Advertisement

 1. Cita-cita humanistis para pendiri dan wakil-wakil terbaik dari Marxisme yang bagi mereka negara hanyalah suatu alat/cara untuk mengejar suatu tujuan terletak dalam keinginan mereka untuk memperoleh kekuasaan politis, yang untuk sebagian besar tidak dilihat oleh Lenin dan para pengikutnya. Demi keinginan ini kebebasan, kebahagiaan dan martabat seluruh bangsa dan generasi dikorbankan. Dasar teoretis adalah materialisme. Suatu etika sejati di sini niscaya hilang, sebab seluruhnya dikorbankan demi kebaikan negara. Pribadi individual bernilai sejauh ia bernilai bagi negara.

2. Namun, tidak segala sesuatu dalam sejarah bersifat material belaka, sebab kesadaran rohani adalah mutlak perlu hahkan bagi kehidupan ekonomis, khususnya jika ekonomi tidak merupakan faktor yang paling mcnentukan dalam kehidupan sosial. Seseorang liarus bertalian, Icbili duripada sekedar “reaksi”, dengan gagasan-gagasan manusiawi.

Advertisement

3. Pandangan komunis terhadap sejarah dan masyarakat sudah ti¬dak mampu mendasarkan dirinya sendiri pada fakta. Selanjutnya, sebagian terbesar dari ramalan-ramalan Marx tidak benar. Marx menulis dalam tesisnya yang kesebelas tentang Feuerbach: “Para filsuf hanya menafsirkan dunia dengan cara berbeda; tetapi hal yang penting ialah mengubahnya” {Werke 3, 535). Perhatian materialisme historis, sebagaimana setiap ideologi, bukan terutama untuk menjelaskan dunia melainkan untuk mengubahnya. Suksesnya yang terakhir tidak hanya dipertalikan dengan elan dan dengan penggunaan kekuasaan yang tidak mengindahkan moral di pihak para pemimpinnya, melainkan khususnya dengan gema dan harapan dari massa yang diperas, yang tidak berkuasa. Manusia-manusia ini sudah mencari dan tetap mencari pembebasan dan perbaikan sosial dalam kebenaran-kebenaran mutlak komunisme.

Advertisement