melontarkan pertanyaan “Apa dan ADA, BERADA?” (Pertanyaan yang sama dilontarkan tentan kategori-kategori atau konsep-konsep lain yang digunakan dalam (2), dan b) yang menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat dikatakan ADA, Berada.

5. Cabang filsafat yang a) menyelidiki status realitas suatu hal (misalnya, “Apakah objek pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusif (menipu)?” “Apakah bilangan itu nyata?” “Apakah pikiran itu nyata?”, b) menyelidiki jenis realitas yang dimiliki hal-hal (misalnya, “Apa jenis realitas yang dimiliki bilangan? persepsi? pikiran?”), dan c) yang menyelidiki realitas yang menentukan apa yang kita sebut realitas dan/atau ilusi (misalnya, “Apakah realitas — atau ciri ilusif— suatu pikiran atau objek tergantung pada pikiran kita, atau pada suatu sumber eksternal yang independen?”).

 

Pandangan Beberapa Filsuf

Istilah di atas berarti “pengetahuan tentang yang-ada”, dan mengacu kepada suatu bagian filsafat yang materi pokoknya adalah pengetahuan macam ini. Istilah ini muncul pada abad ke-17, ketika diperkenalkan oleh Goclenius tahun 1636, digunakan oleh Clauberg tahun 1647, Micraelius tahun 1653, dan Du Hamel tahun 1663. Diterima oleh Leibniz, Wolff, dan Baumgarten istilah ini telah menjadi baku pada akhir abad tersebut. Selain asal-usulnya, tak pernah ada persetujuan yang luas tentang pemakaiannya. Hubungan antara metafisika dan ontologi tetap tidak jelas, dan sering orang menyamakannya.

1. Clauberg menyebut ontologi “ilmu pertama”, studi tentang yang-ada sejauh ada. Studi ini dianggap berlaku untuk semua entitas, termasuk Allah dan semua ciptaan, dan mendasari baik teologi maupun fisika. Studi ini mencakup prinsip- prinsip dan atribut-atribut yang-ada, maupun juga analisis sebab, tatanan, relasi, kebenaran, dan kesempurnaan. Dia juga menyebut disiplin ini ontosophia, yang mempunyai arti yang sama dengan ontologi, dan kemudian lebih senang dengan istilah ini. Kadang ontologi dan ontosophia digunakan secara bergantian.

2. Wolff mendefinisikan ontologi sebagai ilmu tentang yang-ada pada umumnya, dan menggunakan “filsafat pertama” sebagai sinonimnya. Metodenya deduktif, dan tujuannya ialah tercip tanya suatu sistem kebenaran yang niscaya dan pasti. Prinsi] nonkontradiksi dan prinsip tiada jalan tengah merupakai alatnya.

3. Baumgarten mendefinisikan ontologi sebagai studi tentan; “predikat-predikat yang paling umum atau abstrak” dari se mua hal pada umumnya. Ia menggunakan istilah “ontosophia’ “metafisika universal”, dan “filsafat pertama” sebagai sinonin ontologi.

4. Istilah ini masuk dengan mulus ke dalam pemikiran Skolastik di mana ia diidentikkan dengan “metafisika umum”, stuc mengenai sifat-sifat dari yang-ada sejauh ada (termasuk trans endentalia), dan berbeda dengan “metafisika khusus” yan, berurusan dengan aspek-aspek dari yang-ada yang berada da lam jangkauan pengalaman biasa.

5. Herbart mengontraskan metodologi dan ontologi. Yang pei tama bertugas mereduksi kontradiksi-kontradiksi di dalar data. Yang terakhir merupakan metode pemahaman realita sejati (non-kontradikter).

6. Rosmini-Serbati mengkontraskan ontologi dengan teologi da kosmologi. Ontologi adalah doktrin universal tentang yang ada. Teologi adalah doktrin tentang yang-ada absolut. Kosmc logi adalah doktrin tentang yang-ada relatif dan terbatas.

7. Bagi Gioberti ontologi adalah disiplin filsafat dasariah.

8. Husserl membedakan ontologi formal dari ontologi materia Dua-duanya berurusan dengan analisis esensi-esensi. Ontologi formal, yang bergumul dengan esensi formal atau universa merupakan basis terakhir dan terdalam dari semua ilmu. Or tologi material, yang menggeluti esensi-esensi material ata regional, merupakan basis dari semua ilmu faktual. Ontolog: ontologi material bersifat regional, dan ontologi-ontologi rt gional berbasiskan ontologi formal.

9. Heidegger memahami ontologi sebagai analisis eksistens Sebagai analisis konstitusi “yang-ada dari eksistensi”, ontolog menemukan keterbatasan eksistensi, dan bertujuan menemuka apa yang memungkinkan eksistensi.

10. Lesniewski menggunakan istilah “ontologi” dalam bidang logika, dengan menyebut kalkulus kelas-kelas dan relasi-relasi dengan nama ini. Karena itulah aksiomatika kalkulus disebut aksiomatika ontologis. Ontologi dalam pemakaian ini berfungsi sebagai suatu istilah bersama dengan “kalkulus proposisional” dan “aljabar kelas”.

11. Carnap menganggap semua implikasi ontologis ditarik secara palsu. Pandangannya berkisar pada pembedaan antara pertanyaan-pertanyaan internal dan eksternal dan objek-objek internal dan eksternalnya yang terkait. Pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal internal bagi suatu kerangka identifikasi, misalnya bilangan, proposisi, benda, dan seterusnya, legitim dan bentuk-bentuk linguistik yang kita pakai dapat dipilih dengan bebas menurut prinsip toleransi. Objek-objek yang kita tunjuk dengan bentuk-bentuk linguistik ini adalah objek-objek internal. Tetapi bila pertanyaan-pertanyaan diajukan menyangkut realitas entitas-entitas pada umumnya, di luar suatu kerangka spesifik, kita mengacu kepada objek-objek eksternal, dan pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sesat.

12. Bergmann — yang beranggapan bahwa bahasa mana saja mempunyai implikasi ontologism menggunakan bahasa-bahasa ideal untuk mengetes dan mengendalikan ontologi yang dianut seseorang.

13. Quine mengontraskan ontologi dengan ideologi, seraya menghubungkan yang pertama dengan teori referensi dan yang belakangan dengan teori signifikasi. Bagi Quine kedua istilah itu selalu berkaitan dengan teori-teori partikular. Maka, pertanyaan ontologi menyangkut apa yang kita anut dalam konteks entitas-entitas di alam semesta.

Dalam Perjalanan Sejarah

Istilah ontologi muncul sekitar pertengahan abad ke-17. Juga pada waktu itu ungkapan Filsafat mengenai yang-ada (phtlosophta entis) digunakan untuk hal yang sama. Menurut akar kata Yunani, ontologi berarti: teori mengenai ada yang berada. Karena itu, orang bisa menyamakan ontologi dengan filsafat pertama Aristoteles, yang kemudian disebut metafisika (murni atau umum). Namun, pada kenyataannya, ontologi hanya merupakan bagian pertama metafisika. Yakni teori mengenai yang-ada, yang berada secara terbatas sebagaimai adanya dan apa yang secara hakiki dan secara langsung termasi ada tersebut. Sebagaimana diketahui Aristoteles dan Thomas pada zaman dulu, studi mengenai eksistensi dan studi mengenai Ali merupakan satu ilmu saja. Karena, problem tentang Allah h an; merupakan problem tentang eksistensi yang dikembangkan seci lebih maju. Dan problem yang disebutkan terakhir ini tidak li daripada problem tentang Allah yang belum maju. Namun, karei eksistensi dan Allah memisahkan diri satu dari yang lain sebagai di kutub, mungkinlah untuk terutama berkonsentrasi pada eksisten Dan karena itu kita tiba pada ilmu tentang ontologi.

Karena ontologi menjadi suatu cabang khusus pengetahuan teristimewa melalui karya Christian Wolff hubungan anta eksistensi dan Allah dalam pemikiran modern menjadi sangat h belit-belit. Kant membuang sekaligus pengetahuan tentang Ali dan pengetahuan mengenai eksistensi, karena dalam pandangann eksistensi tidak bisa diketahui. Dia melihat dalam kesadaran n nusia kenyataan terakhir. Segala sesuatu lainnya harus ditelusi kembali pada kenyataan terakhir ini. Bertentangan dengan Kai dalam abad ke-20 telah tumbuh suatu ontologi baru yang bera dari neo-Kanttanisme dan filsafat eksistensial sebuah ontok yang sekali lagi mengambil eksistensi sebagai yang terakhir. Den kian pula, Nicolai Hartmann menutup pintu ontologisnya b; gagasan tentang Allah dan eksistensi yang dianggap Heidegj sebagai dasar eksisten terbatas yang seluruhnya tetap tidak dapat dijelaskan. Apa yang dituntut dari ontologi pada masa kini allah menjelaskan dan menilai pemikiran awal ini mengatasi mua hambatan rasionalistis dan rintangan Kant; dan memaha tradisi metafisik.

Pada taraf yang lebih dalam, nama “ontologi” menunjukk hubungan antara eksisten dan roh. Karena roh tampak seba tempat dari eksisten sebagaimana adanya atau di dalam eki tensinya, eksisten mewujudkan dirinya. Karena itu roh muncul bagai jenis eksistensi primordial di mana eksistensi sungguh-sui guh merupakan dirinya sendiri, dan hadir bagi dirinya send Karena itu, semakin suatu eksisten mendekati roh atau merupakan roh, semakin tinggi pula tingkatan/skala eksistensi eksisten itu. Dalam tahun-tahun belakangan ini terdapat kecenderungan untuk semakin lama semakin memisahkan eksistensi dari roh dan tidak adanya roh telah dianjurkan sebagai ukuran tingkatan eksistensi (Sartre).

Incoming search terms:

  • arti ontologis

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti ontologis