Advertisement

Bertolak dari oposisi antara “kaum kapitalis” yang memiliki sarana produksi dan “proletariat” yang tidak memiliki sarana produksi, Marx menafsirkan kapitalisme dengan teorinya mengenai nilai- lebih kerja sebagai suatu sistem eksploitasi kelas buruh oleh kaum kapitalis. Alasannya ialah, kaum kapitalis menyimpan bagi dirinya sendiri nilai-lebih itu yang dihasilkan oleh kaum pekerja. Akumulasi dan konsentrasi kekayaan dalam tangan kelompok kapitalis yang semakin lama jumlahnya semakin kecil, bersama dengan hukum kemunduran tingkat keuntungan, menuju kepada kehancuran-diri sistem eksploitasi itu. Pada akhirnya, terjadilah “pengambil-alihan” oleh kelas buruh. Artinya, kelas buruh (Proletariat) memegang kendali sarana produksi dan untuk sementara membangun “kediktatoran proletariat” sebagai tahap awal dalam transisi ke “masyarakat tanpa kelas”.

Berbeda dengan bentuk-bentuk sosialisme lama, yang ditolaknya sebagai bersifat “utopian”, Marxisme menyatakan dirinya sebagai “sosialisme ilmiah”. Akan tetapi Marxisme juga tenggelam dalam mimpi utopiannya sendiri mengenai suatu masyarakat tanpa kelas. Apa sebab? Sebab, penentuan cita-cita terakhir, tidak soal bagaimana hakikatnya, bertentangan langsung dengan prinsip dialektis. Elan (daya dorong) revolusioner Marxisme juga bertentangan dengan determinisme ekonomis yang sempit, yaitu materialisme historis.

Advertisement

Dalam Marxisme lama, yang juga disebut  “cikal bakal liberalisme dan individualisme borjuis” dikorbankannya kebebasan demi menghasilkan lebih banyak barang-barang material diperkirakan akan menjadikan manusia pada akhirnya tidak mampu menata kehidupannya dalam suasana kebebasan manakala dia memiliki kekayaan barang konsumsi. Marxisme modern (Leninisme, Stalinisme) telah berubah menjadi suatu kolektivisme sempit: Produksi barang material tidak lagi diarahkan kepada peningkatan eksistensi personal, melainkan kepada pertumbuhan kekuasaan kolektif tersebut.

Pandangan Marx

 

Advertisement