Advertisement

Faktor utama yang membatasi kemungkinan variasi dalam cara berlaku perseorangan adalah kebudayaan itu sendiri. Ahli sosiologi Perancis yang terkenal, Emile Durkheim, menekankan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang berada di luar kemauan kita, di luar kemampuan perseorangan dan memaksakan kehendaknya pada para individu. Kita tidak selalu merasakan pembatasan- pembatasan kebudayaan itu, karena pada umumnya kita mengikuti cara-cara berlaku dan cara berpikir yang dituntutnya. Tetapi jika kita coba menentang pembatasan-pembatasan kebudayaan itu, kekuatannya menjadi nyata. Ada 2 macam pembatasan kebudayaan: pembatasan langsung dan yang tidak langsung. Tentu saja pembatasan-pembatasan langsung yang paling jelas. Misalnya, jika Anda mengenakan pakaian yang tidak biasa dalam kebudayaan Anda, Anda mungkin dijadikan bahan ejekan dan mungkin agak dijauhi dalam masyarakat. Tetapi kalau Anda hanya memakai sekedar kain cawat. Anda akan mengalami suatu tekanan kebudayaan yang lebih keras dan lebih langsung misalnya ditangkap karena memperlihatkan badan secara kurang sopan.

Walaupun bentuk-bentuk pembatasan-pembatasan kebudayaan yang tidak langsung kurang nyata dibandingkan dengan yang langsung, efeknya tidak kurang. Durkheim menulis: Saya tidak wajib berbicara dalam bahasa Perancis dengan orang-orang setanah air saya, ataupun mempergunakan mata uang yang berlaku, tetapi tidak ada jalan lain untuk saya. Jika saya mencoba mengelakkan hal yang perlu ini, usaha saya akan gagal sama sekali.  Dengan lain perkataan: Seandainya Durkheim memutuskan untuk berbicara dalam bahasa Serbo- Croatian dan bukan dalam bahasa Perancis, tidak ada orang yang akan menghalanginya. Tetapi tidak ada seorang pun yang akan memahaminya. Dan, sekalipun dia tidak akan dipenjarakan karena mencoba membeli bahan makanan dan minuman dengan mata uang Iceland, dia akan mengalami banyak kesulitan dalam membujuk pedagang-pedagang setempat untuk mau menjual bahan makanan kepadanya.

Advertisement

Dalam serentetan eksperimen mengenai konformitas atau persesuaian, Solomon Asch mengungkapkan hingga berapa jauhnya tekanan dari pembatasan sosial itu. Asch melatih sebagian besar dari sekelompok mahasiswa untuk dengan sengaja memberi jawaban-jawaban yang salah atas pertanyaan-pertanyaan mengenai perangsang visual. Seorang “subyek yang kritis”, yaitu seorang mahasiswa yang sengaja tidak dilatih, tidak menyangka bahwa peserta-peserta lain dari percobaan itu dengan sengaja akan memberi tafsiran yang salah atas perangsang visual yang disajikan pada mereka. Asch menemukan dalam sepertiga dari percobaan itu, subyek yang kritis itu secara tetap membiarkan pendapat-pendapatnya yang benar, diubah oleh pendapat orang lain yang nyata-nyata salah. Dan dalam 40% lagi dari percobaan-percobaan itu para subyek yang kritis kadang-kadang tunduk pada pendapat kelompok.

Namun adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan atau tekanan-tekanan sosial, tidaklah bercorak bahwa itu harus bertentangan dengan individualitas. Memang kadang-kadang tekanan sosial sering menghalang-halangi kita melakukan hal-hal yang sebetulnya ingin kita lakukan tetapi tidak berarti bahwa kepribadian kita yang unik senantiasa mengalah pada kemauan mayoritas. Malahan, dalam eksperimen-eksperimen Asch sebenarnya telah terungkap, bahwa sementara banyak individu mungkin sangat terpengaruh oleh pendapat sepakat yang secara umum dikemukakan oleh suatu kelompok orang-orang lain, namun perorangan-perorangan yang memang mempunyai pendirian bebas (kira-kira seperempat dari jumlah subyek-subyek kritis) tetap mempertahankan pendapat-pendapat mereka yang bebas, sekalipun mereka sama sekali ditentang oleh pendapat mayoritas. Karena itu tidak mungkin rasanya, bahwa pembatasan-pembatasan kebudayaan sama sekali menghilangkan kepribadian perseorangan.

Incoming search terms:

  • pertanyaan tentang pembatasan kebudayaan
  • pembatasan budaya
  • pembatasan kebudayaan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pertanyaan tentang pembatasan kebudayaan
  • pembatasan budaya
  • pembatasan kebudayaan