Advertisement

1. Arete berarti keutamaan yang terdapat pada seseorang. Seorang tukang sepatu, misalnya, menjadi tukang sepatu yang baik karena ia memiliki arete. Seorang negarawan mempunyai arete yang memungkinkan dia menjadi seorang politikus yang baik. Dengan kata itu kata arete belum mempunyai arti moral. Tetapi manusia tidak saja mempunyai arete sebagai tukang atau sebagai negarawan, ia juga mempunyai arete sebagai manusia. Ada arete yang membuat manusia seorang manusia yang baik. Bila Sokrates berbicara mengenai arete, yang pertama-tama ia maksudkan ialah arete yang menjadikan manusia manusia yang baik.

2. Salah satu pendirian Sokrates yang terkenal ialah bahwa “keutamaan (arete) adalah pengetahuan”. Pendirian ini mudah dapat dimengerti apabila kita ingat bahwa kata arete mempunyai latar belakang lebih luas daripada arti moral saja. Arete seorang tukang sepatu membuat dia menjadi seorang tukang sepatu yang baik dan arete itu pasti mengandung juga pengetahuan. Karena seorang tukang sepatu harus mengetahui apakah itu sebuah sepatu dan untuk apa sepatu itu dipakai. Tidak mungkin dia menjadi seorang tukang yang baik, kalau dia tidak mempunyai pengetahuan serupa itu. Demikian pula keutamaan yang membuat manusia menjadi seorang manusia yang baik, harus dianggap sebagai pengetahuan. Seorang yang mempunyai keutamaan sudah tahu apakah yang baik dan hidup

Advertisement

3. Dari pendiriannya bahwa keutamaan merupakan pengetahuan, Sokrates menarik tiga kesimpulan.

a) Pertama-tama harus dikatakan bahwa manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Manusia membuat salah karena keliru atau ketidaktahuan. Seandainya ia tahu apakah “yang baik” baginya, ia akan melakukannya pula.

b) Kesimpulan lain ialah bahwa keutamaan itu satu adanya. Tidak mungkin bahwa seorang tertentu mempunyai keutamaan keberanian dan tidak mempunyai keutamaan lain, keadilan misalnya. Kalau seseorang tidak adil atau berkekurangan lain, bagi Sokrates sudah nyata bahwa orang itu tidak mempunyai keutamaan yang sungguh-sungguh. Keutamaan sebagai pengetahuan tentang “yang baik” tentu merupakan pengetahuan yang menyeluruh. Mustahillah bahwa pengetahuan itu hanya terdapat dalam satu bidang saja, sementara dalam bidang lain tidak tampak.

c) Kesimpulan ketiga ialah bahwa keutamaan dapat diajarkan kepada orang lain. Pengajaran itu tidak lain daripada menyampaikan pengetahuan kepada sesama. Kalau keutamaan boleh disamakan dengan pengetahuan, harus diakui pula bahwa keutamaan dapat dengan pengetahuan, maka harus diakui pula bahwa keutamaan dapat diajarkan. Akan tetapi dengan itu Sokrates tentu tidak bermaksud bahwa keutamaan dapat diajarkan dengan peiajaran-pelajaran khusus, melainkan bahwa ada kemungkinan untuk mengantar orang (dengan metode tanya jawab atau cara apa pun) kepada pengetahuan yang benar. Bagi Sokrates, adanya pendidikan sudah membuktikan bahwa keutamaan dapat diajarkan. Seandainya keutamaan tidak dapat diajarkan, pendidikan tidak mungkin dijalankan.

4. Pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah pengetahuan, kadang-kadang dinamakan “intelektualisme etis”. Aristoteles membantah dengan tajam ajaran Sokrates ini. Tetapi rupanya Aristoteles menguraikan pendapat Sokrates dengan agak berat sebelah, supaya kemudian kritiknya menjadi lebih gampang. Kalau kita membaca kesaksian Aristoteles, kita mendapat kesan seolah-olah Sokrates berpendapat bahwa keutamaan sama saja dengan pengetahuan yang seniata-mata teoritis. Kalau demikian, tidak sulit untuk rnengemukakan keberatan serius terhadap pendapat itu. Tidakkah kita semua mengalami sendiri, bahwa kita dapat menyeleweng dari pengetahuan (teoretis) yang ada pada kita? Kalau saya tahu bahwa minum minuman keras merugikan kesehatan pribadi dan kesejahteraan keluarga, apakah pengetahuan itu sudah cukup supaya saya tidak minum lagi? Akan tetapi bila kita memeriksa dialog-dialog Plato, kita mendapat kesan lain.

Dengan menggunakan istilah modern dapat kita katakan, bahwa pengetahuan itu bersifat “eksistensial”: melibatkan seluruh kepribadian manusia. Seorang dokter dapat menggunakan pengetahuan dengan baik dan dengan buruk: untuk menyembuhkan dan untuk membunuh. Itulah pengetahuan yang semata-mata teoritis. Tetapi seorang yang mempunyai pengertian sungguh-sungguh mengenai yang baik, bagi seorang manusia, tidak bisa lain daripada bertindak baik saja. Seandainya ia bertindak jahat, sudah nyata bahwa dia tidak mempunyai pengertian tersebut.

5. Dengan pendapatnya bahwa keutamaan adalah pengetahuan, Sokrates menentang relativisme Protagoras dan kaum Sofis lain. Tidak benar bahwa “yang baik” itu lain bagi warga negara Athena dan lain bagi warga negara Sparta; atau lain bagi seorang Yunani dan lain bagi seorang barbar. “Yang baik” mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia. Itulah sebabnya keutamaan selalu berdasar pada pengertian yang sama. Mempunyai arete berarti memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia. Dengan demikian Sokrates menciptakan etika yang berlaku bagi semua manusia.

Incoming search terms:

  • arete aristoteles

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arete aristoteles